Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Sesil Wisuda


__ADS_3

...Happy Reading Guys ...


Purnama telah berlalu beberapa kali, hubungan Azalia dan Alham semakin mesra. Alham memperlakukan sang istri begitu baik, bahkan rela meninggalkan pekerjaannya demi Azalia.


Seperti hari ini, Alham sebenarnya memiliki janji temu jam delapan, tetapi Azalia memintanya untuk menemani berbelanja. "Mas, hari ini kamu ada meeting?" tanya Azalia.


Panggilan Azalia telah berubah seiring berjalannya waktu. Namun, satu hal yang masih terjaga sampai saat ini, yaitu hubungan antara suami dan istri. Azalia masih harus memantapkan hatinya dan Alham pun tak mempermasalahkan hal itu. Alham berpikir untuk keduanya bisa saling dekat dulu tanpa melibatkan hal tersebut.


"Nggak ada. Kenapa?" bohong Alham seraya mengunyah nasi goreng.


"Kamu kalau telat nggak apa-apa? Kalau bisa, aku minta kamu temenin aku belanja bulanan sama sekalian beli hadiah untuk Sesil," ujar Azalia.


Alham yang mendengar nama Sesil langsung menoleh sang istri yang duduk di sampingnya. "Sesil? Hadiah? Untuk apa dia kamu kasih hadiah?" tanyanya.


"Mas, kamu ini gimana, sih. Dia itu minggu depan wisuda, masa kamu nggak tahu," Azalia cemberut.


"Oh. Aku memang nggak tahu dan nggak mau tahu," jawab Alham cuek.


Azalia mencoba menahan rasa kesalnya. "Jadi, gimana? Kamu sibuk?" Kembali ia melontarkan pertanyaan.


"Aku temani kamu." Azalia tersenyum lebar mendengar jawaban suaminya.


"Yey, terima kasih, Mas."


Alham terkekeh melihat tingkah Azalia yang seperti anak kecil menang lotre. Bagaimana tidak, istrinya itu menampilkan ekspresi menggemaskan diiringi tepukan kecil, lalu melanjutkan sarapan dengan senyum yang tak pudar.


Mereka melanjutkan sarapan penuh kehangatan, sehangat arunika di ufuk timur. Sesekali terdengar obrolan ringan di antara keduanya.


...***...


Akhirnya, waktu yang dinanti pun tiba. Kampus tempat Azalia dulu menimba ilmu dan Alham menjadi dosennya, kini terlihat ramai di bagian rektorat. Berbagai macam model baju dan warnanya tampak menghiasi, banyak pula pakaian toga berada di tengah-tengah keramaian.


"Pagi, Pak, Bu," sapa para mahasiswa yang siap diwisuda hari ini.


"Pagi," jawab Alham seraya tersenyum.


Para mahasiswa yang tak percaya mendapat balasan. "Kuping dan mataku nggak salah, 'kan?" bisik salah satu mahasiswa tadi.


"Serius, tadi Pak Alham menjawab dan tersenyum? Gue nggak salah, 'kan?"


Bisik-bisik itu masih terdengar oleh Alham, tetapi ia tak peduli dan tetap melangkah bersama istrinya sambil bergandengan tangan.


Azalia yang tampak risih berhenti sejenak membuat Alham ikut berhenti. "Kenapa?" tanya Alham.


"Ada masker nggak?" Pertanyaan Azalia membuat Alham heran. Pria dengan setelan batik berwarna navy mengamati sang istri, lalu tangannya terulur menyentuh dahi wanita yang mengenakan baju senada dengannya.

__ADS_1


"Nggak panas. Memangnya untuk apa masker?"


"Aku risih sama tatapan orang-orang."


"Sudah biarkan saja mereka. Kita ke sini mau merayakan wisuda Sesil. Tenang, ya. Sekarang kita temui mereka di sebelah sana," tunjuk Alham pada Sesil yang tengah berfoto ria bersama teman-temannya. Tak jauh dari mereka, Mama Lana dan Papa Bayu tengah sibuk berbincang dengan orang tua yang lain.


