
*Terima kasih yang sudah sudi membaca karya author 🙏🏻😊.
Jangan lupa tinggalkan jejak, ya😘
...Happy Reading Guys 🥰...
Azalia masih di sini. Di kafe tempat Rafka mengatakan akan pergi ke Belanda. Alunan musik pop yang dimainkan tak mampu ia nikmati.
Tatapannya kosong pada arah luar dengan lelehan air mata yang tak kunjung reda. Matahari mulai menepi, tetapi ia terlihat tak ingin beranjak dari tempatnya duduk.
Ia bimbang, apakah harus mencegah Rafka dengan menceritakan perihal rumah tangganya yang baru saja dimulai dau hari yang lalu atau tidak. "Kenapa harus aku yang menanggung semua ini, Ya Allah? Tak pantaskah aku untuk bahagia?" gumamnya dalam hati.
Semilir angin di sore hari mampu menerbangkan beberapa lembar daun kering dari ranting pohon yang berjejer di samping kafe dan juga toko milik Azalia. Kicauan burung menambah kesan nyaman untuk menikmati suasana.
***
Di sebuah rumah minimalis berlantai dua. Seorang laki-laki baru saja terbangun dari tidur siangnya. Ia keluar dari kamar dan mengernyit melihat koper sang istri masih berada di tempatnya.
"Apa dia belum pulang? Apa memang seperti ini sifatnya? Selalu nggak disiplin waktu," gumam Alham, lalu melangkah menuju dapur yang ada di lantai bawah.
Biarlah istrinya itu akan pulang atau tidak. Ia takan peduli.
***
Berbeda dengan Azalia dan Alham. Rafka saat ini sedang berkemas dibantu sang Bunda. Tak hanya itu, di dalam kamarnya ada Rifki dan juga Cahya, sang adik yang terus menempel padanya. Sementara, sang ayah belum kembali dari perusahaan.
"Kakak mau ke mana? Bilang sama Cahya. Kalau Kakak pergi, Cahya sama siapa?" Gadis kecil itu menangis di pelukan Rafka.
Rafka tersenyum, lalu mengelus dan mencium puncak kepala sang adik. "Kakak pergi untuk belajar. Cahya yang rajin belajarnya biar bisa menyusul Kakak. Kalau nggak, libur sekolah nanti bisa ke sana. Di sini masih Kak Rifki juga," tutur Rafka lembut.
__ADS_1
"Nggak. Kak Rifki nyebelin, masa pensil warna Cahya diambil. Kak Rifki juga sok ganteng." Gadis kecil itu mendelik menatap Rifki yang duduk di kasur Rafka sambil bermain game.
"Dih, dasar bocil. Kak Rifki memang ganteng, ya. Turunan dari Ayah. Lihat aja, Ayah masih ganteng di usianya sekarang. Kalian berdua aja yang nggak tahu turunan siapa," sahut Rifki terus fokus pada ponselnya.
Tiba-tiba saja ia merasa atmosfer di dalam kamar kakaknya mulai dingin, melebihi dinginnya AC yang menyala. Ia menatap ketiga orang yang duduk depan lemari.
Tatapan ketiganya yang sangat tajam membuat ia menyengir, lalu perlahan turun dari kasur dan langsung mengambil jurus kaki seribu. "Serem banget mereka, berasa lagi di rumah hantu," ucapnya begitu sampai di luar kamar.
***
Sang surya telah kembali ke peraduannya. Menyisakan senja yang kini mulai menggelap. Seorang perempuan berambut lurus sebahu tampak berjalan seperti orang yang kehilangan arah. Tak tahu harus ke mana.
Seketika sebuah tempat hadir di benaknya. Bandara, ia harus ke sana. Menunggu kedatangan Rafka yang akan bertolak malam ini ke negeri kincir angin.
***
Setelah sekian lama menunggu. Orang yang dinanti akhirnya tiba. Jantungnya seperti berhenti berdetak melihat satu koper besar yang dibawa oleh Rifki.
Sesak kian menghimpit dada, ia terisak di balik masker dan kacamata hitamnya. Ingin sekali mendekati Rafka, tetapi ia tiba-tiba tak memiliki keberanian.
"Kamu baik-baik di sana, ya. Jangan lupa kabari Bunda kalau sudah sampai. Teruslah berkabar dengan Bunda," ucap Bunda Raya sambil memeluk anak sulungnya. Air mata wanita paruh baya itu tak bisa dibendung lagi.
Rafka membalas pelukan dari wanita yang melahirkannya. Ia mengecup lembut dahi wanita yang memiliki surganya. "Itu pasti, Bun. Bunda juga jaga diri baik-baik," tutu Rafka. "Ki, jaga Bunda, Ayah, sama Cahya, ya. Kakak percayakan mereka sama kamu," sambungnya pada Rifki.
"Siap." Ia memberi hormat seperti sedang menerima perintah dari komandan.
Rafka kemudian beralih memeluk sanga ayah. "Kamu harus kuat, Ka. Ayah percaya sama kamu. Belajar yang baik di sana, kamu yang akan menggantikan Ayah kelak. Rifki mana bisa dipercaya," canda Ayah Azka.
"Aih, Ayah meragukan aku? Jahat banget, Ayah. Sudahlah, aku mending pulang sa–aduh, aduh. Sakit, Bun." Rifki mengusap telinganya yang dijewer oleh sang bunda.
__ADS_1
"Diam di tempat dan jangan ke mana-mana!" titah Bunda Raya sambil melotot membuat nyali Rifki langsung menciut.
Cahya, gadis kecil yang juga ikut mengantar terkekeh melihat kelakuan kakak keduanya.
"Hai, princes. Nggak mau peluk Kakak?" Rafka beralih ada Cahya sambil merentangkan kedua tangannya dan langsung disambut oleh Cahya.
"Kakak jangan lupa telepon Cahya, ya." Gadis kecil itu mendongak menatap sang kakak.
"Pasti." Rafka mencium pucuk kepala Cahya. "Sudah, ya. Pesawat Kakak akan berangkat. Kamu belajar yang rajin. Kakak sayang sama kamu," sambungnya.
Mereka semua melepaskan kepergian Rafka tak terkecuali Azalia yang berdiri tak jauh dari mereka. Hatinya berat untuk membiarkan Rafka pergi, tetapi ia pun sudah punya kehidupan sendiri.
Ia lantas berlari menjauh dan keluar dari Bandara. Sementara, Rafka yang tak sengaja melihat merasa kenal dengan sosok itu. 'Apa itu Azalia? Kalau iya, sejak kapan Azalia ada di sini?' batinnya.
...to...
...b...
...e...
...continue guys...
...💝..........💝...
*Kehidupan pernikahan Azalia akan dimulai, guys. Apa pernikahan mereka akan berakhir dengan cinta dan saling mempertahankan atau malah akan berpisah sesuai dengan perjanjian mereka?
Ikuti terus, ya, guys😘
Jangan lupa follow author dan tinggalkan jejak, ya🥰🙏🏻
__ADS_1