
...Happy Reading š„°...
...Tinggalkan Likenya ya. Nggak sampai tiga detik, kokš...
Pekerja dengan pakaian khas perawat mengisi pandangan Azalia. Ia telah sampai di rumah sakit yang dituju. Langkahnya membawa ia ke ruangan di mana Rafka berada. Aroma obat-obatan menguar begitu ia menginjak lantai satu rumah sakit.
Lalu lalang para perawat dan keluarga dari pasien mengisi lantai dasar dari rumah sakit tersebut. Azalia dengan balutan baju hitam melangkah dengan pasti. Ia yakin, saat ini Rafka pasti sedang sarapan. Senyumnya terkembang mengingat Rafka.
Sebuah pintu bercat putih bertuliskan VVIP 1 telah menyambut Azalia yang berdiri mematung. Ia ragu untuk masuk. Saat akan memegang gagang pintu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dari dalam. Tangannya langsung ia turunkan begitu melihat siapa yang akan keluar.
"Loh, Azalia? Bagaimana kabarnya, Sayang?" tanya Bunda Raya seraya memeluk Azalia.
Azalia tak sungkan membalas pelukan tersebut. Ia menangis, betapa Bunda Raya masih sehangat dulu saat mereka pertama kali bertemu.
"Aku baik, Bun," balasnya setelah pelukan terlepas.
"Sudah dari tadi di sini? Kenapa nggak masuk?"
"Belum lama, Bun."
"Bun, siapa yang datang?" Suara yang begitu familiar memasuki indra pendengaran Azalia. Suara yang begitu ia rindukan seminggu terakhir ini. Suara dari orang namanya memenuhi hati Azalia.
"Kamu masuk saja. Bunda mau ke depan dulu." Bunda Raya meninggalkan sepasang anak muda itu tanpa berniat menjawab pertanyaan anaknya.
Azalia mengangguk dan menatap punggung wanita paruh baya itu menghilang di balik koridor rumah sakit. Ia mengembuskan napas pelan. Mencoba menetralkan jantung yang telah berdetak tak karuan.
__ADS_1
Rafka yang tak mendapat jawaban dari bundanya terus menatap ke arah pintu sampai akhirnya ia tertegun melihat siapa yang masuk. Irama jantungnya tak lagi beraturan. Telinganya sampai berdenging. Tatapan dan senyum itu sangat ia rindukan. Ia menatap tak berkedip, menikmati sebuah pahatan maha karya Tuhan yang sangat indah.
Ia tersenyum, tetapi sedetik kemudian ia kembali tertegun karena gadis di depannya berhenti dan malah menangis.
Sejenak ia berpikir hingga netranya menangkap benda berwarna emas di jari manis gadis itu. Ia paham sekarang kenapa gadis itu menangis. Ia mencoba menahan perihnya luka hati.
"Dengan siapa kamu ke sini, Li?" tanya Rafka lembut. Namun, di balik perkataannya yang lembut terdapat luka yang menganga hingga perihnya tak bisa dijelaskan.
Ia berusaha agar tak ikut menangis. "Kenapa kamu harus seperti ini, Ka?" Azalia menatap Rafka dengan lelehan air mata.
Pemuda yang berada di ranjang rumah sakit itu tersenyum tulus. Senyum yang membuat dada Azalia kian sesak. Isakannya terdengar memilukan. "Kemarilah, apa kamu tidak capek berdiri terus," pinta Rafka.
Azalia dengan perlahan mendekati Rafka sambil menunduk. Ia sudah tak berani menatap pemuda di depannya. Kenapa Rafka harus bersikap seperti itu? Seharusnya ia marah dan mengamuk karena Azalia akan menikah dengan orang lain. Begitu pikirnya.
"Duduk, Lia." Rafka kembali bersuara lembut. Suara yang sering ia dengar ketika ia tak mengikuti kemauan pemuda itu.
"Terima kasih." Ucapan Rafka memecah keheningan di antara mereka.
Azalia mendongak menatap pemuda yang saat ini menatap jendela depan tatapan kosong. "Untuk apa?" tanya Azalia lirih.
"Terima kasih kamu sudah mau datang ke sini untuk menjenguk aku. Apa ... calon suamimu tahu kamu ke sini?" Rafka beralih menatap Azalia dengan tatapan yang sulit diartikan. Azalia tertegun dengan pertanyaan Rafka.
Kedua pasang netra itu saling menatap dalam, seolah menyalurkan rindu, tetapi pilu begitu mendominasi sehingga menjadi sekat di antara dua hati yang sedang memanggil nama pemiliknya.
Azalia menggeleng. "Seharusnya kamu izin dulu, Lia."
__ADS_1
"Apanya yang harus izin?! Aku nggak mencintai dia, Rafka! Nggak! Aku benci dia dan juga kamu, Rafka!" Deraian demi deraian air mata mengiringi perkataan Azalia.
"Kenapa ... kenapa kamu nggak datang? Setipis itukah cinta kamu buat aku? Bahkan hanya untuk mendengarkan penjelasan aku tidak kamu lakukan, Rafka. Kenapa aku harus merasakan berada di atas awan, lalu tiba-tiba jatuh ke bawah? Tak pantaskah aku untuk bahagia? Katakan Rafka, katakan kalau aku lahir untuk dijadikan sebuah catur perasaan."
Rafka merasa dejavu dengan perkataan Azalia. Ia ingat pernah bertanya hal demikian pada bundanya. Tanpa sadar, Rafka ikut menitikkan air mata. Mereka saling mencintai, tetapi Rafka tak ingin egois. Mungkin mereka tak berjodoh. Biarlah luka itu hadir untuk saat ini dan sangat waktu yang akan mengobatinya.
Rafka tak ingin berdebat. Ia memilih merelakan cinta bersama orang lain. "Pulanglah, Li. Aku tidak apa-apa. Aku tak ingin calon suamimu berpikir macam-macamā"
Azalia menatap tajam pada Rafka dan langsung memotong perkataan pemuda itu. "Kamu ngusir aku? Kamu lebih memilih mundur? Oh, ternyata benar kamu hanya mempermainkan aku. Bodohnya aku yang percaya sama kamu. Baiklah, aku akan pulang. Tapi, satu yang harus kamu tahu. Tujuanku ke sini bukan hanya untuk menjenguk kamu. Tapi, juga meminta kamu mendengarkan penjelasan aku dan memperjuangkan aku sekali lagi. Kini, aku salah. Aku yang terlalu berekspektasi lebih. Semoga kamu bahagia dengan keputusan kamu."
Azalia berlari keluar tak peduli Bunda Raya yang baru masuk menatap bingung. Sementara, Rafka tertegun mendengar penuturan Azalia. Benarkah yang ia dengar? Azalia memintanya untuk berjuang kembali? Ia masih mencerna semuanya, takut pendengarannya salah.
"Rafka, Azalia kenapa? Apa yang sudah kamu perbuat?" tanya Bunda Raya.
Rafka langsung menoleh. "Bun, Azalia," lirihnya polos.
Dia yang telah merasa benar langsung bergegas turun dari ranjang rumah sakit dan berlari menyusul Azalia sembari berteriak memanggil nama gadis itu. Meninggalkan sang bunda yang masih dalam balutan kebingungan. Ia yang masih lemah dan terlambat menyusul, membuatnya kehilangan sosok gadis itu. Air matanya luruh. "Bodoh lo, Rafka! Bodoh! Harusnya lo yang berusaha untuk berjuang!" serunya seraya memukul kepalanya sendiri.
...*to...
...b...
...e...
...continue...
__ADS_1
.............
...Terima kasih yang sudah likeš*...