Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Insiden di Rumah


__ADS_3

...Happy Reading Guys ๐Ÿ’...


Sudah beberapa hari Sesil menginap di rumah Azalia dan Alham. Azalia sendiri merasa risih karena Sesil yang selalu dekat dengan Alham. Sementara, Alham tampak biasa saja.


Seperti malam ini, ketiganya berada di ruang keluarga. Azalia duduk di kursi sofa. Sementara, Sesil dan Alham berada di bawah karena tengah menghadap ke satu objek yang sama, yaitu laptop milik Sesil.


"Kak Alham, gimana? Aku sudah capek, dosen pembimbing aku galak. Banyak maunya," Sesil mengeluh sambil bersandar di pinggiran sofa. Panggilan terhadap Alham pun telah berubah.


"Ya, kamu harus semangat, Sil. Dosen kamu galak, juga demi kebaikan kamu. Ayo, bangun mana lagi yang harus direvisi?" Alham menarik tangan Sesil lembut.


"Capek, Kak. Istirahat dulu, ya," bujuk Sesil.


"Mau cepat wisuda tidak? Kalau mau, ayo kita perbaiki skripsinya sekarang. Jangan menunda-nunda waktu. Saya tidak suka orang yang tidak disiplin sama waktu." Ucapan Alham seolah menyindir Azalia yang tengah fokus menonton TV. Ia menatap sang istri dengan ekor matanya.


Sesil yang paham pun ikut menimpali. "Kakak tenang saja. Aku orangnya disiplin, kok. Kakak harus sabar membimbing aku, ya."


Alham berdehem. Jauh dalam lubuk hatinya, ia tak ingin berdekatan dengan Sesil, tetapi rahasia itu harus tetap terjaga demi orang tuanya.


Ia harus sabar menghadapi gadis yang ia pikir agresif ini karena berani mendekatinya bahkan sampai mengancam.


Azalia yang tak tahan lagi, beranjak untuk pergi ke kamar. Selama Sesil menginap di rumahnya, ia harus sekamar dengan Alham karena permintaan laki-laki itu.


"Kamu mau ke mana?" tanya Sesil pura-pura polos.


"Aku mau tidur. Kenapa?"


"Aku boleh minta tolong, nggak? Buatin aku teh biar aku makin semangat ngerjain skripsi aku."

__ADS_1


"Boleh." Saat Azalia akan melangkah Sesil kembali mencegah. "Apa lagi?" tanya Azalia.


"Kak Alham mau kopi tidak? Kalau mau sekalian saja, biar dibuatkan sama Azalia," ucap Sesil menatap kakak iparnya.


Alham mendongak, menatap Azalia yang berdiri menunggu jawabannya. "Boleh." Hanya itu yang keluar dari mulut Alham.


Azalia hanya mengangguk, lalu pergi ke dapur. Sementara, Sesil tersenyum puas dalam hati. 'Ini baru permulaan. Gue akan pastikan, apa yang lo punya akan menjadi milik gue. Termasuk suami lo,' gumam Sesil dalam hati.


Setelah beberapa menit, Azalia kembali dengan nampan di tangannya. Di atasnya terdapat dua cangkir berisikan kopi dan teh, ada juga satu toples kecil berisi kue kering. Ia berinisiatif untuk memberikan mereka cemilan agar tak bosan.


Saat mendekati keduanya, Azalia tersandung oleh kaki Sesil yang memang sengaja melakukan hal itu. Alhasil, bawaannya berhamburan di karpet juga sebagian mengenai tangan Sesil.


"Sesil!" Alham begitu panik melihat Sesil yang terkena teh dan kopi panas yang dibawakan oleh Azalia.


Ia pun terkena cipratannya, tetapi tangan Sesil lebih parah bahkan saat ini telah merah. Ia langsung mengambil tisu untuk membersihkan tangan Sesil.


"Kamu ini bisa hati-hati tidak!?" bentak Alham. "Kalau sampai tangannya kenapa-kenapa kamu akan tahu akibatnya!" Alham kembali membentak sang istri.


Azalia yang dibentak langsung gemetar ketakutan. Air matanya begitu deras mengalir. "Aโ€“aโ€“aku nggak sengaja. Tadi, Sesil seperti sengaja," lirihnya.


"Kamu sudah salah mau memfitnah aku? Kamu pikir saja, mana ada orang yang mau mengorbankan tubuhnya untuk terkena air panas. Kalau iya, memangnya tujuan aku apa?" Sesil membela diri sambil terus menahan perih di tangannya.


"Sesil, kota ke rumah sakit saja. Ayo, saya antar kamu. Biar nanti Dokter yang akan menangani tangan kamu." Alham membantu Sesil untuk berdiri.


"Kamu diam di rumah! Jangan buat kekacauan lagi selama kami pergi dan juga bersihkan semua ini!" seru Alham.


Alham dan Sesil keluar menuju rumah sakit meninggalkan Azalia yang terpaku dengan deraian air mata juga luka di hati.

__ADS_1


"Aku benar-benar nggak sengaja. Kenapa aku yang disalahkan?" Tangis Azalia pecah. Ia terduduk di lantai sambil memeluk lutut.


Setelah sekian lama, bentakan itu ia dapatkan. Ia teringat akan sosok Rafka yang lemah lembut terhadapnya. "Dosa apa yang pernah aku lakukan sehingga kebahagiaan begitu enggan membersamaiku?" gumam Azalia.


***


Satu jam kemudian, Azalia mendengar deru mobil memasuki rumah. Ia yakin itu adalah Alham dan juga Sesil. Namun, ia enggan untuk keluar dari kamar. Ia memilih untuk berbaring di sofa tempat ia tidur selama seminggu terakhir di kamar sang suami.


Suara pintu dibuka, tetapi Azalia enggan untuk melihat siapa itu. Ia yakin itu adalah sang suami.


"Beruntung tangan Sesil tak kenapa-kenapa dan langsung ditangani. Mulai besok, jangan pernah kamu mendekati Sesil. Saya takut kamu akan berbuat lebih sama dia. Saya yakin, kamu melakukan itu karena tak senang dia berada di rumah ini. Tapi, kamu tidak berhak untuk memiliki perasaan tak senang itu karena rumah ini masih atas nama saya." Perkataan Alham yang begitu dingin dan datar membuat Azalia kembali menangis dalam diamnya.


'Terima kasih sudah mengingatkan aku akan posisiku di rumah ini. Aku lupa bahwa aku hanya istri di atas kertas. Wahai waktu, cepatlah untuk melewati sebelas bulan. Aku sungguh tak sanggup berada dalam lingkaran kehidupan ini,' batin Azalia.


...to...


...b...


...e...


...continue guys...


.............


Terima kasih yang sudah support author ๐Ÿ˜˜


Jangan lupa tinggalkan jejak.

__ADS_1


Akan author usahakan untuk update sampai malam lebaran nanti. Walaupun update nya tengah malam๐Ÿ™ƒ


__ADS_2