"Baiklah," pasrah Azalia.


Sepanjang mereka melewati kerumunan orang-orang yang tengah diselimuti kebahagiaan, Azalia tampak risih dengan beberapa pandangan dari teman-temannya yang baru di wisuda. Namun, ia berusaha untuk menjaga wibawa sang suami.


"Ma, Pa," sapa Azalia begitu sampai di depan orang tuanya dan langsung menyalami mereka diikuti oleh Alham.


"Apa kabar kalian?" tanya Papa Bayu seraya menatap anak dan menantunya.


"Alhamdulillah, baik, Pa. Papa sama Mama apa kabar?" tanya Alham.


"Seperti yang kamu lihat," jawab Papa Bayu.


Saat mereka tengah mengobrol, tiba-tiba Sesil dan menghampiri dan langsung berdiri di antara Azalia dan Alham. "Aku pikir Kak Alham nggak bakalan datang." Sesil bergelayut manja di lengan Alham.


Alham mencoba melepaskan tangan Sesil, tetapi gadis itu malah semakin mencengkram. Ia kemudian menatap sang istri yang hanya diam saja seolah meminta pertolongan. Sementara, Azalia yang paham langsung memasang senyum padahal ia pun sedang cemburu.


"Sil, selamat, ya. Ini ada hadiah dari aku dan Mas Alham. Semoga kamu suka, ya." Azalia menyodorkan buket boneka wisuda dengan dihiasi beberapa aksen bunga berwarna biru. Simpel, tetapi terlihat mewah dan indah. "Ada hadiah lain lagi. Tapi, hadiahnya langsung di antar ke rumah Papa," imbuhnya..


"Makasih, ya, Kak. Aku senang banget. Eh, kita foto-foto dulu, yuk." Sesil begitu antusias karena tujuannya adalah memanas-manasi Azalia.


...***...


Sang surya perlahan mulai menyerong dari atas kepala. Keluarga Azalia saat ini berada di sebuah restoran untuk makan siang sekaligus merayakan wisuda Sesil.


"Mas mau pesan apa?" tanya Azalia. Ia asyik melihat-lihat buku menu.


"Samain aja."


Sesil yang melihat pasangan suami istri di depannya merasa geram dan mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Matanya tak lepas dari wajah tampan Alham yang terus menatap Azalia sambil tersenyum. Begitu juga Mama Lana yang tak suka dengan Azalia dan Alham.


Sementara, Papa Bayu merasa bahagia melihat rumah tangga anaknya yang tampak baik-baik dan tentram tanpa tahu masalah awal mereka.


"Lia, seperti agak gemukkan sekarang, ya," timpal Papa Bayu. "Sudah ada tanda-tanda?"


Pertanyaan Papa Bayu membuat Alham dan Azalia diam. Terlebih Azalia, selama ini ia belum memberikan hak atas suaminya. "Doakan saja, Pa," jawabnya meski ragu.


"Papa berharap, kalian bisa segera bisa punya anak, Sesil sukses dengan rencananya, dan Ilyas bisa kembali ke sini dan berkumpul dengan kita lagi. Papa hanya ingin, hari tua Papa bahagia dengan berkumpul bersama kalian," terang Papa Bayu.


"Aku mengaminkan semua doa Papa. Untuk Kak Ilyas, biar nanti aku yang menghubunginya. Sekarang kita jangan selow dulu karena hari ini semua sedang merayakan wisuda Sesil." Azalia meraih tangan Sesil yang telah berada di atas meja.

__ADS_1


Bohong jika Azalia tak merasa bersalah pada suaminya. Ia paham betul akan hak dan kewajiban suami istri. Tapi, hingga saat ini hubungan keduanya masih belum sampai ke tahap ingin mempunyai anak. Ia tak berani bertanya perihal anak pada Alham, takut jika hanya sepihak saja yang menginginkan.


