Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Kecelakaan


__ADS_3

Happy Reading Guys 🥰


..."Kebodohanku adalah menyakitimu sedemikian rupa. Namun, maafmu selalu tulus. Akulah penyebab kita harus berpisah untuk selamanya."...


...-Alham Wijaya-...


Seorang perempuan bermata bulat tampak asyik menikmati kilauan jingga di langit biru dari balkon kamar yang berada di lantai dua. Sesepoi angin membelai sendu jiwa yang tengah gamang.


Azalia merentangkan kedua tangannya seraya mendongak menutup mata. Menikmati belaian lembut sang bayu sampai tak sadar, bahwa telah ada seseorang di balik punggungnya yang tengah mengulum senyum.


Ia terjingkat saat sepasang tangan melingkari perutnya. Wajahnya menoleh ke samping dan sesaat itu juga ia bahagia sekaligus bingung. Benarkah lelaki yang memeluknya adalah sang suami? Begitu pikirnya.


"M–Mas?" Azalia tergagap.


"Iya, Sayang," balas Alham.


"Ini beneran kamu?" Azalia masih dalam mode bingungnya.


"Jadi, siapa? Hantu? Orang seganteng ini masa hantu," kelakar Alham.


Sebuah kecupan singkat di pipi Azalia tak bis menahan munculnya rona merah yang bersemu. Alham kemudian menjelaskan bahwa pekerjaannya telah selesai dan sengaja pulang tanpa memberi kabar karena ingin memberikan kejutan.


Azalia merasa senang kemudian berbalik dan memeluk sang suami penuh kerinduan. Keduanya berpelukan dengan latar senja yang kian memukau. Menanti malam yang dipenuhi hamparan gemerlap bintang.


...***...


Impian suami istri adalah hidup berdua membina rumah tangga sejak dini. Termasuk Alham dan Azalia.


Malam ini udara tak lagi sedingin kemarin sebab kehangatan dari dekapan sang pujaan Azalia dapatkan. Keduanya memilih pulang dan menikmati waktu berdua.


"Mas, aku ingin tanya sesuatu sama kamu," ucap Azalia tiba-tiba.


"Tanya apa?"


Keduanya tengah berada di tempat tidur, bercerita sebelum akhirnya berlabuh dalam arus mimpi masing-masing.


"Kamu ingin punya anak?"


"Ingin, usiaku sudah sepantasnya punya anak. Tapi, aku tidak ingin memaksa kamu, Sayang. Aku tidak mau kamu menjadi terbebani karena keinginan aku." Alham mengulas senyum seraya mengusap pipi lembut istrinya.


"Aku ... bersedia dengan ikhlas memberikan hak kamu, Mas. Aku juga tidak bisa egois terus menerus," lirih Azalia penuh rasa sesal.

__ADS_1


"Apa kamu sudah mencintai aku, Azalia Atmadja? Aku tidak ingin melakukannya jika bukan atas dasar cinta."


"Aku mencintai kamu, Mas. Jauh sebelum kamu mencintai aku."


Bagai ada sebuah semarak di hati Alham mendengar ucapan Azalia. Kali ini ia telah benar-benar jatuh. Ya ... jatuh ke dasar lembah cinta untuk sang istri. Cinta yang telah lama ia bangun lebih dulu sebagai fondasi rumah tangganya dan saat ini, fondasi itu semakin kuat karena telah bekerja bersama.


Malam semakin larut, sunah yang seharusnya dilakukan sejak dulu tertunda hanya karena keegoisan masing-masing. Namun, kini keduanya telah benar-benar menjadi suami istri ada umumnya. Merajut kebahagiaan dan berusaha menguatkan kata saling di antara mereka.


Bulan yang bertengger di langit gelap serta hamparan bintang menjadi saksi sepasang anak adam yang tengah dimabuk asmara.


"Sayang, Mas tuh ketemu Rafka waktu di Belanda."


Keduanya saling berpelukan dalam keremangan lampu tidur yang menyinari kamar mereka.


Azalia mendongak menatap sang suami. "Lalu?"


Sebelah alis Alham meninggi mendengar respon Azalia. Seharusnya Azalia semakin penasaran karena telah lama ia tak melihat Azalia berkomunikasi dengan mantan mahasiswanya.


"Dia sepertinya masih belum bisa melupakan kamu. Mas minta tolong sama kamu, jangan tinggalkan Mas, ya? Kalau ada yang tidak kamu suka bilang, jangan memendam," tutur Alham lembut.


"Mas, dia itu masa lalu aku. Masa sekarang dan masa depan aku itu kamu. Kita saling melengkapi saja, Mas. Bimbing aku, tegur aku juga jika salah," terang Azalia.


...***...


Seminggu berlalu, siang ini Azalia ingin memberikan kejutan dengan mengantarkan makanan kepada sang suami. Ia hanya singgah sebentar di tokonya kemudian melaju dengan sepeda motor di antara padatnya jalanan ibukota.


Hati kecilnya teramat bahagia membayangkan wajah sang suami tersenyum menyambut kedatangannya di kantor. Ia berharap, hak sekecil ini bisa menambah kuatnya ikatan cinta di hati Alham.


