Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Salah Paham


__ADS_3

...Happy Reading 🥰...


..."Aku menyukai kopi beberapa saat lalu, tetapi perutku sering sakit. Seiring berjalannya waktu, aku tak lagi meminum kopi melainkan susu. Namun, kali ini bukan lagi perutku yang sakit. Tapi, juga dadaku yang terasa sesak."...


...---------------...


Sebulan setelah acara wisuda, kini Sesil telah bekerja di perusahaan papanya sebagai karyawan biasa. Bukan tanpa sebab ia ditempatkan di bagian itu. Papanya hanya ingin ia memulai karirnya dari bawah. Sesil tak membantah akan hal itu karena ia mempunyai niat terselubung tanpa ada yang tahu.


Hari ini adalah pertama kali ia masuk ke perusahaan papanya sebagai seorang karyawan. Ia berjalan dengan angkuhnya kar menganggap dirinya tetaplah anak dari pemilik perusahaan.


"Hey, minggir kalian. Aku mau masuk duluan," ucapnya pongah di hadapan karyawan lain saat akan memasuki lift.


"Siapa kamu? Dari divisi mana? Karyawan biasa saja gayanya selangit. Dipecat, baru itu nangis," ucap salah satu karyawati dengan nada mengejek.


"Heh, jaga sikap kamu, ya. Saya bisa memecat kamu sekarang juga." Sesil kesal dan menunjuk orang itu.


"Sudah. Maaf, Bu. Ibu silakan duluan." Salah seorang karyawati melerai karena tak ingin temannya dipecat.


"Akan saya ingat wajah kamu!" tunjuknya, lalu memasuki lift seorang diri.


"Dia itu siapa, sih? Songong banget jadi orang, segala bilang bisa memecat." Karyawati yang dikenal dengan nama Mira itu kesal bertemu orang seperti Sesil di pagi hari.


"Dia itu anaknya Pak Bayu, pemilik perusahaan ini. Aud kamu jngan sampai bermasalah sama dia, bisa-bisa kamu akan berakhir dengan pemecatan seperti kata dia. Mau kamu baru seminggu kerja sudah dipecat?"


"Astaga, aku nggak tahu. Nanti aku akan minta maaf sama dia, deh."


Papa Bayu yang berada di belakang mereka mendengar dan melihat apa yang terjadi di depan lift. Ia tak ingin Sesil menyalahgunakan kekuasaannya di perusahaan ini. Ia kemudian, menaiki lift yang ada di sebelahnya tanpa memedulikan sekitar. Ia begitu kesal dengan tingkah Sesil yang seenaknya pada orang lain.


...***...


Sang surya telah berada di atas kepala dan cuaca semakin panas. Lalu lalang kendaraan tak pernah berhenti bersamaan dengan polusi udara yang semakin tercemar.


Alham memijit pelipisnya saat sang papa memintanya untuk pergi ke Belanda melihat situasi di sana karena perusahaan di sana tengah mengalami masalah.


"Apa tidak Papa saja yang pergi? Kalau aku yang ke sana, bagaimana dengan istriku, Pa?" Alham mencoba bernegosiasi dengan papanya.


"Kamu tenang saja, Azalia bisa pulang ke rumahnya atau bisa pulang ke rumah Papa. Kalau masalah di sana cepat selesai, tiga hari kamu bisa segera pulang. Kalau lama, berarti seminggu. Kita tidak ada waktu lagi, Al. Pekerjaan kamu di sini akan Papa handle dibantu Andre," ujar Papa Rusdi.


"Tapi, Pa ...."


"Nggak ada tapi-tapi, Alham. Papa yakin, Azalia akan memahaminya. Cobalah berbicara padanya sekarang. Papa percaya kamu bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya." Papa Rusdi menepuk pundak anaknya berusaha memberikan semangat.


"Baiklah," putus Alham tak bersemangat. "Tapi, Raja akan ikut bersama aku, 'kan?" sambungnya seraya menatap sahabat sekaligus asistennya itu. Lalu, beralih menatap papanya dengan sorot memohon.

__ADS_1


Papa Rusdi menghela napas kasar, "Baiklah."


