
...Happy Reading Guys ...
Sesuai rencana kedua orang tua Alham. Mereka hari ini akan bertolak menuju Pulau Bunaken yang ada di provinsi Sulawesi Utara. Bukan tak ingin keluar negeri atau ke Bali dan Sumba, tetapi Azalia ingin sekali melihat pulau Bunaken yang dikenal dengan nama Surga Dunia.
Keindahan bawah laut yang menjadi tempat snorkeling para wisatawan baik lokal maupun mancanegara membuat hati Azalia terpikat.
Pagi yang penuh dengan kehangatan dari sang surya, turut mengantarkan keluarga kecil dua keluarga menuju bandara Soekarno-Hatta. Dua keluarga tersebut adalah keluarga Papa Rusdi dan juga Papa Bayu.
Di antara mereka ada Sesil yang juga turut mengantar. Namun, raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. Ia terus menatap tajam Alham yang saat ini tengah memeluk Azalia dengan begitu mesranya. Lebih parahnya lagi, Alham seolah tak peduli akan tatapannya.
Mama Lana pun seolah tak peduli dengan kepergian Azalia dan Alham ke Pulau Bunaken. Ia ingin pergi bertemu teman-temannya, tetapi sang suami malah meminta mereka untuk ke bandara. Tentu saja hal itu membuat ia kesal.
'Awas saja kalau sampai kecantol pas balik dari honeymoon ini. Aku nggak akan tinggal diam. Kali ini, aku biarkan kalian bersenang-senang.' Sesil membatin seraya mengepalkan tangannya.
"Sayang, selama di sana jangan memikirkan apapun, ya. Kalian bersenang-senanglah. Pulang nanti, jangan lupa bawa kabar bahagia," ucap Mama Tina seraya memeluk menantu kesayangannya.
"Insyaa Allah, Ma." Azalia membalas pelukan tersebut.
"Alham, jaga anak Papa. Awas kalau kamu macam-macam sama Azalia. Papa sunat dua kali kamu!" timpal Papa Rusdi.
"Jahat sekali jadi mertua. Cuma satu macam, kok. Bener, 'kan, Yang?" Alham mengedipkan sebelah matanya pada sang istri.
"Duh, Pa, kutub utara kita kapan mencair, sih?" celetuk Mama Tina
__ADS_1
"Papa juga nggak tahu, Ma," sahut Papa Bayu.
'Dia kenapa harus seperti itu, sih? Awas kamu, ya. Nggak tahu apa kalau aku sudah nggak tahan lihatnya,' batin Azalia seraya menatap tajam pada kakak iparnya.
"Sudahlah, kalian mending pulang. Aku sama Azalia akan segera berangkat." Alham mendatarkan wajahnya.
"Kamu ngusir?!" seru Mama Tina.
"Ma, sudah, ya. Jangan dengerin dia. Tapi, bentar lagi juga kami akan berangkat, nggak apa-apa kalau memang sudah mau pulang," ucap Azalia lembut.
"Kami akan menunggu sampai kalian berangkat saja." Papa Rusdi ingin terus melihat anaknya. Azalia selama menikah belum mengunjunginya. Papa Rusdi pun memahami hal tersebut.
***
"Kenapa kita harus memakai acara transit? Kamu sebenarnya ingin ke Pulau Bunaken atau menjelajah seluruh Sulawesi?"
Azalia menoleh. "Ide kamu bagus juga. Boleh dicoba kayaknya," jawab Azalia santai.
Ia mengeluarkan ponsel dan juga earphone dari tas kecilnya, lalu menyetel musik dan mendengarkan seraya menatap gumpalan awan yang sangat putih bersih tanpa noda sedikitpun.
Ia masih larut dalam pemandangan di luar, mengabaikan Alham yang saat ini merasa kesal. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan melepaskan earphone dari telinganya. "Kamu kenapa menyetujui hal gila ini?" tanyanya pada Alham yang berada di sampingnya.
"Kamu nggak lihat, kekasih kamu menatap aku seakan-akan aku telah mengambil barang miliknya yang begitu berharga," imbuh Azalia.
__ADS_1
"Kamu memang telah mengambil miliknya. Tapi, bukan barang karena aku bukan barang!" tekan Alham.
Azalia tertawa sinis, "Aku tidak bilang kamu barang dan apa yang sudah aku ambil darinya? Cinta? Kasih sayang? Itu semua tidak aku dapatkan dari orang-orang terdekatku, termasuk darimu. Aku pernah mendapatkan semua itu hanya sekali, itu pun sirna semenjak kamu hadir menjadi suamiku. Katakan pada kekasihmu, aku tak berniat untuk mengambil kamu darinya setelah dari agenda kali ini. Bilang juga, aku tak seperti dia yang suka menggunakan trik-trik rendahan untuk mendapatkan sesuatu." Azalia memasang kembali earphone, lalu menutup mata mencoba menenangkan hatinya.
Rahang Alham mengeras. Ingin sekali ia memukul wanita di sampingnya itu. Ini seperti sebuah penghinaan baginya. Tak pernah seorangpun bersikap seperti ini padanya. 'Tenang, Alham. Jangan sampai membuat keributan di sini.' Ia pun mengatur napasnya yang tiba-tiba memburu. Lalu, ikut memejamkan matanya.
...***to...
...be...
...continue***...
...................
*Ok, segitu aja dulu, ya.
Maaf jika part ini pendek.
Maaf juga jika banyak typo
salam sayang dari author 😘
Oh, iya, jangan lupa follow ig author @siska.saidi
__ADS_1
Fb Siska Saidi*