Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Teringat Azalia


__ADS_3

...Happy Reading Guys 🥰...


Sejak Azalia pergi lebih dulu ke penginapan, perih terpatri di dasar hatinya. Ingin mengejar, tetapi takut akan mendapat penolakan. Tak dikejar, sang istri pasti akan lebih salah paham dan berpikir bahwa ia hanya mempermainkan perasaannya.


Saat ini Alham berada di kamarnya, sembari melihat banyaknya notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab yang tak sedikit jumlahnya. "Aku harus menyelesaikan masalah ini," gumamnya.


Saat akan menelepon balik, tiba-tiba Sesil telah lebih dulu menghubunginya. "Halo," sapanya malas.


"Kamu itu ke mana saja, sih? Dari tadi siang nggak ada kabar. Aku chat nggak dibalas, di telepon nggak diangkat. Terus tadi, kenapa kamu reject panggilan aku?" seru Sesil di seberang sana.


Alham segera menjauhkan ponselnya dari telinga. "Kamu bisa nggak pertanyaannya satu-satu?" kesal Alham.


"Nggak bisa! Kamu ke mana saja? Hah?"


"Aku tadi sampai sini siang sekitar jam satu, Terus lanjut istirahat, kamu pikir nggak capek apa? Udah, aku mau tidur," Alham langsung mematikan sambungan telepon begitu saja tanpa.


"Aaa!" Sesil membanting ponselnya ke kasur sembari berteriak. "Nggak! Nggak mungkin Alham akan berpaling dari aku. Secepatnya Alham harus menceraikan Azalia bagaimana pun caranya." Sesil tersenyum jahat.


***

__ADS_1


Kehidupan Rafka di Belanda begitu baik, terlebih saat ia mengenal Ilyas.


"Bengong aja. Nggak kuliah?" tanya Ilyas begitu tiba di depan Rafka yang termenung. Ia dengan senang hati menerima permintaan yang mengajaknya untuk makan siang di luar.


Atensi Rafka teralihkan pada sosok Ilyas yang memakai pakaian kerja formal. "Sudah, tadi pagi. Sekarang lagi bosan aja, nggak tahu mau ngapain." Rafka begitu tak bersemangat hari ini, entah apa penyebabnya. "Melupakan cinta pertama itu ternyata sulit, ya, Bang," ucap Rafka tiba-tiba.


Punggungnya ia sandarkan di kursi dan tatapannya kosong mengarah ke gelas yang berisikan jus jeruk. Bulir kristal yang menempel di gelas membuat Rafka mengusap gelas itu agar buliran kristal itu melebur.


"Kamu lagi memikirkan pacar kamu? Oh, ralat, mantan kamu maksudnya." Rafka mengangguk.


"Abang tahu? Dia orang pertama yang bisa bikin aku merasakan cinta pada pandangan pertama. Senyumnya kala itu begitu manis. Dia cantik dengan rambut panjangnya yang hitam. Dia bahkan seperti bidadari saat cahaya matahari menerpanya. Tapi, aku sekarang hanya bisa menikmati masa lalu kami tanpa bisa menikmati kebersamaan di masa depan."


"Apa maksud kamu?" tanya Ilyas.


"Boleh aku tahu, kenapa dia memilih laki-laki lain daripada kamu?" Ilyas menghargai privasi orang lain, makanya ia meminta izin terlebih dahulu.


"Aku bingung untuk mengatakan dia berselingkuh atau tidak, Bang." Rafka mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan sembari mengingat kembali kejadian yang mematahkan hatinya.


Sementara, Ilyas diam menunggu kelanjutan cerita Rafka. "Saat itu, aku sama papanya melihat dia tengah berciuman mesra di ruangan kerja kolega bisnis kami. Kami akan membicarakan tentang kerja sama tiga perusahaan. Tapi, malah hal itu yang kami dapatkan. Aku hancur saat itu, Bang. Aku tidak tahu harus melakukan apa saat itu. Aku ingin percaya kata-katanya yang terus mengatakan semua salah paham. Tapi, bagaimana aku harus percaya sementara itu terjadi di depan mataku." Air mata Rafka tiba-tiba luruh tanpa dipinta.

__ADS_1


Ilyas memahami arti air mata itu walopun ia tak pernah ada di posisi itu. Kesedihan Rafka menandakan bahwa ia sangat mencintai mantannya itu. "Apa karena hal ini kamu pergi ke negeri kincir angin ini?" Rafka mengangguk sembari menghapus air matanya.


Ilyas sekarang paham, Memang tidak mudah untuk melupakan cinta pertama. Melihat Rafka akan kembali melanjutkan ceritanya, Ilyas pun segera memotongnya. "Tidak usah dilanjutkan ceritanya kalau itu akan membuat kamu mengingat kembali rasa sakit yang sangat luar biasa. Dengan air matamu itu, aku tahu kamu sangat mencintainya. Dia saja yang bodoh meninggalkan kamu demi laki-laki lain. Sudahlah, lupakan dia. Kamu fokus belajar dan perbaiki diri kamu. Aku yakin, kalau kamu sukses, dia pasti akan menyesal," ujar Ilyas. "Mending cari bule di sini, jangan lokal mulu," canda Ilyas.


Rafka terkekeh, lali berkata, "Kayak pernah pacaran sama bule aja."


"Aku, kan, setia." Ilyas menyugar rambutnya.


"Iya, setia sama kertas dan laptop. Tuh, di bawa ke mana-mana," tunjuk Rafka pada laptop yang terisi di tas dan terletak di kursi samping Ilyas.


Mereka terkekeh bersama. Lalu, mulai menikmati makan siang dengan sesekali diiringi obrolan ringan.


...to be continued .......


**Makasih yang sudah mengikuti cerita ini sampai saat ini.


Jangan lupa tinggalkan jejak, ya🥰


Follow sosmed author lainnya

__ADS_1


Ig siska.saidi


Fb Siska Saidi*


__ADS_2