"Ya, sudah. Aku akan mencoba berbicara dengan Azalia."


Alham keluar menuju parkiran untuk menemui istrinya. Berat rasanya meninggalkan sang istri, terlebih ini akan jadi pertama kali mereka berpisah. Ia hanya berharap Azalia mengijinkan dan pekerjaannya cepat selesai.


Di tengah perjalanan, ia terjebak macet. Lelaki dengan kemeja berwarna maroon itu membunyikan klakson dengan tidak sabaran. Namun, hasilnya nihil membuat ia memukul kemudi beberapa kali.


Kesalnya kian menjadi, saat sang istri tak mengangkat teleponnya. "Dia ke mana, sih? Ini pakai acara macet pula. Tahu begini aku lebih baik pakai motor," umpatnya.


drtt! drtt!


Alham yang diliputi rasa kesal langsung mengangkat telepon dan marah-marah tanpa melihat siapa yang memanggil. "Aku lagi pusing. Jangan menelepon kalau nggak penting!" serunya.


Azalia yang berada di seberang sana kaget mendengar sedikit bentakan dari suaminya. Ia memastikan kembali bahwa benar orang yang ia telepon adalah sang suami. "Jangan mengganggu lagi!"


tut! tut! tut!


Azalia yang mendapat bentakan seketika air matanya mengalir. Ia merasa sesak karena pertama kali Alham seperti itu sejak mereka mulai membina rumah tangga dengan baik. Jari lentiknya mulai menekan-nekan layar benda pipih yang ia pegang. Entah apa yang ia ketik. Setelahnya ia berlari keluar dan memanggil taksi dan pergi entah ke mana.


Sementara, lelaki yang baru saja keluar dari kemacetan melihat pesan yang baru saja masuk di ponselnya.


My Beloved🖤


[Kamu tak perlu membentakku. Aku cukup tahu diri jika kamu sibuk. Mulai saat ini, aku tidak akan mengganggumu lagi. Maaf, untuk yang tadi]


Ia mencoba menghubungi istrinya, tetapi tak diangkat. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata agar segera sampai di toko sang istri. Tak peduli umpatan para pengendara lain ataupun pejalan kaki.


Begitu tiba, ia tak menemukan Azalia dan malah mendapati laporan bahwa Azalia keluar sambil menangis. 'Sayang, maafkan aku,' batinnya.


Ia segera mencari sang istri di daerah sekitar, tetapi tak ia temukan setelah beberapa saat. Kemudian, ia memilih untuk ke rumah, berharap yang dicari berada di sana.


...***...


Azalia meringkuk di balik selimut tebal dengan air mata yang sejak tadi tidak mai berhenti. Benarkah ia mengganggu? Jika benar, apa harus dibentak? Banyak pertanyaan-pertanyaan yang semakin membuatnya sakit karena tak menemukan jawaban sendiri.


"Sayang." Suara seseorang yang ia kenal terdengar seiring dengan terbuka pintu kamar. Namun, ia bergeming.


Alham masuk dan melihat ponsel istrinya yang tergeletak begitu saja si atas nakas samping tempat tidur. "Sayang, maafkan aku, ya," ucapnya penuh penyesalan dan memeluk istrinya dari belakang.


Azalia bergeming, tetapi air matanya justru semakin deras. 'Berapa kali lagi aku harus memaafkan kamu, Mas?' tanyanya dalam hati.


"Sayang aku mohon, maafkan a–" Ucapan Alham terpotong saat Azalia menyingkirkan tangannya.

__ADS_1


Azalia duduk masih dengan membelakangi Alham. "Keluar! Aku ingin sendiri," ucapnya.


"Nggak sebelum kamu maafkan aku."


Azalia bangkit dan menatap suaminya penuh emosi. "Katakan padaku berapa kali lagi aku harus memaafkan kamu, hah? Berapa kali?! Apa janji yang kamu buat hanya untuk diingkari?" teriak Azalia.


Alham diam dan menatap istrinya. Membiarkan Azalia mengeluarkan semua yang dirasakan.


