
Masih ada yang kangen gak sama Azalia dan Alham? Nih, kita lanjut, ya🥰
...Happy Reading 🥰...
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dengan menaiki beberapa kendaraan, kini tibalah mereka di Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara. Mereka hanya memerlukan waktu sekitar setengah jam untuk bisa sampai ke sana menggunakan speed boat dari Dermaga Marina.
Azalia tampak menikmati pemandangan di depannya. Laut lepas berwarna biru, terumbu karang yang masih terlihat oleh mata dari atas tanah membuat siapa saja betah berlama-lama untuk menikmatinya. Mereka kemudian mencari penginapan terlebih dahulu untuk beristirahat sejenak.
"Kamu ke sini untuk apa? Kamu bisa snorkeling? Padahal kita bisa ke Bali kalau kamu mau," ucap Alham seraya merebahkan tubuhnya di kasur dan menatap langit-langit kamar.
"Aku hanya ingin saja ke sini. Bali sudah terlalu sering dikunjungi oleh orang yang berada di pulau Jawa seperti kita." Azalia selesai menata pakaian Alham di lemari yang telah disediakan. "Pakaian kamu sudah selesai aku tata. Aku akan ke kamar sebelah. Panggil aku jika butuh sesuatu," ucap Azalia.
Alham yang sempat menutup mata langsung membukanya dan bangkit untuk duduk. "Kenapa harus di sebelah? Kamu, kan bisa menempati kamar ini juga?" Alis Alham hampir bertautan.
"Di sini? Untuk tidur di sofa lagi? Aku ke sini untuk liburan, bukan untuk kamu siksa seperti di rumah kamu. Aku mohon sama kamu, biarkan aku istirahat sejenak di tempat ini. Melupakan semua yang terjadi selama ini," ujar Azalia. "Kamu istirahat saja," sambungnya seraya melangkah.
Namun, dengan cepat Alham mencekal tangannya dan memeluk Azalia dari belakang membuat sang empu terjingkat kaget. "To–tolong lepaskan aku," cicit Azalia.
__ADS_1
Jantung keduanya berpacu seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Alham mencoba menetralkannya, tetapi hal itu sulit bagi Azalia. Napasnya seakan tercekat di tenggorokan.
"Maafkan, aku. Maafkan atas sikap aku ke kamu selama sebulan ini," lirih Alham.
"Apa maksud kamu?"
"Sebenarnya, aku nggak benci sama kamu seperti yang ada dipikiran kamu. Aku baru menyadari perasaan aku saat kamu tidak ada di rumah. Aku merasa hampa. Aku ... mencintaimu, Azalia Atmadja." Alham mengeratkan pelukannya, mencoba menikmati dentuman jantung yang bertalu-talu.
*Deg!
'Dia ... mencintaiku? Apa aku tidak salah dengar*?' batin Azalia.
"Aku tahu. Tidak mudah bagi kamu melupakan cinta pertama kamu. Aku akan menunggu sampai kamu bisa menerima aku," ujar Alham.
"Bukan ... bukan sepenuhnya karena hal itu." Alham mengurai pelukannya dan mundur satu langkah.
Perempuan berbaju putih itu, berbalik. Menatap dalam manik hitam milik suaminya. "Kamu tahu? Sejak awal aku sudah bertekad untuk menerima pernikahan ini. Tapi, tekadku itu sudah kamu patahkan dengan sebuah perjanjian pernikahan. Aku mencoba melawan itu semua, mencoba berdamai dengan hatiku dan berusaha mencintai kamu sepenuhnya karena kamu layak akan hal itu. Tapi, aku patah untuk kedua kalinya dari orang yang sama. Cintaku berakhir saat kamu dengan lantang mengklaim hubunganmu dengan Sesil," tutur Azalia.
Cintaku mati sebelum tumbuh. Maafkan aku, sejak saat itu kebaikan yang aku lakukan tak lebih dari sekedar menghargaimu sebagai suamiku dan sudah tak ada cinta di dalamnya. Perihal cinta pertamaku, akan sulit bagiku untuk mengejarnya kembali. Aku harus fokus pada pernikahanku agar bisa bahagia. Tapi, sayang semua hanya menjadi bayangan semu berpeluk pilu. Istirahatlah, tidak perlu membahas hal ini lagi. Tak ada gunanya, sebab kita pada akhirnya tetap akan berpisah," sambungnya, lalu melangkah keluar dari kamar Alham. Namun, ia terhenti di ambang pintu.
__ADS_1
"Tak bisakah kita memperbaiki semuanya dan memulainya dari nol?" lirih Alham.
"Maaf, aku harus memikirkan hal itu kembali karena sejak awal kamu sudah menanamkan sebuah peringatan di hatiku tentang pernikahan ini. Peringatan tentang pernikahan ini yang ada masa berlakunya."
"Aku mohon, berikan aku satu kesempatan. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku baru menyadarinya sekarang, Azalia."
Azalia menghiraukan Alham dan berlalu cepat dari sana. Biarlah Alham merenungkan perbuatannya. Sejujurnya, dalam lubuk hati ia telah menanti hal ini. Perihal Rafka, biarlah menjadi urusan Sang Maha Kuasa. Ia hanya bisa berdoa, semoga lelaki itu kelak akan merajut kebahagiaan bersama orang yang tepat untuk mendampinginya hingga akhir hayat.
...to be continued .......
*ok, segitu aja dulu karena author lagi gak enak badan. Maafkan author yang selalu update tengah malam karena hanya di saat ini author gak memiliki waktu luang.
pantai terus ya kehidupan pernikahan Azalia dan Alham. Kira-kira Alham bakalan sebucin apa jika Azalia memberikan satu kesempatan? yuk, pantau terus cerita ini hingga akhir.
jangan lupa follow author, ya.
ig siska.saidi
fb Siska Saidi*
__ADS_1