Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Rencana Honeymoon


__ADS_3

*Terima kasih yang sampai saat ini masih tetap stay dengan cerita author. Terima kasih juga atas dukungannya. Semoga kalian semua sehat selalu.


_____________________


...Happy Reading Guys...


Sang surya telah berada di atas kepala, riuh lalu lalang kendaraan memadati jalanan ibukota Jakarta. Azalia menatap luar jendela dan tak sengaja melihat seorang laki-laki tunawisma yang sudah tua duduk di depan toko pakaian dengan tatapan memohon pada siapa saja yang lewat. Tangannya yang keriput memegang perutnya. Baju yang tak layak pakai masih membungkus tubuh rapuhnya.


"Pak, stop! Stop!" seru Azalia membuat Alham menginjak rem mendadak.


Tanpa menunggu lagi, Azalia langsung bergegas keluar dan berlari kecil ke belakang mobil menuju laki-laki tua yang ia lihat. Ia mendekat dengan mata berkaca-kaca. Segera ia berjongkok di depan laki-laki tua tersebut.


"Neng, boleh saya meminta sedikit makanan atau minuman?" lirih tunawisma tersebut. Bibirnya pucat dan gemetar ketika berucap.


Azalia menangis, melihat betapa mirisnya kehidupan orang-orang di yang tinggal di jalanan. "Pak, saya tidak punya makanan ataupun minuman. Saya hanya ada uang. Tapi, saya khawatir kalau bapak beli makanan dengan keadaan seperti ini, Bapak akan diusir dan itu banyak terjadi. Bapak tunggu di sini dulu, ya. Jangan ke mana-mana. Saya akan kembali lima menit lagi," ucap Azalia dan ia pun masuk ke toko pakaian tanpa berlama-lama.


Sementara itu, Alham yang berdiri di belakang mobilnya menatap aneh pada Azalia yang berbincang sejenak dengan seorang tunawisma, lalu masuk ke dalam toko pakaian. Ia tak beranjak sedikitpun dari tempatnya dan masih terus memperhatikan dari jauh.


Azalia kembali dari toko dengan sebuah paper bag di tangannya. "Pak, bukan niat saya merendahkan Bapak. Tapi, ini saya ada sedikit rezeki yang Alhamdulillah bisa berbagi dengan Bapak. Di dalam tas ini ada satu setel pakaian untuk Bapak dan ini uang untuk Bapak membeli makanan. Saya mohon diterima, ya, Pak," tutur Azalia.


Tunawisma itu menangis, terharu dengan sikap baik dari perempuan di depannya. "Neng, Bapak hanya meminta sedikit air atau makanan. Ini terlalu berlebihan, bagaimana kalau Neng juga butuh uang?" tanya tunawisma tersebut.


"Pak, jika saya pun butuh mungkin saya hanya bisa berbagi secukupnya saja. Terima saja, Pak. Ini rezeki Bapak yang dititipkan ke saya dan jangan menolaknya."


Azalia kemudian mengulurkan paper bag berwarna cokelat tersebut, lalu ia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah, lalu ia memegang tangan kanan yang telah berkeriput tersebut.


"Semoga ini bisa bermanfaat untuk Bapak. Ini juga mungkin cukup untuk Bapak membuka usaha kecil-kecilan." Ia meletakkan uang tersebut.


"Neng, i–ini, ini terlalu banyak."


"Sudah, ini bukan dari saya. Tapi, dari Allah yang dititipkan ke saya untuk diberikan ke Bapak. Saya permisi dulu, suami saya sudah menunggu."


"Terima kasih, Neng. Semoga pernikahan Neng langgeng dan bahagia selalu." Doa yang tulus itu tak berani untuk Azalia aminkan. Ia hanya tersenyum dan mengangguk, lalu pergi menuju mobil Alham yang terparkir tak jauh.


Alham merasa kagum dengan sosok Azalia. Baru kali ini ia melihat sisi lain dari istrinya. Ia bahkan tak pernah melihat mantannya ataupun Sesil melakukan hal seperti itu. "Sudah selesai?" tanya Alham begitu Azalia berada di depannya.


Azalia mengangguk dan memasuki mobil. Tak ingin banyak berbicara dengan suaminya. 'Bisakah aku mewujudkan doa Bapak tadi? Bisakah aku meluluhkan hati suamiku, sedangkan di hatinya tak pernah ada namaku. Di hati terdalamku juga masih ada orang lain.' Azalia bimbang dengan hatinya. Keputusan apa yang akan ia ambil nanti.


'Ada apa dengannya? Kenapa wajahnya terlihat sedih? Apa ada percakapan mereka tadi yang membuatnya menjadi seperti ini? Ah, lupakan, Alham! Untuk apa kamu pedulikan dia. Biarkan saja dia seperti itu. Kamu harus bisa membuat dia pergi dengan sendirinya sebelum waktu perjanjian tiba.' Alham menggeleng guna menghilangkan pemikirannya tentang ekspresi Azalia.


Selama perjalanan hanya ada kebisuan yang menyelimuti keduanya.

__ADS_1


***


"Kalian kenapa lama sekali?" tanya Mama Tina begitu Alham dan Azalia tiba.


"Maaf, tadi ada urusan sedikit, Ma," jawab Azalia.


Peran sebagai istri yang disayangi oleh suami kembali ia mainkan, begitu pula dengan Alham.


"Kita nggak disuruh masuk?" celetuk Alham.