"Kamu kenapa?" tanya Alham saat melihat Azalia makan seperti tak bernafsu.


Perempuan dengan mata bulat itu menoleh ke samping, lalu tersenyum seraya menggeleng. "Baiklah. Makan yang banyak, ya," ucap Alham.


Lelaki berkemeja batik biru itu pasrah dan tak lagi menanyakan perihal sikap istrinya yang tak seceria tadi. Ia yakin, ada sesuatu yang menggangu pikiran Azalia. Ia akan mencoba bertanya perihal itu nanti ketika mereka di rumah.


...***...


Purnama menghiasi gelapnya langit yang semakin pekat. Kelap-kelip bintang tampak indah di pandang. Denting jam telah menunjukkan pukul 21:34 WIB, tetapi seorang perempuan yang mengenakan pakaian tidur masih asyik menikmati pemandangan dari balkon kamar.


Ia terus menatap purnama yang menggantung indah di atas sana. Hati perempuan itu benar-benar diliputi rasa bimbang. 'Haruskah aku bertanya padanya? Atau menunggu ia yang bertanya?' Perempuan itu terus membatin di antara dinginnya angin yang berembus menusuk kulit.


"Kok, belum tidur? Di sini juga dingin." Sepasang tangan kekar tiba-tiba melingkari perutnya membuat ia terjingkat kaget.


"Kamu ini bikin kaget. Sudah selesai pekerjaannya?" Bukannya menjawab Perempuan itu malah bertanya.


"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Dari tadi siang sikap kamu berubah dan lebih banyak diam. Bicarakan padaku jika ada masalah yang tidak bisa kamu selesaikan sendiri," ujar Alham seraya menaruh dagunya di bahu kiri Azalia.


"Nggak ada apa-apa, kok. Aku hanya terlalu asyik menikmati suasana malam ini." Azalia tak sepenuhnya berbohong karena memang ia menikmati semuanya malam ini.


Alham tak yakin dengan jawaban istrinya. Seorang perempuan jika mengatakan tidak apa-apa, berarti ada apa-apanya. Itu yang ia ketahui sedikit dari asisten juga sahabatnya. Ia tak akan menyerah begitu saja.


Masih dengan memeluk Azalia dari belakang, ia bertanya, "Toko aman?"


"Aman. Aku malah menambah karyawan."


"Jadi, apa masalahnya? Jangan menutupi apapun dariku, Azalia. Semua masalah kita hadapi bersama."


"Mas, kamu ... ingin punya anak?" tanya Azalia ragu.


"Semua suami istri menginginkan anak di antara mereka. Termasuk aku. Apa itu yang kamu pikirkan?" Azalia mengangguk dengan perasaan bersalah yang semakin besar.


Alham tersenyum, lalu membalikkan tubuh istrinya. "Dengar, jangan bikin hal ini menjadi beban. Aku tidak akan memaksa dan tetap menanti sampai kamu siap," terangnya. "Jangan pernah menyimpan masalah atau apapun sendirian karena kamu tidak sendiri lagi sekarang." Alham merengkuh tubuh ringkih istrinya.


"Maafkan aku," lirih Azalia.


"Nggak apa-apa. Sekarang kita tidur, itu sudah larut."


Azalia berharap suaminya tak akan pernah meninggalkannya selama ia belum siap. Ia akan mencoba meyakinkan dan memantapkan hatinya, bahwa pelabuhan terakhirnya adalah Alham, suami yang memperistrinya karena sebuah ketidaksengajaan.


...to be continued .......


Ok, author kembali lagi dengan part yang lebih panjang dari part-part terpanjang sebelumnya.

__ADS_1


Terima kasih yang masih setia dengan cerita hasil gabut author 🥰🤭


Salam sayang buat kalian🥰


__ADS_2