
...Happy Reading 😘...
Sementara itu, di kediaman Azalia. Ia mendapati sebuah surat di meja riasnya.
'Temui Papa di kafe dekat taman. Jangan memberitahu orang di rumah. Siapapun itu!'
"Papa? Ada apa Papa ingin bertemu denganku, ya?" gumamnya.
Tangannya masih memegang kertas bertuliskan entah sebuah permintaan atau perintah, Azalia sendiri tak tahu. Tanpa berlama lagi, ia langsung bersiap-siap untuk menemui papanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 20:00 WIB. Angin malam berembus. Langit gelap dipenuhi gemerlap bintang. Azalia berhasil keluar dari rumah setelah memberi alasan kepada penjaga rumahnya.
Azalia berpikir bahwa mamanya dan Sesil saat ini berada di dalam kamar, padahal tengah keluar entah ke mana.
Ia berjalan hingga ke pertigaan dan kebetulan, taksi pesanannya telah berada di tempat. Hatinya masih bertanya-tanya, ada hal apa sehingga papanya tiba-tiba meminta bertemu.
Setengah jam kemudian, ia telah sampai di tempat yang dituju. Alunan suara musik yang merdu langsung menyambut gadis berjaket putih itu saat menapak melewati pintu. Ia mengedarkan pandangan mencari papanya.
Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah mendekati orang yang dicari tengah menatap ke arahnya dari sudut ruangan dekat jendela.
"Duduklah," ujar lelaki paruh baya tersebut.
"Terima kasih," balas Azalia. "Ada apa Papa meminta untuk bertemu?" Azalia langsung pada intinya.
Lelaki yang disebut Papa itu tersenyum ke arahnya. Senyum yang tak pernah ia lihat sejak kecil dan senyum itu hanya diperuntukkan kepada Sesil, saudarinya. "Kamu pesan minum dulu. Jangan terlalu serius. Atau mau Papa pesankan kopi cappucino?." Azalia semakin tak paham.
Suara papanya yang selalu kasar kini berubah lembut. 'Papa kenapa, ya?' batinnya.
"Tidak, terima kasih. Aku nggak suka kopi. Katakan saja pada intinya," ucap Azalia.
Beberapa menit berlalu, keduanya diam dengan pikiran masing-masing. Hanya suara musik dan suara beberapa pengunjung yang memenuhi gendang telinga kedua orang berbeda generasi tersebut.
Kedua pasang netra itu masih beradu tatap. Hingga akhirnya sebuah perkataan yang keluar dari bibir lelaki paruh baya itu membuat Azalia heran.
__ADS_1
"Maafkan Papa, Azalia," tutur Papa Rusdi tulus. "Papa banyak salah sama kamu. Papa minta maaf, Nak," imbuhnya seraya meneteskan air mata. Bahunya bergetar akibat menangis.
"Papa nggak perlu minta maaf. Aku sudah memaafkan Papa jauh sebelum hari ini tiba. Sikap Papa selama ini ke aku, mungkin ada penyebabnya. Itulah yang aku pikirkan. Tak mungkin Papa memarahi aku kalau aku tidak salah." Azalia menghentikan sejenak perkataannya sambil menarik napas.
"Tapi, kalau boleh jujur, Pa. Aku sebagai anak merasa tak ada gunanya di mata Papa dan juga Mama. Aku seperti babu berkedok anak. Papa tahu ... aku bahkan iri sama burung yang bisa terbang bebas tanpa takut jika sewaktu-waktu ada badai yang menerjang," ujar Azalia dengan berkaca-kaca.
Papa pasti sudah masuk ke kamarku, 'kan? Apa Papa ada melihat foto aku waktu wisuda? Pasti tidak karena aku tak memajangnya. Pa, hari itu aku menanti satu saja anggota keluargaku untuk hadir. Memberikan pelukan hangat dengan tangisan haru dan ucapan selamat. Tapi, sampai aku kembali ke rumah pun, jangankan pelukan hangat, ucapan selamat saja tidak aku dapatkan. Sampai hari ini, aku telah membuang waktu untuk berpikir hal-hal yang mustahil terjadi. Dua puluh dua tahun, Pa. Selama itu aku sabar. Tapi, berhubung hari ini Papa bertemu aku. Aku sekalian akan mengatakan untuk keluar dari rumah Papa," imbuh Azalia dengan air mata yang sudah tak bisa dibendung lagi.
Papa Rusdi yang mendengarnya kaget dan langsung menatap dalam netra cokelat milik anaknya. Warna cokelat itu adalah warisan dari mamanya. "Lia, sebenarnya Papa hadir di acara wisuda kamu, Sayang," ujar Papa Rusdi membuat Azalia kaget.
Benarkah papanya datang, di mana dan kenapa tak menghampirinya, itulah yang ada dalam benak Azalia. "Kamu ingat dengan bunga lili yang diberikan seseorang?" tanya Pap Rusdi.
