
Setibanya di rumah sakit, Rafka langsung ditangani oleh dokter kepercayaan sang bunda sekaligus sahabat bundanya. Mereka diminta untuk menunggu di luar.
Deraian air mata menghiasi pipi mulus wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya yang tak lagi muda. Ia terus melafalkan doa agar anaknya baik-baik saja. Ia ingin menghubungi suaminya, tetapi lupa tak membawa ponsel.
Beberapa menit kemudian, Dokter cantik berbaju abu-abu membuka pintu tempat Rafka ditangani.
"Rani, bagaimana keadaan Rafka? Dia baik-baik saja, 'kan?" Bunda Raya langsung mencecar sahabatnya. Tampak kekhawatiran di binar matanya yang teduh tertutup beling-beling kristal.
"Kamu nggak usah khawatir, Ray. Rafka nggak apa-apa, kok. Dia hanya kurang istirahat sama nadinya lemah. Tolong jaga pola makannya dan istirahat yang cukup. Dia dirawat dulu, ya. kondisinya benar-benar lemah. Nanti dia akan dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP. Oh, iya, Rafka sebelumnya nggak seperti ini. Apa ada masalah sama anak kamu?" tanya Dokter Rani.
"Iya. Dia mendapati kekasihnya sedang bersama pria lain. Aku nggak percaya kalau dia dikhianati. Aku tahu bagaimana gadis itu," tutur Bunda Raya.
"Kisah anak muda sekarang meresahkan. Semoga Rafka segera membaik. Silakan kalau kamu mau lihat dia. Aku lanjut kerja lagi, ya." Dokter Rani langsung pergi begitu dijawab oleh Bunda Raya dan saling mengucapkan terima kasih.
***
Angin malam berembus. Dinginnya membungkus tubuh ringkih seorang gadis yang rambutnya dibiarkan tergerai. Ia berdiri di pagar pembatas balkon kamarnya. Menutup mata, mencoba merasakan dinginnya yang mampu menembus kulit.
Perlahan, ia membuka kedua matanya yang terpejam. Mendongak menatap sang rembulan yang memancarkan keindahannya lewat sinarnya. Air matanya mengalir, bahunya bergetar. Kisah cintanya tak seindah purnama malam ini.
Ia mengangkat tangan kirinya. Di sana, tersemat cincin emas di jari manisnya. Cincin lamaran dari laki-laki yang tak ia cintai. Laki-laki yang dianggap sebagai perusak kebahagiaannya di masa depan. Haruskah ia mengikhlaskan cintanya lebur begitu saja? Haruskah ia melupakan Rafka yang tak datang memperjuangkannya atau hanya sekadar mendengar penjelasannya?
Ia menunduk seraya memegang kuat pagar balkon kamarnya. Hatinya hancur dan ia terisak dalam sesak yang tak terelakkan. Cinta pertamanya harus kandas begitu saja. Tanggal pernikahannya telah ditentukan, dua minggu lagi. Itu membuat dirinya semakin terpuruk. 'Rafka, haruskah aku melupakan kamu? Haruskah ... haruskah ....' Batinnya tak sanggup untuk melanjutkan kalimat demi kalimat yang akan membuat ia semakin hancur.
Ia larut dalam pilu tak berkesudahan hingga indra pendengarannya menangkap suara ponsel tanda panggilan masuk. Segera ia masuk dan menuju nakas, tempat ponselnya berada. 'Bunda Raya?' Ia menatap bingung ada nama yang tertera. Ia menghapus air matanya dan menarik napas perlahan.
"Halo, Azalia," sapa Bunda Raya begitu panggilannya diangkat.
"I–iya, Bun." Azalia masih berusaha mengontrol dirinya agar tak kembali terisak.
"Azalia. Sayang, besok kamu sibuk?" Azalia mendengar Ibu dari Rafka itu bertanya sangat hati-hati.
__ADS_1
"Tidak, Bun. Ada apa?" tanya Azalia.
"Bisakah kamu datang ke rumah sakit besok, Sayang? Rafka
... Rafka, dia–"
"Rafka kenapa, Bun? Apa yang terjadi sama Rafka? Dia nggak apa-apa, 'kan?" Azalia khawatir. Ia menggigit jarinya.
"Dia nggak apa-apa. Tapi, dia sering menyebut nama kamu dalam tidurnya. Dia juga tidak mau makan. Bunda minta tolong sama kamu untuk datang besok. Bujuk dia agar mau makan. Bunda, nggak tahu harus bagaimana. Tolong Bunda, Azalia," lirih Bunda Raya seraya menangis.
