Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Akhirnya Selesai


__ADS_3

ok, maafkan author yang baru update hari ini karena kesibukan di duta. Author hanya bisa up pendek-pendek karena pekerjaan. semoga kalian paham dan tetap setia dengan cerita ini.


...Happy Reading 😘...


Pria beristri yang baru saja kembali dari kamar menatap heran pada wanita berambut pirang sebahu yang masih berdiri di teras rumah. "Kenapa belum duluan saja?" tanya Alham.


"Aku nungguin kamulah. Aku udah bilang kita semobil, nggak ada bantahan!" tegas Sesil.


"Mau bicara berdua di kafe atau tidak?" ancam Alham dengan tatapan tajamnya.


Sesil yang tak berani berkutik pun hanya bisa menghentakkan kakinya, lalu melangkah ke mobil dengan perasaan kesal.


Keduanya pergi ke tempat yang dikatakan Alham. Sementara, Azalia menatap mereka dari balik jendela kamar yang ia tempati sebelumnya. Ia berharap hubungan tak pantas antara suami dan saudari tirinya akan berakhir.


***

__ADS_1


Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka tiba di kafe. Alham langsung masuk tanpa menunggu Sesil keluar dari mobilnya. Sementara itu, Sesil menggerakkan kesal.


"Mau bicara apa?" tanya Alham begitu Sesil duduk di depannya.


"Kamu kenapa, sih? Aku bahkan belum sarapan dan kamu malah mencecar aku dengan pertanyaan kamu? Harusnya aku yang nanya, kamu yang kenapa?" kesal Sesil.


"Aku nggak apa-apa. Aku hanya mau hubungan kita sampai di sini saja dan jangan ganggu aku lagi apalagi menggangu istriku. Berani kamu menyentuhnya, sama saja dengan kamu melawan aku. Ingat itu!" Setelah mengatakan hal tersebut, Alham bergegas keluar dari kafe dan menuju rumahnya untuk menemui sang istri.


"Sial! Awas saja kalian, aku ingin lihat sampai di mana kebahagiaan kalian," gumam Sesil penuh emosi.


Matahari bersinar bersama kehangatannya yang mengiringi setiap langkah manusia. Pepohonan rindang berjejer rapi di pinggir jalan. Alham membiarkan jendela mobilnya terbuka agar bisa merasakan kesejukan udara di pagi hari. Senyumnya cerah, secerah mentari yang berada di ufuk timur.


"Azalia? Azalia? Kamu di mana?" panggil Alham saat berada di lantai dasar rumahnya.


Derap langkah yang terdengar dari lantai dua membuat Alham cepat-cepat menuju suara tersebut. Ia berlari agar bisa sampai pada Azalia yang berdiri anak tangga teratas.

__ADS_1


"Kamu kenapa belum ganti baju?" tanya Alham begitu berhadapan dengan istrinya.


"Memangnya kenapa? Kita mau ke mana?" Azalia menatap bingung.


"Ke mana saja yang kamu mau. Hari ini, aku siap menjadi sopir tuan putri. Ayo, ganti baju dulu." Salah satu angan Alham terulur untuk meminta salah satu tangan Azalia. Ia membungkuk layaknya seorang pangeran yang mengajak sang putri berdansa.


Perempuan dengan pakaian kemarin yang melekat di tubuhnya itu terkekeh, lalu menerima uluran tangan tersebut dengan senang hati.


"Kamu keluar dulu. Aku mau siap-siap," ucap Azalia seraya mendorong Alham untuk keluar.


"Eh, eh, aku juga mau siap-siap. Kenapa malah di suruh keluar, sih?" protes Alham.


"Ya, kita gantian. Udah diam dulu di situ," geram Azalia.


"Tapi, kan kita ... suami istri." Suara Alham melirih di akhir karena pintu yang sudah tertutup dan dikunci dari dalam.

__ADS_1


"Apa salahnya, sih? Padahal suami istri juga. Tapi, nggak apa-apa karena hari ini gue lagi senang, bolehlah gantian," gumam Alham dan memasuki kamar sebelah yang ditempati oleh Azalia sebelumnya dan merebahkan diri di kasur.


...to be continued .......


__ADS_2