"Eh, iya. Ayo, Sayang." Mama Tina langsung menggandeng tangan Azalia. Namun, baru beberapa langkah mereka harus berhenti karena suara orang yang tertinggal.


"Yang, kok, aku ditinggal?" Wajah ditekuk seolah merasa kesal.


Sementara, Azalia kaget dengan tingkah Alham. Azalia belum bereaksi, ia hanyut dalam pesona Alham dengan ekspresi seperti itu. "Aku tahu aku ganteng. Jadi, jangan ditinggal nanti diambil orang," celetuk Alham.


'Bagaimana bisa kamu akan diambil orang. Sedangkan, kamu sendiri yang memilih bersama orang lain ketimbang aku,' batin Azalia.


"Duh, akhirnya kutub utara mencair juga. Ya, sudah, Mama duluan. Jangan lama-lama di sini." Mama Tina meninggalkan keduanya.


"Mama sudah pergi, ayo masuk." Azalia pun ikut meninggalkan sang suami, tetapi tangannya langsung digenggam. Paham maksud dari tindakan tersebut, ia pun menarik napas dan mengembuskan perlahan.


***


"Maaf, Pa. Sekarang kita makan, ya."


Mama Tina kemudian mengambil makanan untuk sang suami. Lalu, meminta Azalia untuk mengambilkan makanan untuk Alham.


Tanpa banyak kata, ia langsung menurutinya dan berperilaku layaknya istri yang berbakti dan sayang terhadap suami.


Di sela-sela mereka makan Mama Tina dan Papa Rusdi menatap keduanya. Mama Tina yang mendapat kode dari sang suami pun mulai bertanya. "Azalia, kalian menikah sudah sebulan, 'kan?"


"Iya, Ma."


"Kalian nggak ada niatan untuk honeymoon? Mama sama Papa sudah kepingin gendong cucu."


Uhuk! Uhuk!


Sepasang suami istri yang masih baru itu tersedak secara bersamaan. Lalu, langsung meminum air yang sudah tersedia.


"Kalian kenapa responnya begitu? Nggak senang?"

__ADS_1


Azalia hanya mampu menunduk, tak bisa menjawab pertanyaan gampang tersebut. Bagaimana mereka bisa punya anak, jika pernikahan ini saja tak diinginkan oleh salah satu pihak hingga saat ini.


Alham yang melihat sang istri hanya diam, ia memberanikan diri menatap mamanya. "Bukan gitu, Ma. Kami berdua cukup sibuk saat ini, jadi tidak perlu honeymoon. Terlebih, aku lagi ada proyek besar dan tidak bisa ditinggal. Untuk anak, mungkin belum rezeki saja. Kami akan berusaha untuk itu, waktunya saja yang belum tepat. Mama doakan saja agar Azalia bisa segera hamil," tutur Alham.


'Manis sekali kamu berkata. Kenapa tak mengatakan saja jika kita akan berpisah sampai waktu perjanjiannya tiba? Maafin aku, Ma, Pa. Bukan maksud aku mendukung kebohongan yang diciptakan anak kalian. Tapi, dia benar-benar tidak bisa menerima pernikahan ini dan mungkin kalian akan mendapatkan cucu. Tapi, bukan dari aku melainkan dari adik aku ... Sesil,' batin Azalia. Ia menitikkan air mata.


"Perusahaan nggak ada proyek besar saat ini. Jadi, kamu harus izin, biar Papa yang gantikan kamu sementara," timpal Papa Bayu.


"Loh, loh, kamu kenapa menangis, Sayang?" Mama Tina panik melihat sang menantu menangis.


Alham menoleh ke samping, ternyata benar. 'Kenapa lagi dengannya?'


"Ma, mungkin Azalia juga ingin segera hamil, tapi belum dikasih. Sabar, Sayang. Kita harus berusaha lagi untuk itu. Jangan nangis lagi, aku sedih melihat kamu begini." Alham memeluk Azalia seraya mengelus punggung istrinya.


Alham semakin bingung saat merasakan bahu Azalia bergetar hebat seraya menenggelamkan wajah di dadanya.


"Azalia, maafkan Mama sama Papa kalau hanya buat kamu sedih. Kami tak akan memaksa lagi. Benar, 'kan, Pa? Sang suami mengangguk membenarkan.


"Nggak, Ma. Aku akan pergi dengan Azalia. Mungkin itu juga bisa membantu dia menghilangkan rasa sedih atau stresnya karena pekerjaan." Azalia mendongak masih dalam pelukan Alham.


"Benar juga itu. Ya, sudah, kalian siap-siap. Besok akan berangkat, tempat dan tiketnya sudah disiapkan." Senyum terbit di wajah orang tua Alham. Bayangan akan menggendong cucu sudah ada dalam benak mereka.


'Honeymoon? Yang benar saja," batin Azalia menjerit.


Cup


Sebuah kecupan singkat mendarat di dahi Azalia, membuat sang empu melotot karena terkejut. Sementara, pelakunya hanya terkekeh pelan.


...to...


...be...


...continue...


.........................


**Malam ini author kasih spesial dengan part panjang. Tapi, tak sepanjang jalan kenangan bersama dia, eh😶


*kira-kira, ada apa dengan Alham? Apakah ia akan jadi bucin mulai dari sekarang? Atau itu juga hanya sebuah akting? Ah, author jadi penasaran gimana ke depannya*.


...Stay tuned guys...

__ADS_1


...Jangan di-ghosting 😗...


__ADS_2