
*Jangan lupa follow author, ya. Tinggalkan jejak jugaðŸ¤
...Happy Reading 🥰...
Cinta adalah sebuah kata yang menyimpan sejuta makna. Cinta mampu menghadirkan tawa, juga mampu menghadirkan pilu.
Sejak pernikahan Azalia dua hari yang lalu, Rafka sering mengurung dirinya di kamar. Luka itu begitu besar sampai Rafka sendiri tak mampu untuk mengobatinya. Ia duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Matanya teduh menatap sebuah foto. Foto di mana ia bersama Azalia waktu kuliah dulu.
Bulir kristal di pelupuk matanya telah menumpuk, sekali ia mengedipkan sudah dipastikan akan tumpah ruah membanjiri pipinya.
"Aku harus bagaimana sekarang, Li? Aku harus membenci siapa? Atau ... haruskah aku menyalahkan takdir yang tak berpihak pada kita berdua? Kenapa rasanya sangat sakit untuk mengikhlaskan kamu," gumam Rafka sambil terisak di antara sesak yang menghimpit dadanya.
Hingga detik ini, rasa cinta itu masih utuh untuk perempuan bernama Azalia. Cinta yang hadir secara tak sengaja saat pertama kali ia melihatnya.
"Ka, Bunda masuk, ya." Suara dari luar membuat atensi Rafka teralihkan. Segera ia menghapus air matanya.
Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik mendekat padanya sembari tersenyum. Sang Bunda lantas duduk di depan Rafka.
"Ikhlaskan dia, Ka. Kalau kalian berjodoh, apapun yang terjadi tak akan jadi pemisah antara kalian berdua. Bicara soal hati, semua akan baik-baik saja pada waktunya. Tidak ada racun tanpa penawar, tidak ada luka tanpa obat, tidak ada rindu tanpa temu. Yakinkan diri kamu, bahwa semua akan kembali seperti dulu. Kita hanya perlu berjalan ka arah waktu yang tepat saja," tutur Bunda Raya seraya mengelus pundak anak sulungnya.
"Tapi, kenapa harus sesakit ini, Bun? Rafka masih belum bisa mengendalikan diri," lirih Rafka.
Matanya yang merah membuat Bunda Raya yakin seratus persen bahwa Rafka sangatlah mencintai Azalia yang kini telah bersanding bersama orang lain. "Pergilah ke Belanda untuk menenangkan diri. Mungkin kamu akan mengerti seperti apa ikhlas yang sesungguhnya ketika di sana. Kamu berada di sini pasti akan bertemu mereka. Cobalah untuk ke sana bertemu Om Darwin. Malam ini kamu berangkat. Tapi, sebelum itu, temui Azalia. Bunda yakin dia pasti mau menemui kamu untuk yang terakhir kalinya," saran Bunda Raya.
'Haruskah aku mengikuti saran, Bunda?' batin Rafka.
"Bunda akan bantu kamu untuk siap-siap. Sekarang kamu mandi, Bunda akan bawakan makanan untuk kamu." Tanpa menunggu lama Bunda Raya keluar dari kamar Rafka.
__ADS_1
"Maafkan, Bunda, Nak. Bunda sebenarnya tak ingin berpisah dari anak-anak Bunda. Tapi, kamu juga harus bangkit melawan luka hati," gumam Bunda Raya sembari menghapus air mata yang jatuh.
***
Suasana kafe dekat toko milik Azalia terlihat ramai. Banyak dari mereka adalah anak muda.
Di salah satu meja yang berada di sudut kafe, terlihat seorang laki-laki berkemeja hitam sedang melihat lalu-lalang kendaraan di luar. Terkadang tatapannya kosong.
Atensinya teralihkan saat tak sengaja ekor matanya menangkap sosok yang ia nanti memasuki kafe. Antara senang dan sedih, melihat sosok yang namanya masih bertahta di hatinya.
"Maaf sudah lama menunggu," ucap perempuan itu.
Suara itu begitu dirindukan oleh Rafka. Sesaat ia terpaku, menatap dalam pada netra cokelat tersebut. Netra keduanya saling mengunci, seolah mengalirkan rasa rindu yang terpendam.
