Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Azalia Shop


__ADS_3

...Happy Reading 🥰...


Beberapa saat berkendara membelah jalanan ibukota yang macetnya sudah menjadi hal lumrah, kini keduanya telah sampai di kediaman orang tua Alham.


Azalia terlonjak saat salah satu tangannya digenggam oleh Alham. "Kedua orang tua saya tidak tahu alasan kita menikah. Mereka tahunya kita saling mencintai," bisik Alham datar.


Azalia menghela napas kasar karena kembali ia harus melakukan akting menjadi istri yang mencintai suaminya. Keduanya memasuki rumah mewah tersebut.


"Bi, Mama sama Papa di mana?" tanya Alham ketika berada di ruang keluarga hanya mendapati asisten rumah tangga.


"Oh, ada di halaman belakang, Tuan," jawab asisten rumah tangganya.


Tanpa basa-basi, ia langsung menuju halaman belakang.


***


"Pa, Mama senang akhirnya Alham sudah menikah. Semoga rumah tangga mereka baik-baik saja."


"Mudah-mudahan, Ma. Papa juga berharap begitu."


Sepasang suami istri yang sudah tak muda lagi tengah menikmati waktu bersama. Hanya memiliki seorang anak membuat keduanya kini merasa telah berada di masa tua.


Keduanya menoleh saat ada yang memanggil. "Loh, kalian kenapa malah ke sini? Bukannya menghabiskan waktu berdua dulu," ucap Mama Tina seraya memeluk anak menantunya.


"Kita berencana untuk tinggal terpisah dari Mama sama Papa. Bukannya Papa memberikan kami sebuah rumah sebagai hadiah pernikahan? Akan rugi jika tidak ditempati." Alham langsung pada intinya.


Atmosfer di sekeliling terasa dingin hanya satu kalimat dari Alham. Rasa canggung menyelimuti mereka, tetapi Mama Tina langsung berusaha mencairkan suasana.


"Iya, itu benar. Lebih baik kalian duduk dulu. Oh, iya, gimana kabar kamu, Sayang? Alham nggak nyakitin kamu, 'kan?" Mama Tina beralih kepada menantunya yang hanya diam menyimak.


"Aku baik, Ma. Pak Alham, dia ... dia juga memperlakukan aku dengan baik," jawab Azalia seraya tersenyum.


"Kenapa panggilannya Pak Alham?" Mama Tina menatap heran.

__ADS_1


"Dia mantan Mahasiswi aku. Sudahlah, aku mau beres-beres dulu. Mama berikan saja kuncinya sama dia." Setelah mengatakan itu, Alham pergi menuju kamar meninggalkan sejuta tanya di benak kedua orang tuanya.


'Mereka seperti bukan suami istri pada umumnya. Pasti ada yang disembunyikan oleh anak itu,' batin Papa Bayu yang duduk memegang koran.


"Sayang, kalian bukan lagi marahan, 'kan?" tanya Mama Tina.


"Nggak, M–ma. Mungkin Pak Alham hanya capek saja karena—"


"Oh, karena semalam. Mama Paham, pengantin baru memang begitu. Mama doakan semoga kalian bahagia selalu, ya," tutur Mama Tina penuh kasih sayang.


Azalia mengangguk walaupun ragu. 'Maafkan aku, Ma. Tapi, pernikahan ini hanya setahun. Semoga setelah hari itu tiba, Mama bisa mendapatkan menantu yang baik yang juga dicintai oleh anak Mama,' batinnya.


***


"Apa saja yang kalian omongin tadi saat saya ke kamar?" tanya Alham.


Saat ini, keduanya telah menuju kediaman yang akan menjadi tempat mereka pulang dari lelahnya beraktivitas.


"Tidak. Hanya mengobrol biasa," sahut Azalia sembari menatap ke luar. Melihat deretan bangunan yang menjulang.


"Stop, Pak. Stop bentar!" seru Azalia begitu melewati tokonya yang masih proses berkembang.


"Ada apa?"


"Saya akan turun di sini. Bapak silakan duluan. Masih ada yang harus saya selesaikan. Bapak tenang saja, alamat rumahnya sudah saya kantongi." Azalia langsung keluar tanpa menunggu suaminya berbicara.


Ia teramat rindu dengan usahanya. Rindu akan celotehan para karyawannya. Biarlah ia dibilang istri durhaka atau istilah lainnya. Bukankah suaminya lebih kejam dari siapapun?


Alham masih mengamati istrinya, tetapi yang dilihatnya hanya Azalia yang berdiri di depan sebuah toko pakaian kecil yang bertuliskan Azalia Shop.


Dahi Alham mengernyit ketika melihat nama toko tersebut. "Apa itu adalah toko miliknya?" gumamnya.


Setelahnya, ia melihat Azalia dipeluk oleh dua orang perempuan dan mengajaknya masuk. "Mungkin saja itu memang punya dia." Ia kembali menjalankan mobilnya tanpa ragu.

__ADS_1


***


"Selamat atas pernikahannya, Mbak Lia. Maaf, kemarin nggak sempat hadir karena sibuk di sini. Banyak orderan masuk terus harus cek bahan kain yang digunakan sama pabrik juga. Pokoknya sibuk banget, padahal pengen hadir," ucap Lala—karyawan Azalia.


"Pasti banyak makanan enak-enak," celetuk Fitri yang mendapatkan tabokan di bahunya.


"Makanan aja yang dipikirkan!" kesal Lala.


"Sudah-sudah. Makan siang nanti aku traktir. Semangat kerjanya!" seru Azalia mengepalkan kedua tangannya.


Azalia senang, akhirnya ia bisa tersenyum dan tertawa tanpa beban. Mungkin, ia akan banyak menghabiskan waktunya di tempat ini. Sangat kebetulan tokonya dua lantai dan lantai atas adalah sebuah rumah.


Setelah makan siang, Azalia pamit untuk beristirahat.


***


Di kediaman Alham yang baru, ia tengah merapikan pakaiannya ke dalam lemari. Sementara, koper sang istri ia biarkan berada di depan pintu kamar yang ada di sebelahnya.


"Capek juga walaupun hanya mengatur pakaian. Pesan makanan ajalah dulu. Biar bisa segera istirahat. Masak juga pasti belum ada persediaan makanan."


Dengan cepat jarinya berselancar di atas layar pipih tersebut. Kemudian, merebahkan diri di atas kasur sembari menunggu.


...to...


...b...


...e...


...continue guys...


...............


*Kira-kira, Rafka gimana ya sekarang? Penasaran nggak? Sama author juga penasaran hihihi 🤭

__ADS_1


__ADS_2