
...Happy Reading Guys 🥰...
...----------------------------------...
..."Ikhlas itu tidak langsung....
...Ada fase tersakiti, terpaksa, lalu terbiasa."...
Empat hari terlewati, tiada waktu tanpa temu lewat panggilan video. Berbeda lima jam membuat keduanya harus pintar mengatur waktu.
Rindu belum usai karena terhalang jarak yang membentang teramat panjang. Hangat dekap sang pujaan teramat didamba. Namun, bayang semu diseduh dalam secangkir kopi yang masih mengepulkan asap dan itu harus ditelan walaupun sulit.
Dari meja yang berada berada di sudut kafe, seiris pupil hitam milik Alham bertemu dengan sepasang pandangan dan terkunci beberapa saat sampai deheman ia keluarkan dan memilih mengobrol kembali dengan sahabatnya.
"Ah, rasanya ingin segera pulang," celetuk Alham.
"Kayaknya aku ketinggalan berita, nih," timpal Raja.
Keduanya mengobrol tanpa beban. Sementara, di satu sisi Rafka yang tak sengaja melihat mantan dosennya berusaha menahan segumpal daging dalam dadanya yang terasa dikoyak-koyak karena masa lalu.
Selirih pedih tiba-tiba hadir menusuk relung hati Rafka. Ia yang mulai terbiasa hidup tanpa mantan kekasihnya seketika kembali pada bayang kenang masa lalu. "Bengong aja." Tepukan di pundaknya membuat ia terjingkat kaget.
"Eh, Bang."
"Dari tadi aku panggil juga. Ayo, gabung di meja sana. Kebetulan mereka orang Indonesia." Genggaman tangan yang begitu kuat menarik membuat Rafka tak bisa melawan.
Ilyas yang dari toilet tak sengaja mendengar obrolan singkat antara Alham dan Raja. Ia tak tahu saja, bahwa Alham adalah adik iparnya dan rival dari Rafka.
Sembilu kembali mengiris hati yang dulu remuk. Sebuah keikhlasan mungkin akan terucap, tetapi tidak dengan perasaan. Rafka mencoba meredam kisah kelam yang terbayang di pelupuk mata. Ikhlas hanyalah dusta yang ia ucapkan sebagai penawar dari perihnya sembilu menggores pilu.
__ADS_1
"Hai, Rafka. Apa kabar?" tanya Rafka seraya berjabat tangan.
Uluran tangan dari suami mantan kekasihnya terpaksa ia terima, meski di dalam dada berkobar rasa perih tak terkira. Ada yang meluap-luap meminta untuk menguap keluar dari labirin menyesakkan yang selama ini tertutup. Bibirnya kelu bahkan hanya untuk sekadar berucap baik.
Sebuah tepukan di bahunya menarik ia kembali keluar dari bayang-bayang masa lalu. "Oh, iya. Saya baik," balasnya.
Ia kemudian beralih berjabat tangan dengan Raja—sahabat sekaligus asisten Alham—seraya tersenyum canggung.
"Kalian saling kenal?" Ilyas bingung, pasalnya ia tak mengetahui bahwa dua orang di depannya adalah masa lalu dan masa depan adiknya.
"Iya, Rafka ini mantan mahasiswa saya. Nggak nyangka bisa ketemu di sini," jawab Alham.
"Benar. Tadi saya pikir bukan orang Indonesia. Tapi, setelah mendengar bahasanya jadi tahu. Jadi, saya pikir kita satu meja dan berkenalan mungkin akan lebih bagus." Ilyas berujar seraya menyeruput kopinya yang telah dingin.
Setengah jam terasa lama bagi Rafka. Ia diam dan menimpali obrolan antara tiga lelaki di depannya dengan singkat.
"Saya angkat telepon dulu." Alham meminta izin dan segera menjauh saat mendapat anggukan dari mereka.
Haruskah ia meneriakkan rasa sakit yang menggerogotinya ketika bertemu Alham? 'Kenapa rasanya masih sakit, Ya Allah?' tanyanya dalam hati. Tak tahan dengan letupan-letupan rasa sakit, ia pamit undur diri lebih dulu.
Ia menengadah, menatap titik-titik salju yang jatuh mengenai tubuh rapuhnya. Cairan bening lolos dari balik pelupuk matanya. Ada sejuta kata yang tak mampu terucap, ada sejuta rasa yang tak mampu terungkap, dan ada sejuta kenangan yang tak mampu terulang. Sakit harus tetap dinikmati meskipun harus dalam labirin sepi tak berpenghuni.
