Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Hari Pertama Sebagai Suami Istri


__ADS_3

...Happy Reading ...


Jalanan ibukota mulai dipenuhi oleh hiruk pikuk kendaraan. Suara bising yang ditimbulkan cukup memekakkan telinga. Sebuah mobil berwarna putih harus berada di antara kendaraan yang hanya diam.


"Ah, sial! Seharusnya pergi nanti jam sembilan saja!" seru Alham seraya memukul kemudi mobil.


Terjebak dalam kemacetan tak ada seorang pun yang menginginkan hal itu. Jam tujuh pagi ada jamnya jalanan ibukota Jakarta macet karena banyak pekerja yang mengejar waktu.


Azalia yang berada di sampingnya hanya menoleh sekilas, lalu kembali menatap ke arah luar di mana banyak yang ingin berebut keluar dari macet.


Setengah jam berada dalam kemacetan, selama itu pula keheningan menyelimuti sepasang suami istri yang baru itu itu. Hanya sesekali terdengar helaan napas kasar dari Alham yang mungkin saja terasa jenuh.


Mobil yang dikendarai Alham kini memasuki kawasan perumahan milik Azalia—sang istri.


"Mas, lihat siapa yang datang." Mama Lana memanggil sang suami.


Ia merasa senang, akhirnya anak tirinya sudah akan keluar dari rumah mewah yang selama ini diincarnya. Perubahan sikap sang suami yang tiba-tiba membuat ia merasa waspada jika telah ada rahasia di antara suami dan anak sambungnya.


"Selamat pagi, Ma," sapa Azalia.


"Selamat pagi," sapa Alham datar.


"Selamat pagi. Ayo masuk."


Ketiganya memasuki rumah tempat Azalia dibesarkan. Dahi Alham mengernyit melihat sekeliling rumah itu. Tak ada satupun foto Azalia terpajang, semuanya nyaris wajah mantan mahasiswinya bernama Sesil.


Alham merasa sedikit bingung. 'Kenapa foto Sesil ada di rumah ini? Lebih baik nanti aku bertanya padanya saja,' batinnya. Ia menoleh ke arah Azalia yang hanya diam setelah masuk.


"Wah, pengantin baru. Bagaimana malam pertamanya?" goda Papa Rusdi ketika memasuki ruang tamu.


"Pa!" kesal Azalia. Ia tak ingin mengungkit lagi kejadian semalam. Tak mungkin juga ia akan berterus terang perihal rumah tangganya.

__ADS_1


"Biasa, Pa. Sama seperti pengantin pada umumnya. Iya, 'kan, Sayang?" Tangan Alham telah melingkar di perut ramping Azalia membuat sang empu merinding.


Senyum yang tercetak di bibir pria tampan itu seolah ada perintah untuk Azalia mengiyakan. "I–iya, Pa," jawab Azalia terbata.


'Bagusnya anda menjadi seorang aktor saja, Pak Alham.' Azalia tak menyangka jika ia akan menjadi aktor wanita utama dalam drama pernikahannya sendiri.


Bukan seperti ini pernikahan yang ia inginkan. Hati kecilnya merasakan sakit. Ini baru hari pertama, entah bagaimana hari-hari selanjutnya.


"Oh, iya, ada tujuan apa datang ke mari?" tanya Papa Rusdi.


"Kami ke sini untuk mengambil pakaian Azalia. Kami akan tinggal di rumah sendiri. Mencoba mandiri sejak dini akan lebih baik. Azalia juga sudah menyetujui hal ini," sahut Alham.


"Benar itu, Lia?" tanya Papa Rusdi.


"Benar, Pa. Aku akan langsung ke kamar saja. Papa kalau masih ingin bicara dengan suami aku, silakan saja. Saya tinggal tidak apa-apa, 'kan?" Azalia beralih menatap mata Alham.


Tatapan keduanya bertemu dan terkunci hingga beberapa saat. Alham mengakui jika istrinya ini sangat cantik tanpa polesan make up.


"Duh, pengantin baru emang kek gitu, ya, Mas. Maunya nggak berpaling sedikit saja," timpal Mama Lana membuat keduanya memutuskan kontak mata.


"Saya bantu kamu untuk beres-beres biar cepat juga karena kita akan ke rumah orang tua saya juga." Alham masih ingin menanyakan tentang Sesil.


"Betul itu kata Alham. Mending segera kalian beres-beres." Mama Lana tampak bersemangat sekali.


Keduanya lantas menuju lantai atas, tempat di mana kamar Azalia berada.


***


Kesan pertama yang ada dalam benak Alham saat memasuki kamar berukuran tak terlalu besar itu adalah rapi. Ruangan bernuansa hijau tersebut sangat nyaman untuk ditempati.


Alham memilih duduk di kursi belajar Azalia sambil menatap deretan buku yang berbaris rapi. satu figura yang ada pada meja membuatnya menatap lama. Dalam foto tersebut terlihat Azalia tampak tertawa tanpa paksaan dengan seorang laki-laki juga juga melakukan hal sama. Laki-laki itu adalah Rafka, mantan kekasih dari istrinya.

__ADS_1


"Azalia saya ingin bertanya sesuatu sama kamu," ucap Alham tiba-tiba seraya menatap punggung Azalia yang berdiri depan lemari.


Azalia berbalik, lalu menaruh pakaiannya ke dalam koper. Ia menatap Alham dan berkata, "Tanya apa?"


"Apa kamu mencintai Rafka?"


"Tanpa saya jelaskan anda sudah tahu jawabannya, Pak. Tapi, sekarang semuanya menjadi masa lalu dengan adanya pernikahan ini." Matanya berkaca-kaca ketika kembali mengingat Rafka.


"Pantas kamu masih menyimpan foto ini." Alham menunjuk foto di depannya.


Azalia tak menjawab, kemudian melanjutkan aktivitasnya. Alham pun tak lagi membahas perihal Rafka.


"Oh, iya, apa hubungan kamu dengan Sesil? Kenapa fotonya banyak terpajang di rumah ini?" Alham menanti jawaban istrinya.


"Dia saudara saya. Ke mana Bapak selama ini? Kenapa hal ini tidak tahu? Saat lamaran Sesil juga ada di sini," sahut Azalia masih terus dengan aktivitasnya.


"Saya pikir dia teman kamu. Saat lamaran saya tidak terlalu memperhatikan sekitar."


"Sudahlah, waktu sehari untuk saya menjelaskan juga sepertinya tidak akan cukup. Sekarang saya sudah selesai."


Alham berdiri dan kemudian menyusul sang istri kembali menuruni tangga.


Keduanya lantas kembali melanjutkan perjalanan ke rumah orang tua Alham karena matahari terus bergerak naik. Alham berencana untuk segera sampai di rumah baru mereka tepat siang hari agar bisa beristirahat.


...to...


...b...


...e...


...continue guys...

__ADS_1


................


...🌟🌟🌟...


__ADS_2