Sepanjang perjalanan, ia tak henti-henti mengulas senyum meski di antara kemacetan yang begitu parah. Menanti dengan sabar walaupun terik matahari terasa menyengat membakar kulit ditambah dengan suara bising kendaraan lain serta polusi bertebaran di mana-mana. Bukan tak mampu naik taksi, tetapi ia hanya ingin cepat sampai.


Sekitar dua puluh menit berkendara, akhirnya Azalia sampai pada bangunan tinggi yang menjulang. Para karyawan yang mengetahui istri dari bos datang segera menunduk memberi hormat.


"Jangan seperti itu. Kalian terlalu berlebihan," ucap Azalia saat ia berada di meja resepsionis.


"Maaf, Bu. Tapi, itu sudah menjadi kewajiban kami yang bekerja di sini. Ibu mau bertemu Pak Alham bisa langsung ke atas saja atau mau ditemani?" tawar resepsionis itu.


"Boleh jika kalian tidak sibuk. Tapi, Pak Alham ada, 'kan? Atau lagi di luar mengingat sekarang sudah jam setengah satu," ucap Azalia melihat jam di tangannya.


"Pak Alham masih berada di ruangannya untuk saat ini, Bu. Ibu bisa ke atas di antar sama OB itu," tunjuk resepsionis itu pada OB yang baru saja lewat.


Langkah pasti Azalia membawanya menuju ruangan di mana sekarang yang ia tahu, suaminya masih di sana. Senyum yang semakin mengembang menandakan bahwa ia benar-benar tak sabar untuk segera bersua dengan sang suami tercinta.

__ADS_1


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia langsung membuka pintu ruang Alham setelah ditinggal oleh OB. Betapa kagetnya Azalia melihat pemandangan di depannya yang sangat menyesakkan dada sampai-sampai tangannya tak kuat menahan rantang yang ia pegang.


Alham sang suami, terlihat seperti tengah berciuman bersama seorang wanita yang teramat familier di mata Azalia. Air matanya luruh seiring dengan rasa sakit yang teramat mengantam dadanya.


Sementara itu, Alham yang mendengar bunyi gaduh berasal dari pintu segera mendorong wanita yang berdiri di depannya dengan kasar dan melihat siapa yang menimbulkan suara itu.


"Sayang," lirih Alham.


Lelaki berkemeja hitam itu kaget melihat istrinya berdiri mematung di ambang pintu seraya menangis. Makanan berhamburan di lantai.


"Sayang, dengarkan aku. Ini nggak seperti yang kamu kira. Aku bisa jelaskan semuanya." Alham mendekat, tetapi tangan Azalia terangkat pertanda agar Alham diam.


Ia menatap Alham dengan sorot penuh kekecewaan. Ia tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi sebelumnya. "Sejak kapan?" Ia melirih masih dengan tatapan yang sama.


"Sayang, apanya yang sejak kapan. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia." Alham berusaha mendekat. Namun, tatapan tajam ia dapatkan dari istrinya sehingga ia memilih diam kembali.


Azalia beralih menatap perempuan di depannya. Pakaian yang ketat dengan rok di atas lutut, serta bagian atasan yang sedikit terbuka membuatnya memejam dengan kuat. Betapa hancur hatinya, membayangkan sang suami melakukan hal yang tidak-tidak dengan perempuan yang kini menyorotnya dengan tatapan meremehkan.


Tak tahan lagi, ia berlari keluar dan menyusuri jalanan dengan derai air mata yang tiada henti. Cintanya, harapannya, telah hancur. Ia teringat Rafka saat itu.


Mungkinkah seperti ini yang dirasakan oleh lelaki itu dulu? Ditikam oleh benda tajam tak kasat mata dengan kejam. Merasakan garis-garis sembilu yang tak pernah habis mengoyak hati sampai Rafka memilih untuk menjauh. Banyak pertanyaan bersarang di benaknya tentang Rafka. Namun, tak berani ia ungkapkan.


Azalia yang diliputi perasaan hancur, tak peduli dengan sekitar. Kurangnya kehati-hatian membuat kecelakaan tak terhindarkan. Ia melayang sejauh empat meter dari tempat ia merasakan benturan keras di tubuhnya.


Alham yang melihatnya syok melihat sang istri menjadi korban tabrakan. Ia berlari mendekati istrinya yang berlumuran darah seraya berteriak dan menangis.


"Sayang, bangun. Jangan tinggalkan aku, aku mohon. Maafkan aku. Azalia bangun," Alham meraung seraya menepuk wajah sang istri yang kini matanya telah terpejam.


'Kebodohanku adalah menyakitimu sedemikian rupa. Namun, maafmu selalu tulus. Akulah penyebab kita harus berpisah untuk selamanya.' Rafka membatin menyesali apa yang terjadi di antara mereka sejak pertama menikah.


Langit seakan runtuh, gemuruh mulai terdengar bersamaan dengan awan mendung yang mengitari langit. Alham benar-benar hancur, ia tak tahu harus melakukan apa sebab telah harus kembali ke pangkuan Ilahi dengan cara yang tragis.


...to be continued ........


Ok, walaupun alurnya mungkin gaje.


tapi cerita ini tinggal satu part lagi akan tamat, ya.


makasih yang sudah support dan terus mengikuti cerita hasil gabut ini🥰


salam sayang buat kalian😘

__ADS_1


__ADS_2