Rafka sadar, terlalu dalam ia menyelam dalam lautan cinta yang ia buat sendiri. Mengejar satu nama yang tertancap di dasar, tetapi ia tak sekuat karang. Satu nama yang ia pikir akan menjadi mutiara, nyatanya kini menjelma duri di tepi hati dan menusuk dengan kejam.
Kini, cintanya tak lagi bisa digenggam meski hanya sebatas masa silam. Kenangan manis menjadi kelam bersama malam-malam lalu yang berbalut selimut harapan hampa. Cintanya telah benar-benar berpaling dan tak ada lagi kata saling.
...***...
Dewi malam menyapa, tetapi salju di luar seolah tak ada kata lelah untuk saling berebut agar bisa sampai di tanah.
__ADS_1
Dua lelaki berbeda usia berada dalam kamar yang sama. Perubahan tampak jelas di mata Ilyas saat Rafka pamit pergi lebih dulu. Rafka seolah tak ada semangat. "Ka, kamu kenapa jadi diam begini?" tanya Ilyas.
"Nggak apa-apa, Bang. Aku hanya sedikit kurang enak badan," sahut Rafka.
"Sudah minum obat?" Rafka mengangguk lemah.
Malam ini, ia memilih untuk menginap karena malas untuk kembali ke rumah. Ia ingin ada yang menemaninya dalam menikmati setiap luka yang tak kasat mata.
Tidak ada yang abadi di dunia, selain cinta dari Sang Pencipta, bahkan cinta yang ia sematkan atas nama Azalia Atmadja harus dilepaskan karena takdir yang memisahkan. Terlalu sakit memang mengikhlaskan orang yang teramat dicinta bersanding bersama lelaki lain.
"Rafka, sebenarnya ada apa antara kamu sama Alham? Abang lihat kamu seperti tidak nyaman sampai pulang lebih dulu. Ceritalah, Abang akan membantu kamu sebisa Abang," tutur Ilyas.
Rafka yang percaya akhirnya menceritakan siapa Alham dan ada apa di antara mereka. "Dia bukan hanya mantan dosen aku, Bang. Tapi, dia adalah suami dari mantan kekasih aku." Napas Alham terasa tercekat di tenggorokan. Ia berusaha menyelesaikan kalimat itu dengan susah payah.
"Maaf, Abang tidak tahu. Maaf, karena Abang kmu jadi harus kembali terbayang masa lalumu, Ka."
"Abang tidak salah. Akulah yang salah karena masih menyimpan cinta ini rapat-rapat untuk wanita yang telah bersuami. Aku masih asyik berlari mengejar bayang semu yang ada depan mata, padahal dia telah jauh di belakang karena kutinggalkan. Sakit ini adalah konsekuensi dari optimisku yang masih mengharapkan bahwa cintanya benar-benar hanya untukku. Jangan menyalahkan diri sendiri karena ini murni kesalahanku, Bang," ucap Rafka panjang lebar dengan nada suara sumbang.
Rafka memilih untuk memejam dan mencoba merajut kepingan perih yang masih terasa dalam mimpinya. Sementara, Ilyas tak lagi banyak berkata dan membiarkan lelaki lebih muda beberapa tahun darinya itu terbuai dalam tidurnya.
'Ya Allah, jadikan sakitku sebagai kebahagiaan kelak walaupun hanya dalam mimpi. Jadikan, aku manusia tegar akan takdir yang tak kutentang ini. Kuyakini rencana-Mu lebih baik daripada rencanaku. Biarlah dia dengan kebahagiaannya dan aku dengan rasa sakit yang tak kutahu kapan akan berlalu,' doa Rafka dalam hati.
Ia akhirnya hanyut dalam lelap dan berharap ketika bangun sakit yang melanda hatinya hanyalah sebuah mimpi.
...to be continued .......
Makasih untuk yang masih stand by di cerita ini.
Cerita ini hanya hasil gabut, jadi nikmati saja alurnya.
__ADS_1
MUNGKIN beberapa part lagi akan benar-benar tamat. Baru mungkin ya, karena semua tergantung ide yang munculðŸ¤
Sehat selalu kalian🥰