Azalia kaget dengan Rafka yang saat ini berada di rumah sakit. Tangisnya kembali pecah mengingat Rafka yang terbaring di rumah sakit. Separah itukah efek dari kejadian tersebut. Ia pikir hanya dirinya yang merasa terpuruk, ternyata Rafka lebih dari itu.
"Insyaa Allah, Bun. Lia pastikan akan datang besok. Nanti Bunda kirim saja nama rumah sakit dan ruangannya. Lia akan datang." Dengan penuh semangat Azalia mengiyakan.
"Terima kasih, Sayang. Bunda tunggu kehadiran kamu besok." Panggilan terputus setelah Azalia menjawab dan saling mengucapkan salam.
Azalia terduduk di lantai sambil memeluk lutut. Ia menenggelamkan wajahnya di sana. Bahunya bergetar hebat. "Haruskah kamu melakukan itu semua, Rafka? Kenapa kamu harus nyakitin diri sendiri?" gumamnya.
Malam kian larut, selarut Azalia meratapi kisah cintanya.
***
Azalia berniat untuk menjenguk Rafka. Soal Alham, ia tak ambil pusing karena sejak acara lamaran mereka tak pernah bertemu ataupun hanya sekadar terlibat dalam obrolan kecil melalui ponsel. Keduanya tak saling menukar nomor ponsel.
Di meja makan, Azalia berusaha menghabiskan makanannya. Sementara, Sesil tampak kesal karena Azalia akan menikah dengan mantan dosen mereka yang terbilang ganteng dan kaya.
'Ah, kalau kayak begini gue seperti merasa rugi. Rafka nggak mau sama gue dan Azalia malah yang lebih dari Rafka. Seharusnya gue cari laki-laki yang tua dan pemabuk. Aaah!' Sesil yang tengah menggerutu dalam hati tak sadar jika membanting sendok dengan begitu keras, sehingga semua orang yang ada di sana menatap ke arahnya.
"Kenapa kamu?" tanya Papa Rusdi.
"A–e–eh, nggak apa-apa, kok. Maaf," ucap Sesil menunduk.
__ADS_1
"Makan dan segera ke kampus. Kapan kamu sidang skripsi?" Papa Rusdi menatap Sesil dalam.
Sesil menciut melihat tatapan papanya. "Minggu depan, Pa," cicitnya.
Brak!
Papa Rusdi memukul meja menimbulkan suara yang sangat keras. Mereka terlonjak, kaget dengan hal itu. Namun, tidak bagi Azalia. Walaupun papanya sudah berkata akan membahagiakannya.
"Kenapa kamu selalu mengatakan minggu depan terus, Sesil? Jangan coba-coba bohongi Papa atau Papa akn datang ke kampus kamu!" serunya.
Azalia yang tak ingin terlibat dalam pertengkaran itu memilih untuk beranjak. "Mau ke mana, Nak?" Suara papanya berubah lembut tatkala melihat ia berdiri.
"Mau keluar, Pa. Ada urusan bentar. Aku pamit, ya." Ia menyalami papanya, lalu menatap ragu pada mamanya yang terus makan.
Papa Rusdi yang paham pun langsung menyuruh Azalia pergi dan menasehati agar-agar hati dalam mengendarai motor. Ya, Azalia memilih naik motor hingga sekarang agar tak bisa menyalip sedikit demi sedikit ketika sedang macet.
Ia melangkah menuju motornya terparkir dan langsung menuju rumah sakit. Membelah jalanan ibukota yang mulai dipadati kendaraan.
Hatinya terus menggumamkan doa agar Rafka baik-baik saja. Cahaya keemasan yang terpantul dari cincin di jari manis kirinya kembali menghadirkan sesak. Haruskah ia melepaskannya untuk sementara waktu? Haruskah ia menyembunyikannya? Tapi, semua tak ada gunanya lagi. Ia telah mengatakan bahwa laki-laki lain telah meminangnya.
Ia kembali dilanda kegamangan, akankah Rafka tak akan mengusirnya? Apakah luka hati yang masiv menganga itu akan kembali menimbulkan perih yang tak terkira? Semua pertanyaan itu berputar bak kaset di kepalanya. Ia hampir saja jatuh jika tak cepat mencengkram rem. Mobil di depannya langsung berhenti tiba-tiba dan keluar seorang laki-laki yang begitu ia kenal.
"Dia?" lirih Azalia
...to...
...b...
...e...
...continue...
__ADS_1
..............
...Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 🥰...