Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Ngambek Lagi


__ADS_3

author kembali lagi guys😘


maaf, beribu-ribu maaf author ucapkan karena jarang update 🙏🏻


atas pengertian dari alasan author jarang update, author ucapkan terima kasih 🙏🏻


...Happy Reading 🥰🥰...


Udara kota Jakarta terbilang buruk akibat polusi yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor, bahkan akibat dari banyaknya kendaraan membuat ibukota dari negara Indonesia itu sering macet di hampir tiap jalannya.


Kendaraan beroda empat milik Alham melaju membelah jalanan ibukota. Ia yang duduk di kursi kemudi terus menoleh ke samping melihat garis wajah yang begitu cantik untuk ia pandang.


"Kenapa lihatin aku gitu?" tanya Azalia karena merasa sedang diperhatikan.


"Kamu cantik," pujinya. "Tapi, kamu malah kurusan aku lihat setelah kita menikah. Maafkan aku, ya. Aku janji setelah ini kamu maunya apa kasih tahu saja dan jangan dipendam sendiri. Ok?" sambungnya seraya meraih tangan sang istri


Azalia tersenyum. "Aku sudah maafin kamu, kok. Aku sengaja diet," ucapnya.


"Aku nggak percaya. Tapi, mulai sekarang kamu nggak boleh diet lagi. Makan harus teratur dan nggak boleh makan sembarangan apalagi mi instan. Aku sering lihat kamu kalau tengah malam ke dapur hanya untuk makan mi itu, padahal di rumah nggak ada stoknya. Apa kamu menyetok di kamar?" tanya Alham.


"Iya. Nggak apa-apa, kok. Aku sudah terbiasa."

__ADS_1


"Walaupun begi–"


"Iya, iya. Aku nggak akan makan mi instan lagi kecuali kamu mengizinkan." Perempuan bermata bulat itu langsung memotong ucapan suaminya karena ia tahu apa yang akan terucap dari bibir pria berkemeja hitam tersebut.


Alham merasa gemas dan mengacak rambut istrinya. Hal itu membuat Azalia geram dan menghempaskan tangan suaminya. Ia yang tak ingin berdebat hanya bisa menggerutu dan bibirnya komat-kamit, membuat Alham tertawa terbahak-bahak.


"Fokus nyetirnya bukan malah ketawa," kesal Azalia.


"Iya, Sayang. Aku fokus ini, fokus ngelihatin kamu," goda Alham.


"Apaan, sih." Azalia berusaha menutupi wajahnya yang merona dengan menatap ke luar melalui kaca mobil di sampingnya. Sementara, Alham tersenyum akan hal itu.


Hari ini, akan ia jadikan sebagai hari yang paling berkesan untuk sang istri. Apapun yang dikatakan istrinya, akan ia turuti yang penting senyum manis Azalia terus terpampang di bibir tipisnya.


Setelah beberapa saat melewati jalanan yang cukup lengang, akhirnya pasangan suami istri itu tiba di sebuah bangunan ruko berbentuk minimalis, karena telah direnovasi oleh seseorang yang tak diketahui oleh pemiliknya.


Azalia menatap heran pada bangunan di depannya, bahkan ia juga mengamati sekitar. "Kamu kenapa?" tanya Alham yang telah berdiri di sampingnya.


"Kamu nggak salah alamat, 'kan? Ini beneran toko aku bukan, sih?" Azalia masih terheran-heran.


Bagaimana tidak, bangunan tokonya tak sebagus ini. Memang ia jarang ke toko karena lebih memilih ke panti asuhan tanpa sepengetahuan siapapun, kecuali Rafka karena memang mantan kekasihnyalah yang sering membawa ke sana.

__ADS_1


"Nggak, kok. Kenapa? Ada yang salah?" tanya Alham lagi, lalu mengikuti arah pandang Azalia. "Ini alamat toko kamu, Sayang," sambungnya.


Azalia merasa tersipu dengan panggilan Alham. Ia kemudian berdehem untuk menghilangkan rasa canggung. "Jangan bercanda, deh. Alamatnya memang seharusnya di sini. Tapi, kenapa bangunannya berubah? Apa aku bangkrut dan teman-teman aku tidak memberitahu?" Ia mulai berkaca-kaca memikirkan yang bukan-bukan.


"Azalia, lihat aku. Ini toko kamu, teman-teman kamu ada di dalam. Toko ini sekarang resmi menjadi punya kamu karena Papa yang beli. Katanya kamu menyewa bangunan ini karena pemiliknya tidak mau menjual. Tapi, Papa kamu sudah membelinya dan merenovasi bangunan ini," tutur Alham.


Ia merasa ada sejuta perasaan yang tak bisa diungkapkan melalui kata-kata karena memiliki istri seperti Azalia. Hatinya sangat rapuh meskipun Azalia berusaha terlihat kuat. Hatinya lembut selayaknya kapas, jiwa sosial wanita di depannya pun sangat tinggi.


"Tapi, terakhir aku datang ke sini waktu ajak teman-teman jalan-jalan. Masa secepat itu direnovasi? Kita bahkan di Pulau Bunaken tiga hari. Dalam kurun waktu tersebut Papa bisa menyelesaikan semuanya?" cecar Azalia.


"Tanyakan itu sama Papa. Aku juga baru dikasih tahu sama asisten aku kalau toko kamu direnovasi. Dia kasih tahu sehari sebelum kita berangkat."


"Dan kamu nggak ngasih tahu aku?! Jahat kamu!" Azalia langsung pergi meninggalkan Alham tanpa mendengarkan penjelasan apapun.


"Astaga, ngambek lagi? Apa semua perempuan seperti ini?" gumam Alham.


Ia yang masih asyik dengan pikirannya kaget karena teriakan sang istri. "Bawain oleh-olehnya!"


Alham menghela napas kasar, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Sabar, sabar. Bocil lagi sensitif," gumamnya lagi dan langsung mengikuti perintah yang diberikan.


......to be continued ...........

__ADS_1


ok segitu dulu ya🙏🏻😘


terima kasih sebelumnya yang sudah mensupport author, jangan lupa tinggalkan jejak😘


__ADS_2