Rafka mencoba menguasai dirinya, ia berdehem. "Nggak apa-apa. Silakan duduk." Ia mengarahkan tangannya ke kursi di depannya.
"Bagaimana kabar kamu?" Keduanya kompak saling bertanya membuat rasa canggung menyelimuti mereka.
Mereka terkekeh dengan tingkah yang baru saja terjadi. "Oh, iya, ada yang mau aku sampaikan ke kamu, Li," ucap Rafka kemudian.
"Apa itu?" tanya Azalia.
"Sebelumnya, terima kasih karena sudah sudi mengisi hari-hariku. Aku percaya kamu tidak mengkhianati aku. Aku yang bodoh karena terlalu egois." Rafka menghela napas perlahan. "Berbahagialah, Lia. Jalani harimu dengan penuh warna. Cintailah suamimu karena dia yang berhak atas kamu begitu juga sebaliknya," imbuhnya.
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu?" Netra cokelat milik Azalia mulai berkaca-kaca.
"Aku akan ke Belanda sampai dengan waktu yang tidak ditentukan. Mungkin dengan itu aku bisa mengikhlaskan kamu bersama orang lain. Aku mohon, Lia. Berbahagialah, rajut kembali kebahagiaan yang selama ini kamu impikan. Berikan warna yang lebih terang pada kehidupan kamu sebelumnya. Tapi, izinkan aku untuk tetap menyimpan cinta ini hanya untuk kamu meskipun kamu telah berpunya," tutur Rafka menatap lembut perempuan yang telah berlinangan air mata.
__ADS_1
"Bel–Belanda? Tak bisakah kamu untuk tetap tinggal? Bagaimana bisa aku memberi warna pada hidupku kalau warnanya akan menjauh? Kumohon, tetaplah berada di sini hingga satu tahun ke depan." Tangis Azalia pecah mengingat pernikahannya, ditambah dengan Rafka yang akan pergi jauh.
"Kamu nggak bisa berkata seperti itu, Lia. Kita tak bisa bersama. Aku tak sanggup melihat kamu bersama orang lain. Aku harus menjauh agar luka ini bisa segera sembuh. Begitupun kamu. Semua hanya tentang waktu. Kamu pasti bisa mencintai suamimu kelak." Ada perasaan pedih di hati Rafka tatkala menyebut kata suami yang ditujukan untuk orang tercintanya.
"Malam ini aku akan pergi. Terima kasih sudah mau bertemu aku untuk terakhir kali. Aku akan berusaha menerima kamu sebagai temanku. Berusahalah untuk itu juga. Agar tidak ada pihak yang akan tersakiti kelak. Aku permisi." Rafka bangkit untuk pergi. Namun, tangan mungil telah melilit di perutnya.
Kemejanya terasa basah di belakang. Gadisnya terisak di punggungnya. Bohong jika Rafka tak ingin membalas pelukan itu. Bohong jika Rafka ingin menghiraukan gadis itu. Tapi, dia tak berhak untuk hal tersebut.
"Kumohon, Rafka. Jangan pergi, hanya kamu yang memahami aku," ucap Azalia di sela tangisannya.
Perlahan, Rafka melepaskan tangan itu kemudian berbalik. Ia menghapus air mata Azalia sembari tersenyum. Senyum yang bukan hanya untuk menguatkan Azalia, tetapi juga dirinya.
"Jangan menangis. Nanti orang pikir aku berbuat macam-macam sama kamu," canda Rafka. "Biarkan aku pergi kalau kamu mencintai aku. Biarkan aku mengobati luka hati ini. Berbahagialah," imbuhnya seraya melepaskan tangan Azalia dan melangkah pergi.
"Rafkaaa! Jangan pergi! Rafkaaa!"
Rafka berusaha untuk mengabaikan teriakan Azalia. "Maafkan aku, Li. Semoga ini yang terbaik untuk kita. Aku masih berharap kita berjodoh kelak. Untuk saat ini, aku harus mengikhlaskan kamu," gumam Rafka ikut menangis melihat Azalia yang terus berteriak memanggil namanya.
...to...
...b...
...e...
...continue guys...
............
__ADS_1
*Yaaah, Rafkanya bakal pergi. Kira-kira pernikahan Azalia bagaimana ya?
Tunggu kisah selanjutnya 🥰😘