Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Rafka Mabuk


__ADS_3

...Happy Reading 🎀🖤🎀...


Sembilu cinta menggoreskan pilu tak terkira di hati pemuda yang saat ini mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi. Tak peduli dengan umpatan para pengendara lain.


Air matanya mengalir membanjiri pipinya. Tangannya mengepal erat memegang setir. "Aaa, kenapa, Lia? Kenapa kamu tega Lia? Apa salahku?" Ia memukul-mukul setir.


Pikirannya kacau dan tak ingin kembali ke kantor. Takut jika ia akan melukai para pegawainya. Ia pun melajukan mobilnya ke pinggiran kota, menuju tempat yang tak pernah ia datangi selama hidupnya.


Setelah beberapa saat mengendarai, ia sampai di sebuah bangunan berlantai dua yang terlihat rapi dari luar. Seharusnya ia tak perlu ke sini, tetapi sisi lain dari dirinya mengajak untuk memasuki tempat tersebut.


Dentuman suara musik memenuhi tempat tersebut. Seorang wanita berpakaian seksi datang menghampirinya. "Halo, Mas. Mau aku temenin?" Suaranya dibuat sangat mendayu-dayu membuat laki-laki hidung belang akan terbuai.


Akan tetapi, hal itu tak berlaku bagi Rafka. Ia mendorong wanita itu dan lantas menuju meja bar. Di mana, sudah ada seorang bartender pria untuk melayani para tamu.


"Mas, tolong beri saya anggur satu botol," ucapnya pada bartender tersebut.


Matanya memindai sekeliling, banyak perempuan dan laki-laki yang berbaur jadi satu sedang bergoyang mengikuti irama musik. Ia pun dapat melihat ada juga perempuan dan laki-laki yang sedang melakukan hal tak senonoh. Ia tertawa sinis. Di siang seperti ini, ternyata ada juga yang bolos kerja. Ia pikir, tempat seperti ini hanya akan ramai pada malam hari, ternyata ia salah.


Hatinya kembali teringat akan sang kekasih yang telah mengkhianati cinta tulusnya. Sesak kian menjalar dalam gumpalan darah yang tersimpan rapi di dada. Kepingan-kepingan masa lalu mengiri dirinya yang sedang meneguk minuman keras. Tawa, senyum, air mata, gerutuan Azalia terngiang dalam otaknya.


"Malang sekali diriku ini," ucapnya, lalu meneguk kembali minuman beralkohol tersebut.


Entah sudah berapa lama dan berapa botol ia habiskan. Seharusnya ia sudah terkapar tak berdaya karena ini pertama kalinya ia minum. Namun, ia masih bisa meneguk minuman itu. Hanya penampilannya yang kacau.


"Mencintai perempuan yang tidak mencintaiku. Kamu bodoh, Rafka. Bisa-bisanya kamu percaya kalau dia mencintai kamu. Dia itu hanya kasian, Rafka, " ucapnya, lalu tertawa dan menangis secara bersamaan.


Ia tertawa karena merasa ditipu oleh perempuan yang ia lihat sangat baik dan polos, tetapi menangis karena cinta pertamanya telah menggoreskan luka yang begitu lebar di hatinya.


Lama kelamaan, ia merasa bosan dan menghubungi sekretarisnya untuk ikut minum bersama. "Halo, kamu ke sini sekarang. Saya akan traktir apa saja yang kamu inginkan, asalkan kamu datang ke sini. Ok."


Tut! Tut! Tut!

__ADS_1


Nando yang sedang bersiap-siap untuk pulang bingung dengan atasannya yang berbicara seperti tak biasa. Ia juga mendengar suara kebisingan dari panggilan tersebut.


"Pak Rafka kenapa, ya? Seperti orang mabuk. Masa iya, beliau mabuk? Perasaan selama ini nggak pernah menyentuh minuman itu. Menyebut saja tidak pernah. Apa terjadi sesuatu, ya?" gumam Nando.


Ia mencoba menelepon kembali untuk meminta alamat sang atasan. Keningnya berkerut mendengar alamat yang disebutkan. 'Itukan alamat bar yang ada di pinggiran kota. Gawat, aku harus segera ke sana,' batin Nando.


Tanpa membuang waktu ia langsung menuju alamat tersebut walaupun itu butuh waktu sekitar setengah jam dari perusahaan.


***


Pemuda yang bekerja sebagai sekretaris Rafka itu mengedarkan pandangan. "Hai, ganteng. Mau aku temani?" ucap salah seorang wanita dengan pakaian kurang bahan sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan coba-coba untuk menyentuh saya atau kamu akan menyesal! Minggir!" Nando menatap tajam ke arah wanita tersebut.