"Iya."
"Itu dari Papa, Nak. Papa ingin menghampiri kamu. Tapi, Papa malu. Papa merasa tak punya muka untuk menghampiri kamu. Papa sayang sama kamu," tutur Papa Rusdi.
"Papa sayang sama aku? Lalu, kenapa selama ini Papa selalu bersikap kasar sama aku, Pa? Apa salahku?" Azalia tak habis pikir dengan papanya.
"Maafkan Papa, Nak. Kamu pernah bertanya hal ini dan Papa sudah menjawabnya. Tapi, kali ini biarkan Papa menceritakan detail-nya bagaimana."
***
Di sebuah hotel berbintang, seorang laki-laki mendapati istrinya tengah tertidur di salah satu kamar hotel tanpa busana dan hanya menutupi tubuh polosnya dengan selimut.
"Apa-apaan ini!? Bangun kamu Asti!" serunya membuat sang empu terbangun sambil memegang kepala.
"Mas?"
Wanita yang dipanggil Asti kaget mendapati suaminya sangat marah. Ia menatap sekitar dan betapa kagetnya ia saat melihat pakaian miliknya berserakan di lantai. Sedetik kemudian ia langsung menangis dan menatap sang suami.
"M–mas, i–ini ... ini nggak seperti yang kamu kira. Aku bisa jelaskan, Mas!" ucap Asti menangis sambil memeluk kuat selimut yang menutupi tubuhnya.
"Apa yang akan kamu jelaskan, hah?! Kamu pikir aku bodoh? Kamu lihat ini! Ini adalah bungkus bekas alat pengaman pria! Kamu pikir aku bodoh, Asti! Tidaaak!" hardiknya seraya melemparkan plastik itu ke ranjang.
__ADS_1
"Tega kamu, Asti! Apa salah aku? Apa? Kurang apa aku sama kamu? Kalau kamu sudah tidak sayang lagi sama aku, bukan begini caranya!" teriak Rusdi. "Aaah!" Tangannya memukul keras dinding dan sedetik kemudian keluar cairan merah dari sela-sela jarinya.
Sementara, perempuan berambut pirang sebahu tengah tersenyum puas karena rencananya telah berhasil.
"Mas, aku dijebak, Mas! Aku sama sekali tidak melakukan itu dengan laki-laki lain. Aku dijebak oleh Lana, Mas! Semalam–"
"Tidak usah menyalahkan orang lain kamu! Aku belum buta, Asti! Lihat keadaan kamu! Pakaian saja sudah di lantai dan ada bungkus bekas alat pengaman pria! Aku kecewa sama kamu. Aku tidak bisa lagi meneruskan pernikahan ini. Aku tak bisa menerima pengkhianatan. Mulai detik ini, kamu aku talak, Asti! Kau bukan istriku lagi dan kau berhak bersama pria lain. Aku akan mengurus surat perceraian dan aku akan mengambil hak asuh Azalia." Selesai mengucapkan kata talak, Rusdi berlalu dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Tak peduli dengan teriakan dan jeritan dari Asti. Hatinya benar-benar hancur saat mendapati istrinya bermain serong.
***
Azalia menangis mendengar cerita itu, ia menggeleng mencoba untuk tak percaya akan kisah itu.
"Nggak! Papa pasti bohong, 'kan? Biar aku percaya sama Papa dan tidak membenci Mama," ucapnya dengan linangan air mata.
"Itulah kenyataannya Azalia. Terakhir Papa bertemu dengan mamamu saat sidang putusan perceraian. Maafkan Papa. Tapi, Papa juga tidak bisa menerima pengkhianatan Mama kamu," tukas Papa Rusdi.
"Kita mulai semuanya dari awal, Nak. Kalau kamu mau pindah, silakan. Papa tidak akan melarang. Tapi, Papa sudah menyiapkan apartemen untuk kamu. Tinggallah di situ. Mama Lana dan Sesil biar menjadi urusan Papa. Papa mohon terima pemberian Papa," tutur Papa Rusdi. "Lia, boleh Papa memeluk kamu, Nak?" pintanya dengan suara lembut.
Azalia mengangguk dan langsung berdiri untuk memeluk papanya. Ia bahagia, akhirnya setelah sekian lama. Pelukan hangat bisa ia dapatkan dari papanya. Tak sia-sia ia berdoa selama ini untuk meminta melunakkan hati papanya.
Kecupan-kecupan singkat Papa Rusdi berikan di kepala anaknya seraya melirihkan kata maaf. Keduanya larut dalam tangis bahagia dan penyesalan. 'Papa janji, akan selalu menyayangi kamu, Sayang. Terima kasih sudah memaafkan Papa,' batin Papa Rusdi masih terus mengecup kepala anaknya gadisnya.
...to...
...b...
...e...
...continue...
................
__ADS_1
...jangan lupa follow author 😘...