Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Malam Pertama


__ADS_3

...Happy Reading 🥰...


Layaknya kamar pengantin pada umumnya, kamar hotel yang sudah disiapkan telah dihias sedemikian rupa. Aroma mawar dan lilin aromaterapi menguar begitu saja saat keduanya memasuki kamar tersebut.


Azalia tampak ragu untuk masuk lebih dalam, ia memilih berdiri sambil menunduk yang hanya berjarak beberapa langkah dari pintu kamar. Bagaimanapun, ini adalah pertama kalinya ia berada dalam satu kamar bersama seorang lelaki walaupun lelaki itu adalah suaminya sendiri.


"Malam ini saya akan tidur di kamar sebelah. Kamu bebas menggunakan kamar ini. Jangan pernah berharap bahwa pernikahan ini layaknya pernikahan pada umumnya." Ucapan Alham memecah keheningan yang menyelimuti mereka berdua setelah beberapa saat hanya diam dengan pikiran masing-masing.


Azalia hanya diam dan menatap pada mata elang dari Alham. Bingung mau berkata apa, ia lantas mengangguk.


"Satu lagi. Kamu tanda tangani surat perjanjian ini. Di dalamnya bukan hanya keuntungan buat saya. Tapi, jiga buat kamu. Pernikahan ini hanya akan berjalan selama setahun, setelah itu oita berpisah. Kamu tidak mencintai saya, begitupun sebaliknya." Alham menyodorkan sebuah map berwarna merah kepada Azalia.


Dengan ragu ia mengambil dan membacanya. Kata demi kata Azalia coba pahami. "Pihak pertama adalah Bapak dan saya pihak kedua?" tanya Azalia masih terus membaca deretan kata tersebut.


"Iya."


"Pernikahan hanya akan berlangsung selama setahun dengan ketentuan sebagai berikut. Satu, pihak dua tidak boleh mencampuri urusan pihak satu. Pihak satu maupun dua bisa memiliki kekasih, tetapi jika di depan keluarga harus terlihat layak pasangan pada umumnya. Tertanda, pihak satu Alham Adijaya. Pihak kedua Azalia Atmadja." lirih Azalia membaca. "Hanya itu saja?" tanyanya bingung.


"Iya. Kamu maunya bagaimana? Saya hanya ingin bebas. Kmu pasti juga menginginkannya, terlebih kamu masih mencintai mantan kamu itu. Lebih baik cepat tanda tangan, biar semuanya selesai," tutur Alham datar.


Meskipun ragu, Azalia tetap membubuhkan tanda tangan di kertas putih tersebut. Sebenarnya, ia ingin mencoba menerima pernikahan ini. Namun, suaminya itu enggan untuk melakukan hal tersebut.


Setelah map itu berpindah tangan kembali, Alham lantas keluar dan menuju kamar sebelah di mana sudah ia pesan sebelumnya.

__ADS_1


Keluarga keduanya memilih untuk pulang karena jarak yang tak terlalu jauh.


Azalia menatap kosong pada kelopak-kelopak bunga mawar yang tersusun rapi membentuk sebuah hati di atas tempat tidur. Dua buah handuk berbentuk angsa pun turut menghiasi. Seharusnya, malam ini adalah malam kebahagiaannya. Nahas, ia ditinggal sendirian oleh suaminya.


Malam pertama yang mungkin saja akan diisi dengan sebuah obrolan agar saling mengenal, kini hanya sebuah sepi tak bertepi. Azalia meringkuk di atas kasur dengan air mata yang berderai. Ia tak lagi mengganti pakaiannya, hatinya benar-benar hampa. Ia hanya bisa menggumamkan nama seseorang hingga alam mimpi menjemput dirinya.


***


Seorang lelaki yang masih mengenakan pakaian formal khas pengantin terlihat tengah menatap sebuah map berwarna merah yang di dalamnya terdapat kertas yang sudah dibubuhkan tanda tangan.


"Saya tidak bisa menjerat kamu untuk tetap berada di sisi saya, Azalia. Hati kamu hanya untuk Rafka dan hati saya juga bukan untuk kamu. Bertahanlah, ini hanya akan berjalan selama setahun. Maaf, jika setahun ke depan kamu akan tersakiti. Ini demi kebaikan kita bersama," gumam Alham, lalu ia merebah tanpa melepaskan baju pengantin yang membalut tubuh kekarnya.


***


"Mataku bengkak. Pasti karena semalam. Sudahlah, lebih baik aku salat saja untuk meminta petunjuk dari Allah," gumam Azalia.


Perempuan yang baru berganti status menjadi istri itu menuju kopernya dan mengambil pakaian, lalu membersihkan tubuhnya di kamar mandi.


Setelah membersihkan diri, Azalia kemudian menggelar sajadah. Menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba. Berkomunikasi dengan sang pencipta lewat gerakan salat yang sederhana. Untaian demi untaian doa terucap dari bibir yang tipis.


Air mata turut mengiringi keluh kesah dari perempuan rapuh tersebut. Seharusnya, ini menjadi salat pertamanya bersama sang suaminya. Namun, apa daya pernikahannya hanya sebatas di atas kertas saja.


Azalia tak menampik rasanya terhadap Rafka masih sangat besar, tetapi Rafka dulu sering membawanya ke acara kajian-kajian agama. Dari sanalah ia mengetahui bahwa seorang istri wajib mencintai suaminya. Menikah bukan dengan siapa yang kamu cintai bukan sebuah kewajiban, tetapi mencinta siapa yang kamu nikahi itu adalah kewajiban yang sesungguhnya. Kalimat itulah yang akan Azalia terapkan dalam pernikahannya walaupun hanya setahun ke depan.

__ADS_1


***


Suasana restoran di hotel berbintang itu tak terlalu ramai. Sepasang pengantin baru duduk saling berhadapan sambil menunggu pesanan tiba. Keduanya sarapan terlebih dulu sebelum meninggalkan gedung bertingkat tersebut.


"Hari ini kita akan ke rumah kamu mengambil pakaian, setelahnya kita rumah orang tua saya untuk pamit," ujar Alham datar.


"Pamit? Memangnya kita akan tinggal di mana, Pak?" tanya Azalia.


"Nanti juga kamu akan tahu. Sekarang, makanlah!" titah Alham saat pelayan telah menghidangkan makanan.


Azalia tak banyak bertanya, ia masih cukup trauma berkomunikasi banyak setelah kejadian yang membuat keduanya bersatu dalam ikatan pernikahan palsu ini.


Ya, Azalia menyebut pernikahan palsu karena hanya sebatas di atas kertas. Bukankah pernikahan palsu cocok untuk mendeskripsikannya?


...to...


...b...


...e...


...continue...


..............

__ADS_1


......🥰🥰🥰......


__ADS_2