"Kamu tak seharusnya membentak aku. Aku hanya ingin minta maaf karena tidak mengangkat telepon karena lagi bantu karyawan aku. Tapi, apa yang aku dapat? Bentakan dari kamu! Kamu pecundang yang bisanya janji tanpa menepati?" serunya seraya menunjuk Alham yang duduk di sisi tempat tidur.


"Sudah marahnya? Sudah selesai dengan semua yang ingin kamu sampaikan? Bisa dengarkan penjelasan aku dulu?" Alham bukan mencoba menantang perempuan di depannya yang sedang dikuasai emosi. Ia hanya ingin Azalia benar-benar mendengarkan penjelasannya sampai mengatakan akan ke Belanda.


"Penjelasan? Apalagi yang mau dijelaskan? Hah?"


"Azalia, aku mohon dengarkan penjelasan aku. Kalau seperti ini, aku tidak akan tenang meninggalkan kamu," ucap Alham tak semangat.


"Apa kamu bilang? Oh, jadi kamu membentak aku agar aku bisa segera pergi dari hidup kamu. Iya? Hahaha, lucu sekali hidupku. Bertahan dengan orang yang sama sekali tak menginginkan aku. Seharusnya aku telah pergi saat kamu selingkuh dengan Sesil. Mungkin lukaku takan separah ini. Selamat kamu berhasil mengoyak-ngoyak hatiku sampai tak berbentuk. Selamat, Alham. Selamat." Azalia tersenyum miris dengan nasibnya yang tak selalu baik.


"Azalia, bukan itu maksud aku." Alham masih berusaha untuk sabar menghadapi istrinya.


"Lalu, apa maksud kamu, hah?! Apa kamu akan mengatakan secara jelas seperti kemarin? Katakan siapa wanita itu! Katakan!" teriak Azalia masih dengan air mata yang mengalir.


Alham yang tak bisa lagi menahan kesabarannya langsung mengangkat sebelah tangan berniat untuk menampar, tetapi urung karena sadar ia telah dikuasai iblis dan itu akan membuat istrinya semakin terluka.


"Aaah!" Tangannya yang terangkat berakhir dengan dikepal sampai buku jarinya memutih. Sementara, Azalia langsung menutup wajahnya.


Masalah hampir semakin panjang jika Alham menampar istrinya, beruntung hal itu tak terjadi. Lelaki berhidung mancung itu berusaha mengatur napasnya. "Kamu salah paham, Azalia," ucapnya pada Azalia yang tersedu.


"Aku akan ke Belanda sore ini. Bagaimana aku bisa tenang meninggalkan kamu dengan keadaan seperti ini. Aku kesal dengan Papa yang tetap meminta aku untuk pergi, lalu aku akan menemui kamu. Tapi, di tengah perjalanan ada kemacetan, kamu ditelepon nggak diangkat." Alham meraih pundak Azalia.


Aku posisinya benar-benar pusing. Aku tidak ingin jauh dari kamu sekarang. Saat kamu menelepon aku langsung mengangkat tanpa melihat dulu. Aku minta maaf soal bentakan tadi. Salah paham ini cukup sampai di sini, aku tidak ada wanita lain selain kamu. Aku hanya mencintaimu, Sayang." sambung Alham, lalu memeluk dan mengecup puncak kepala istrinya membuat Azalia semakin menangis kencang.


"Jangan menangis lagi, ya. Kamu nggak salah, aku yang salah di sini. Tenangkan hati kamu karena kita akan berpisah sementara," tutur Alham lembut.


"Maafkan aku."


"Iya. Kamu tenang dulu, ya. Baru kita bahas keberangkatan aku." Azalia mengangguk, lalu Alham mengajak Azalia duduk di sisi tempat tidur.


Alham mencoba menenangkan istrinya. Sejujurnya, ia sangat berat, tetapi perusahaan mereka yang di Belanda juga membutuhkannya agar tetap stabil.


...to be continued.......


quotes di atas hanya pemanis, ya🤭

__ADS_1


part ini lebih panjang lagi dari yang semalam ternyata 😬


jangan lupa tinggalkan jejak 🖤


__ADS_2