
...Happy Reading 🍁🥰...
.......
.......
.......
.......
Sebuah rumah mewah di kawasan perumahan elit terlihat sangat berbeda dengan rumah lainnya. Warnanya yang putih dan ukiran-ukiran yang sangat cantik membuat rumah itu terkesan sangat mewah.
Sebuah mobil baru saja terparkir cantik di garasi yang berderet beberapa mobil mewah. Seorang lelaki berusia dua puluh sembilan tahun turun dari mobil dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
Panas matahari terasa menyengat, membuat siapa saja yang terpapar tak akan tahan walaupun hanya lima menit saja.
Lelaki itu tak lain adalah Alham.
"Hai, Boy. Tumben pulang cepat."
Baru saja melewati pintu utama, Alham langsung disambut dengan sebuah perkataan yang menurutnya adalah sindiran. Ia yakin, informasi itu sudah sampai ke telinga papanya. Ia menghiraukan dan tetap melangkah menuju kamar.
"Kau tak ingin mengatakan apapun?" tanya papanya masih terus menatap koran yang sedang ia baca.
"Aku rasa Papa sudah tahu akan hal itu. Jadi, tak ada lagi yang ingin aku sampaikan," ucap Alham dingin.
"Perjanjian itu? Apa kau lupa?"
Alham mengembuskan napas kasar. "Aku tak pernah lupa akan hal. Papa tenang saja," ujarnya, lalu kembali melangkah menuju lantai dua di mana letak kamarnya berada.
Pak Bayu yang tak lain adalah papanya Alham memijit pelipisnya. Anak sulungnya itu selalu memiliki perbedaan pendapat dengannya.
Sang istri yang baru saja dari dapur mendekati Pak Bayu. Tangannya memegang sebuah baki yang terdapat dua gelas cangkir berisi kopi dan teh. "Ada apa lagi, Pa?" tanya istrinya.
"Alham, anak itu sangat sulit diatur," keluh Pak Bayu.
"Sudahlah, jangan paksa dia. Biarkan dia dengan cita-citanya dulu. Dia belum setahun menjadi dosen, masa Papa minta dia langsung berhenti. Nanti ada saatnya dia sadar, bahwa dia kelak yang akan menggantikan Papa. Terlebih usia Papa sama Mama sudah tidak muda lagi." Nasehat sang istri membuat ia sedikit lebih tenang.
***
Alham langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur king size-nya guna menghilangkan penat.
"Gara-gara gadis itu aku harus diskors dan sekarang harus berhadapan dengan Papa. Aku juga bodoh menerima syarat Papa. Aaah, aku nggak mau menerima tawaran Papa," ucapnya frustrasi seraya melempar kaca mata asal.
Lama ia bergelut dengan pikirannya hingga tanpa diminta, Alham terbuai dalam mimpinya.
***
__ADS_1
Seorang pemuda yang sedang mengendarai mobil dengan kecepatan sedang tengah tersenyum, entah sedang memikirkan apa. Suara musik yang mengalun merdu membuat hatinya semakin damai.
Kau dan aku
Sudah ditakdirkan bertemu
Dan tiba-tiba kita jatuh cinta
Ini semua
Sudah suratan Ilahi
Dan kita harus hadapi kenyataan
Biar apapun terjadi
Aku harap engkau tabah
Menerimaku sebagai teman barumu
Semoga kita
Saling sayang
Bahagia
Pemuda itu ikut menyanyikan lagu yang dibawakan oleh Decky Rian. Sungguh, lagu itu sangat menggambarkan bagaimana ia dan kekasihnya yang bertemu tiba-tiba. Namun, senyum pemuda itu seketika pudar. Sadar bahwa cintanya untuk saat ini masih bertepuk sebelah tangan karena sang kekasih belum mengatakan jika memiliki perasaan yang sama.
Saat ia sedang galau akan cintanya, tiba-tiba ponsel di saku celananya berdering tanda ada panggilan masuk dari ART di rumahnya.
"Halo, assalamu'alaikum, Bi. Ada apa, ya?" tanyanya.
"Ini, Mas. Ibu minta Mas Rafka buat jemput Non Cahya. Soalnya Ibu belum pulang, katanya masih ada urusan," jelas Bi Marni di seberang sana.
"Memangnya Bunda ke mana, Bi? Pak Darson sama Pak Rudi juga ke mana?" tanya Rafka beruntun.
"Kang Darson ikut Ibu keluar, Kang Rudi juga ikut Bapak ke kantor, Mas."
"Ya, sudah, nanti saya jemput Cahya. Terima kasih, Bi. Assalamu'alaikum." Panggilan diputuskan oleh Rafka setelah mendapat jawaban salam dari seberang.
"Bunda ke mana, ya? Apa jangan-jangan di rumah sakit?" gumamnya. "Minta Rifki saja yang jemput, deh," imbuhnya langsung meminta adiknya untuk menjemput si bungsu.
"Ki, tolong jemput Cahya, dong," perintah Rafka saat panggilan tersambung.
"Aku masih di sekolah, Kak. Kakak pikir ini jam berapa?" tanya Rifki kesal.
"Kakak tahu kamu masih di sekolah. Kakak cuma minta kamu jemput Cahya terus antar ke rumah. Nggak usah banyak protes. Kakak kutuk jadi batu tawas baru tahu rasa!"
