Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Tawaran Menjadi Sekretaris


__ADS_3

...Happy Reading...


Sang surya telah kembali ke peraduannya dengan meninggalkan senja yang begitu indah beberapa saat yang lalu. Semilir angin malam membelai lembut kulit Azalia yang tak tertutupi jaket.


Suasana Ancol masih terbilang ramai, deburan ombak yang tenang cukup untuk mendamaikan jiwa yang sedang kalut, termasuk Azalia. Ia belum ingin beranjak dari sana dan Alham setia menemani.


Mereka memutuskan untuk ke Ancol setelah seharian berjalan-jalan selayaknya pasangan yang baru pacaran. Alham terus menatap wajah cantik sang istri. Mata bulat, hidung mancung yang tak terlalu tinggi, serta bibir tipis, membuat Alham sangat betah menatap lama.


Tangannya terulur untuk memperbaiki rambut Azalia yang sedang dimainkan oleh angin. "Sudah puas menikmati senja?" tanya Alham.


"Sebenarnya belum. Tapi, mau gimana lagi, dia sudah pergi hanya agar bulan dan bintang bisa datang," jawab Azalia.


"Kita bisa ke sini lagi kapan-kapan. Atau, nanti aku akan ajak kamu ke tempat di mana kamu bisa menikmati dua suasana sekaligus. Senja dan juga kota Jakarta," ucap Alham.


"Benarkah? Di mana itu?" Azalia tampak antusias, bahkan tanpa sadar ia bertepuk tangan sekali. Selayaknya anak kecil yang mendapat informasi menarik.


"Bukan kejutan namanya kalau aku kasih tahu."


Alham beralih ke belakang Azalia dan memeluk wanita itu dari belakang. Ia menopang dagunya di bahu kanan Azalia seraya menatap ke depan. Sementara, Azalia tak lagi kaget dengan tingkah Alham yang selalu memeluk dari belakang karena ia pun merasakan kenyamanan akan hal itu.


"Terima kasih, ya," lirih Alham.


"Untuk?"


"Kesempatan kedua yang sudah kamu berikan. Jika nanti aku melakukan kesalahan, kamu boleh marah dan memukul aku. Tapi, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku. Kamu adalah duniaku sekarang, Azalia," tutur Alham.


Azalia menoleh ke samping, lalu tersenyum dan mengusap punggung tangan sang suami yang berada di perutnya. "Selagi masih bisa aku maafkan, kenapa tidak? Aku pun begitu. Kalau aku melakukan kesalahan, tolong jangan main tangan atau pergi tanpa mendengarkan penjelasanku. Tegur aku, perbaiki aku agar tidak salah ke depannya," ucap Azalia.

__ADS_1


"Aku akan usahakan untuk yang terbaik buat kamu. I love you," lirihnya di akhir kalimat, tetapi tak mendapatkan balasan.


"Tidak perlu dijawab, aku akan tetap menunggu kamu." Perkataan Alham membuat hati Azalia tidak enak. "Kita cari tempat duduk dulu, ya. Ada yang mau aku omongin ke kamu, aku juga pegal berdiri terus," imbuh Alham.


Azalia mengangguk dan mengikuti saja ke mana sang suami akan membawanya. 'Maafkan aku. Jika kamu bisa membuka hati untuk orang baru, kenapa aku tidak? Aku akan berusaha, semoga saat aku mulai mencintaimu, cintamu masih utuh untukku,' batin Azalia.


...***...


"Ini kita cari tempat duduk atau gimana, sih?" kesal Azalia


Sudah beberapa menit berjalan, tetapi Alham belum juga mengajaknya duduk padahal sudah berapa kali melewati tempat duduk yang kosong. "Kita keluar saja dari sini, ya? Aku lapar. Kamu juga bajunya pendek, nanti masuk angin kalau kelamaan di pantai malam begini," ucap Alham seraya menatap Azalia memohon.


Wanita dengan netra cokelat tersebut hanya bisa pasrah dan mengangguk. 'Kedinginan di gudang saja bisa aku lewati. Apalagi ini di tempat yang aku sukai. Tapi, lebih baik aku mendengarkan apa yang dia bilang saja," gumamnya dalam hati.


...***...


Saat ini, mereka tengah berada di dalam mobil. Melewati jalanan yang terang karena banyaknya lampu-lampu kota.


"Apa saja," jawab Azalia sekenanya.


"Ngambek lagi? Hem?" Alham menoleh sekilas.


"Nggak. Aku ikut kamu saja." Azalia menatap bangunan-bangunan tinggi yang mereka lewati.


"Baiklah. Tapi, senyum, dong. Masa nggak ngambek, mukanya masam gitu." Azalia tersenyum, tetapi hanya sekilas dan kembali menatap ke luar.


...***...

__ADS_1


Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mereka tiba di salah satu restoran bintang lima bernama Tina's Restourant. Mereka disambut oleh pelayan dan langsung memesan makanan.


"Sekarang sudah bisa?"


"Bisa apa?" Pertanyaan sang istri terdengar cukup ambigu bagi Alham.


"Apa yang mau kamu katakan?"


"Rupanya istriku ini lagi ngambek karena hal itu. Maaf, ya. Bukan mau membuat kamu penasaran, cuma aku lapar banget. Kamu tahu sendiri aku makan hanya siang tadi," ucap Alham. "Jadi, di kantor aku lagi mencari sekretaris. Aku mau nawarin ke kamu. Aku maunya kamu jadi sekretaris aku. Kira-kira kamu mau nggak?" sambungnya.


"Tapi, aku punya pekerjaan juga. Toko aku nanti siapa yang mengelola?"


"Di situ, kan, ada dua teman kamu. Kamu percayakan saja sama mereka. Kamu masih bisa mengelolanya, kok."


"Kamu yakin nawarin aku? Aku bisa saja menerimanya karena memang itu yang aku mau. Tapi, posisinya sekarang sudah beda. Aku sudah punya keluarga sendiri, aku punya suami yang harus aku rawat dari bangun tidur sampai tidur lagi. bagaimana jadinya jika aku jadi wanita karir? Bisa-bisa aku keteteran kalau tidak bisa membagi waktu. Terima kasih atas tawarannya, aku sarankan cari orang lain saja. Di luar sana banyak yang sedang mencari pekerjaan."


Jawaban Azalia membuat Alham terharu. Ia merasa seperti, Azalia kini tengah memikirkan dirinya. Lebih terharu lagi adalah Azalia lebih memikirkan orang lain yang lebih membutuhkan. Ia meraih tangan istrinya, lalu berkata, "Aku semakin kagum dan cinta sama kamu. Aku benar-benar beruntung memiliki kamu. Terima kasih dan kalau memang itu keinginan kamu, aku tidak akan memaksa." Ia mencium punggung tangan Azalia.


Sementara, Azalia yang diperlakukan seperti itu menjadi tersipu, terlebih ia menjadi pusat perhatian beberapa orang dan juga karyawan. Ia tak menyadari bahwa restoran itu adalah milik ibu mertuanya.


...to be continued ........


Ok, cerita ini sengaja author tamatkan.


Tapi, sebenarnya masih belum tamat.


Jangan lupa tinggalkan jejak, ya 😘

__ADS_1


__ADS_2