
...Happy Reading Guys 🥰🥰...
tok! tok! tok!
"Siapa?" tanya Azalia.
Saat ini, ia sedang berdiri di depan jendela, menikmati panorama alam di Pulau Bunaken.
"Aku," sahut orang dari luar.
"Masuk saja."
Azalia bersedekap sembari terus menatap kilauan dari birunya laut. Ia masih diambang kebimbangan, haruskah ia memberikan sang suami kesempatan kedua atau tidak.
Ia terjingkat saat ada sepasang tangan kokoh memeluknya dari belakang. "Mikirin apa, sih?"
"Mikirin rumah tangga kita," jawab Azalia.
Alham mendesah dan melepaskan pelukannya, lalu berdiri di samping sang istri dan menatap lurus ke depan. "Tidak usah dipikirkan. Kalau kamu menginginkan perpisahan, aku akan mewujudkannya."
"Maksud kamu?" Azalia menoleh ke samping, menatap Alham yang bergeming pada posisinya.
"Bukankah itu yang kamu mau?" Alham menoleh dengan sorot penuh kelembutan. Tatapan keduanya terkunci untuk beberapa saat, sampai ia melanjutkan perkataannya. "Aku tidak ingin berdebat untuk hal ini. Semua sudah jelas, begitu kita sampai di Jakarta, aku akan mengajukan permohonan perceraian di pengadilan. Kamu akan bebas dan bisa menemukan kebahagiaan kamu sendiri. Semua salahku, kamu berhak bahagia dengan orang yang kamu cintai."
Alham tersenyum, senyum yang mampu membuat hati Azalia semakin bimbang dan sakit secara bersamaan, bahkan sekarang ia telah menangis. "Kamu pasti menangis karena bahagia. Iya, 'kan? Sudah, hapus air matanya, nanti dikira orang aku KDRT lagi." Alham menghapus air mata sang istri dengan ibu jarinya.
"Kalau kamu sudah siap, kita akan berangkat sekarang ke pelabuhan. Kita menunggu saja di sana, ayo."
Alham berbalik dan hendak melangkah, tetapi Azalia tiba-tiba memeluknya dari belakang dengan begitu erat. Isakannya semakin kencang. "Maafkan aku yang egois. Kita … kita mulai semuanya dari awal," ucapnya terbata.
__ADS_1
Sedikit kaget, tetapi Alham ingin menguji istrinya. "Tidak, Azalia. Keputusan aku sudah bulat, mungkin benar kata kamu. Kita … sebaiknya berpisah. Kamu berhak bahagia," tutur Alham.
Alham merasakan gelengan di balik punggungnya dan kemejanya semakin basah. "Aku akan memberikan kamu kesempatan jangan ceraikan aku. Kota mulai semuanya dari awal."
Merasa tak tega, ia pun berbalik dan merengkuh tubuhnya sang istri penuh sayang. Ia tersenyum. Senyum yang sempat pudar karena pernah merasakan ditinggal nikah oleh orang tercinta. Namun, sekarang di hatinya hanya ada Azalia, istri sahnya.
"Terima kasih. Aku akan menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Maafkan aku yang juga egois." Alham terus mencium pucuk kepala serta sesekali mengusap lembut bahu istrinya.
"Sudah, kamu nggak salah. Jangan meminta maaf terus," ucap Alham saat Azalia terus menggumamkan kata maaf dari dalam pelukannya.
***
Setelah beberapa lama berada di atas kapal dan juga mobil. Kini, sepasang suami istri telah berada di Bandara Sam Ratulangi, Manado.
Azalia merasa bahagia dan juga tersipu secara bersamaan. Bagaimana tidak, sejak dari penginapan tangannya tak pernah dilepas oleh sang suami.
Sebenarnya, bisa saja mereka mengambil jalur cepat, tetapi Azalia ingin seperti pengunjung lain yang tidak terlihat mencolok. "Nanti saja, deh. Oh, iya, kayaknya kita selama di Pulau Bunaken nggak pernah telepon orang tua."
"Memangnya kamu nggak pernah telepon?" tanya Alham yang dijawab gelengan oleh Azalia.
"Kamu nggak telepon juga? Eh, aku lupa. Kamu, kan teleponnya ke dia," sindir Azalia.
"Mana ada. Dia juga yang menelepon aku lebih dulu. Sudah jangan mulai, aku akan mengakhiri hubunganku dengan dia. Kamu tenang saja. Sekarang, telepon Mama, coba."
Azalia mengangguk dan mengambil ponselnya. Sementara, Alham terus memperhatikan sang istri.
"Halo, assalamu'alaikum, Ma," sapanya begitu telepon tersambung.
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Kamu apa kabar?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, baik, Ma. Mama gimana kabarnya?" tanya Azalia.
"Alhamdulillah, Mama baik. Gimana liburannya? Menyenangkan? Alham menjaga kamu dengan baik, 'kan?" Pertanyaan dari mama mertuanya membuat ia menoleh ke samping dan menatap sang suami yang sedang memasang ekspresi pasrah.
Azalia tahu arti dari ekspresi itu. Ia takan tega mengatakan yang sebenarnya. Biarlah itu tersimpan rapat di benak mereka. "Dia baik, Ma. Dia memperlakukan aku sangat baik. Aku bahagia bisa memiliki suami seperti anak Mama," jawab Azalia sembari memegang pipi sang suami.
"Tapi, Ma. Kita hari ini pulang, sekarang lagi berada di Bandara Sam Ratulangi, Manado. Aku pengen cepat pulang, kangen sama Mama, Papa Bayu, juga Papa Rusdi." Azalia memang merindukan sang ayah yang belum pernah ia temui semenjak menikah dan pisah rumah.
"Mama juga kangen sama kamu, Sayang. Ya, sudah, kalian hati-hati. Mama akan menunggu di rumah kalian. Sampai jumpa, Sayang."
"Sampai jumpa." Panggilan terputus saat keduanya saling menjawab salam.
"Mama jahat, anak sendiri nggak kangen," gerutu Alham.
"Terima nasib aja," celetuk Azalia sembari terkekeh.
"Oh, iya, kenapa kamu harus bohong ke Mama? Aku tadi sudah berpikir kamu akan mengatakan semuanya."
"Sandiwaranya harus tetap berlanjut, bukan?" Alham memasang ekspresi datar seketika dengan jawaban istrinya. "Tembok menangis melihat wajah kamu, soalnya kalah datar." Azalia tertawa lepas membuat Alham semakin terpesona dengan kecantikan istrinya. Hanya dengan polesan bedak dan lipstik yang tipis saja, mampu mengeluarkan aura kecantikannya.
"Nggak gitu, kok. Cuma, biarkan itu menjadi rahasia kita dan biarkan itu tetap berada di masa lalu. Kita tatap masa depan tanpa ada gangguan dari masa lalu," tutur Azalia setelah tawanya berhenti.
Sementara, Alham langsung memeluk istrinya dengan sayang. Tak peduli dengan tatapan orang-orang yang jelas ia bahagian untuk saat ini.
...to be continued ..........
*yey, akhirnya mereka bisa saling menerima juga🥳🥳
Jangan lupa tinggalkan jejak, ya😘*
__ADS_1