__ADS_1
"Sejak kapan Kakak jadi penyihir?" Jawaban polosnya terdengar begitu jelas bagi Rafka.
"Aih! Ki, ayolah. Sekali ini bantu Kakak. Kakak lagi ada urusan sama calon Kakak Ipar kamu. Pak Darson lagi keluar sama Bunda, nggak mungkin Pak Rahmat yang jemput. Kalo yang jemput Pak Rahmat, siapa yang jaga rumah? Kalo kemalingan, kamu mau tanggung–"
"Astaghfirullah, iya-iya. Aku jemput. Dasar cerewet!" umpat Rifki.
"Apa kamu bilang?"
"Teman aku cerewet."
Rafka mengumpati adiknya yang langsung menutup telepon secara sepihak. Tapi, seketika senyumnya terkembang karena berhasil menyuruh adiknya menjemput si bungsu. Ia harus segera sampai ke rumah sakit dan berniat mengomeli bundanya.
***
"Kamu tahu, Sayang. Rafka itu orangnya tengil. Bunda kadang suka kesal sama dia. Anaknya juga manja, makanya Bunda kayak nggak percaya dia punya pacar," tutur Bunda Raya seraya menyudahi kegiatan makannya.
Bunda Raya belum ingin pulang, lalu memilih untuk menemani Azalia. Dikarenakan sudah jam siang, ia meminta untuk dibelikan makanan oleh sopirnya.
"Masa, sih, Bun? Tapi, Rafka nggak kelihatan tengil dan manja. Dia perhatian dan justru malah kelihatan ganteng dan keren, loh, Bun. Apalagi kalau dia berwajah datar tanpa ekspresi. Aaa, makin ganteng, Bun." Azalia tak menampik bahwa kekasihnya tampan.
Ia tersenyum membayangkan wajah Rafka yang datar, tetapi justru membuat pemuda itu terlihat sangat tampan.
Tangan Bunda Raya terulur menyentuh dahi gadis di depannya. "Tidak panas. Wah, fix! Ini pasti Rafka beneran pakai pelet sama kamu. Kamu harus segera cari orang pintar untuk menghilangkan pelet itu," celetuk Bunda Raya.
Tanpa mereka sadari orang yang sedang dibicarakan berada di ambang pintu. Menatap jengah ke arah wanita yang melahirkannya.
"Nah, iya, benar itu Azalia. Kalau perlu kamu mandi kembang tujuh rupa dan air tujuh sumur, biar bersih," timpal Rafka seraya menatap sengit bundanya. Ia melangkah mendekati kedua wanita berbeda generasi tersebut dan menyimpan belanjaannya di nakas.
"Sejak kapan kamu di situ?" tanya Bunda Raya menatap anaknya. "Itu mata dikondisikan, mau Bunda keluarkan dari kartu keluarga?" imbuhnya mengancam.
"Sejak Bunda menjelekkan Rafka sama Azalia. Urusan dihapus, silakan saja. Toh, kalau Rafka udah menikah sama Azalia juga bakal kehapus dari kartu keluarga Bunda. Iya, 'kan, Lia?" cetus Rafka seraya tersenyum ke arah Azalia. Sementara yang ditatap, langsung tersipu.
"Kayak bajaj kamu, Ka. Ngeles mulu itu mulut, ada aja jawabannya. Nah, kamu lihat sendiri, 'kan, Azalia." Bunda Raya menatap Azalia.
"Iya, sudah. Aku ganteng, kata dia tadi." Bukan Azalia yang menimpali melainkan Rafka dengan gerakan menyugar rambutnya.
Azalia tampak menikmati pemandangan di depannya. Ia iri melihat kehangatan keluarga Rafka, bahkan setiap sentuhan lembut yang diberikan oleh wanita paruh baya yang masih cantik itu membuat hatinya menghangat saat hanya mereka berdua. Cairan bening telah membentuk sebuah telaga di netra cokelat miliknya dan siap menumpahkan bulir-bulir kristal itu kapan saja jika ia berkedip. Ia tak pernah sekalipun mendapatkan perlakuan seperti itu jika di rumah. 'Ma, seandainya seperti bundanya Rafka. Mungkin aku akan menjadi anak yang paling bahagia sedunia,' gumam Azalia dalam hati meratapi kisah hidupnya.
Azalia tak fokus dengan apa yang dikatakan oleh Bunda Raya. Ia asyik melamun. "Azalia, kamu kenapa, Sayang?" tanya Bunda Raya saat melihat Azalia menangis.
Gadis itu menggeleng dan menerima pelukan dari bundanya Rafka.
"Bun, jangan lama-lama peluknya. Nanti Ayah cemburu," timpal Rafka.
Plak!
"Aduh, Bunda kekerasan terhadap anak ini, mah. Bunda tak berperikeibuan. Azalia aku dipukul," adunya kepada gadia yang masih berada dalam dekapan sang bunda.
__ADS_1
"Kamu ini, orang lagi sedih-sedihnya malah mengacau. Sana kamu keluar saja! Merusak suasana bisanya!" kesal Bunda Raya.
Azalia terkekeh, membenarkan perkataan wanita yang tengah memeluknya.