"Wow, galak banget, sih. Kamu nggak menyesal kalau menerima tawaran saya. Rugi kamu datang ke sini kalau hanya untuk minum, lalu pulang. Lihat, laki-laki di meja bar itu. Dia ke sini hanya minum dan menolak perempuan seperti kami. Sok suci menolak, tapi berani menginjakkan kaki di sini." Setelah mengatakan itu, wanita tersebut pergi mencari pria lain.


Nando langsung menatap seseorang yang seperti orang stres di meja bar. Tertawa, lalu mengusap pipinya. Ia pun mendekat.


"Azalia? Kamu ... kamu ke sini mau apa? Mau menertawakan aku, ya? Hahaha, iya, kamu menang Azalia. Aku kalah sama cinta aku," racau Rafka.


"Ya ampun, saya Nando, Pak. Bukan Azalia."


Tanpa membuang waktu, Nando langsung membawa Rafka keluar. Ia memakai mobil atasannya untuk mengantar pulang. Biarlah mobilnya ia tinggal, bisa diambil nanti setelah pulang dari mengantar sang bos.


Selama perjalanan, Rafka tak henti-hentinya menyebut nama Azalia. Dengan mata terpejam saja Rafka menangis membuat Nando kasian melihatnya. 'Orang seperti apa wanita yang sudah membuat Pak Rafka seperti ini?' tanya Nando dalam hati. Pemuda itu belum pernah melihat kekasih Rafka.


***


Matahari mulai menepi, meninggalkan warna jingga di langit biru. Sekelompok burung beterbangan bebas di bawah langit senja dengan kicauannya yang nyaring.


Mobil berwarna putih telah memasuki kediaman keluarga Pak Azka Sanjaya. Cahya anak bungsu Pak Azka langsung berteriak melihat kakaknya keluar dari mobil dengan dibantu oleh orang lain.

__ADS_1


"Bundaaa, Kakak Rafka, Bundaaa!"


Ia histeris melihat kakaknya yang seperti orang sakit. Tak tahu jika sang kakak sedang skit hati. "Om, Kak Rafka kenapa? Om apakan Kak Rafka?" Gadis kecil itu langsung mencecar Nando.


Ikatan batin antar kakak beradik sangat terjalin kuat. Cahya tak ingin kedua kakaknya terjadi sesuatu. Ia cukup trauma dengan temannya yang kehilangan sang kakak karena sakit. Oleh sebab itu, dia langsung menjerit melihat kakaknya pulang tak seperti biasa.


"Ini ... Nona tenang dulu, ya. Saya harus antar Pak Rafka ke kamar beliau," tutur Nando.


"Ya Allah, Rafka kenapa? Rafka, kamu kenapa, Nak? Apa yang terjadi?" Sang bunda yang mendengar teriakan Cahya langsung keluar dan ia pun sama terkejutnya melihat penampilan Rafka.


Semua orang kaget dan berkumpul di teras rumah melihat apa yang terjadi. Tak terkecuali Ayah Azka dan Rifki.


"Bu, Pak Rafka mabuk. Saya tidak tahu apa yang terjadi, saya hanya ditelepon beliau. Tapi, selama perjalanan Pak Rafka terus menggumamkan nama seseorang. Kalau tidak salah namanya Azalia," papar Nando.


Rafka yang mendengar nama kekasihnya mendongak dengan tatapan mata yang sayu. "Azalia? Azalia, ini kamu, Sayang? Aku ... aku minta maaf kalau aku ada salah sama kamu. Tapi, tolong jelaskan sama aku kalau yang aku lihat itu tidak benar, 'kan? Tolong jelaskan sama aku, Azalia. Maaf, aku tadi langsung pergi begitu saja. Aku mencintaimu, Azalia. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," ujar Rafka kembali menangis sambil memegang pipi bundanya, lalu tiba-tiba ia pingsan.


Efek dari alkohol membuatnya tak bisa membedakan siapa yang berhadapan dengannya. Sang bunda histeris dengan linangan air mata dan langsung meminta bantuan untuk membawa Rafka ke kamarnya. 'Apa yang terjadi sama kalian berdua? Kenapa Rafka harus seperti ini?' batin Bunda Raya menangis.


Rafka tak pernah seperti ini sebelumya. Sebenarnya, ia tak tahan dengan aroma alkohol yang sangat menyengat keluar dari mulut anaknya, tetapi kondisi Rafka sangat memprihatinkan. Ia bertanya-tanya apa yang terjadi di antara hubungan anaknya dan Azalia.


Ibu mana yang tega melihat anaknya sedang tak baik-baik saja. Ia akan bertanya langsung pada Rafka setelah sadar nanti atau bertanya kepada Azalia penyebab Rafka menjadi seperti ini.


...to...


...b...


...e...


...continue...


..................

__ADS_1


...Jangan lupa follow, ya🤗...


__ADS_2