Perjuangan Cinta Arsyad

Perjuangan Cinta Arsyad
Bab. 21


__ADS_3

Arsyad sedang melakukan pendekatan kepada orang-orang terdekatnya Priska Oktaviani. Menurutnya mendekati kerabat dan beberapa sahabatnya adalah salah satu jalan yang terbaik untuk mendapatkan perhatian dan hatinya Priska officer girl di perusahaan kedua orang tuanya.


Pak Haji Muhidin hanya tersenyum menanggapi sikap dari Arsyad yang menurutnya lucu karena dimabuk kepayang oleh kecantikan alami yang diperlihatkan oleh Priska sejak dulu tanpa polesan make up tebal hanya memakai bedak tabur dan lipgloss saja yang sangat alami.


Sedangkan ditempat lain, Arsyila yang hanya berniat untuk mengantar pulang kedua bocah kecil kembar yang menarik perhatiannya kala itu dengan niat tulus mengantar pulang karena,Ayah dan neneknya belum sempat datang menjemputnya.


"Aunty Cantik jangan pulang dulu yah, nginep di sini saja, Nanda takut kalau enggak ada orang besar yang aku temani bobo ayah katanya pulangnya besok sedangkan Nenek ada tapi, Nanda gak mau sama nenek," rengeknya Nanda Khairunnisa Juno.


"Bagaimana ini, apa aku harus menelepon nomor hpnya Mama terlebih dahulu karena, aku kasihan sama kedua bocah malang ini," gumamnya Arsyila Ardila Yordan.


Sedangkan tangan kedua anak itu masih menarik-narik ujung pakaiannya Arsyla.


"Please yah Aunty, Ninda janji tidak akan nakal dan repotin Aunty kok," bujuknya Ninda Kharisma Juno anak paling bungsu dari dua bersaudara itu.


Bu Ratnasari sebagai neneknya kedua anak kecil itu tidak bisa banyak membantu dan kebanyakan diam, karena ia malu untuk membantu cucunya memenuhi keinginannya itu.


"Nenek, bantuin kami dong untuk bujuk Aunty Ars agar tinggal nginap malam ini saja temani kami," pintanya Nanda.


Arsyla kemudian membungkukkan tubuhnya di hadapan kedua anak kecil itu," Baiklah Aunty akan usahakan untuk menginap bareng kalian tapi, Aunty harus terlebih dahulu meminta izin sama Mama aunty kalau mama Aunty ijinin pasti Aunty auto nginap disini, gimana apa kalian setuju?"


"Setuju!" Teriak keduanya bersamaan dengan semangat empat limanya.


Arsyila segera mengambil hpnya dari dalam tasnya, kemudian menghubungi nomor hp mamanya.


"Assalamualaikum Ma,"

__ADS_1


"Waalaikum salam putriku,"


"Ma, aku ingin meminta izin ada anaknya teman yang kebetulan papa dan mamanya tidak ada dan kedua anaknya memintaku untuk menemaninya malam ini saja," ujarnya Arsyila.


Apa yang terjadi pada Arsyla sebenarnya sudah sampai di telinganya Bu Sania Marwah Daud Yordan karena,anak buahnya yang selalu ditugaskan untuk mengikuti kedua anaknya dalam setengah jam selalu memberikan laporan informasi tentang apa saja yang dilakukan dan terjadi pada kedua putra putrinya itu dengan diam-diam tentunya.


"Tidak apa-apa kok Nak silahkan nginap kasihan anaknya jika kamu tidak bermalam di sana,tapi ingat besok pagi harus cepat pulang sebelum jam sembilan pagi sudah ada di rumah," pintanya Bu Sania.


"Oke deh Mamaku yang paling baik hatinya dan sholehah, aku pastikan akan lakukan sesuai dengan permintaan Mama," timpalnya Arsyla.


"Aunty, apa aku bisa bicara dengan Nenek?" Harapnya Ninda.


Bu Sania yang mendengar hal itu segera memerintahkan anaknya untuk memberikan hpnya.


"Berikan saja sama anak itu,Mama ingin mendengar mereka akan berbicara apa,"pungkasnya Nyonya Sania.


"Ohh itu tidak masalah kok sayang, silahkan pinjam dulu putrinya Nenek, tapi besok harus diantar pulang yah," candanya Bu Sania yang baru kali bisa tersenyum lepas tanpa ada beban sedikit pun.


Leni Marlina Alfin sedari tadi mencuri dengar dari percakapan kedua anak ibu itu.


"Akhirnya perlahan kebahagiaan itu datang ke dalam hidupnya Nyonya Besar Sania, saya sangat bersyukur karena kedatangan Arsyad mampu merubah semua perangai, tabiat, kekakuan jeleknya Bu Sania berangsur membaik dan berubah, semoga mereka segera punya cucu," bathinnya Nely.


"Apa seperti ini rasanya punya cucu yah? Kalau seperti ini aku tidak sabar menunggu kehadiran anak menantu dan kemudian cucu yang akan hadir memeriahkan rumahku ini dengan canda tawa mereka," cicitnya Bu Sania.


"Makasih banyak Ma, aku sangat sayang sama Mama,"

__ADS_1


"Aku juga sangat sayang anak-anakku," tukasnya Bu Sania.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam," Bu Sania tersenyum penuh kebahagiaan.


Bu Sania duduk kembali di sofa karena tadi, kebetulan baru sampai di rumahnya karena,ada keperluan dan urusan yang sangat urgen.


"Mas Damar tidak lama lagi kamu akan bertemu dengan anakmu darah dagingmu sendiri, tapi ingat jangan pernah sekalipun untuk mengemis pengakuan dari putraku karena, hal itu tidak akan pernah terjadi dalam garis tanganmu," Bu Sania menyentuhkan hp dengan dagunya sambil memikirkan beberapa hal yang barusan terjadi dalam hidupnya itu.


Arsyila Ardilla Yordan segera membacakan beberapa buku dongeng untuk kedua anak kembar tersebut dengan begitu penuh penghayatan. Hingga perlahan keduanya sudah terlelap dalam tidurnya menuju pulau mimpi indahnya. Arsyila pun menguap karena matanya sudah tinggal lima wat. ia pun menyusul tertidur dengan kedua anak tersebut yang sudah tenang dalam tidurnya.


Bu Ratna yang memeriksa kondisi kedua cucunya, cukup terkejut melihat kedekatan perempuan yang baru dikenal oleh cucu kembarnya itu.


"Ya Allah... andai saja mereka memiliki ibu pasti hidup mereka akan lengkap, sejak kepergian istrinya Audrey Anastasia, Vero belum pernah memperkenalkan kami dengan perempuan lain dan juga sekalipun tidak pernah bercerita tentang kedekatannya dengan perempuan lain." Bu Ratna menyeka air matanya menetes membasahi pipinya saking sedihnya melihat nasib malang cucunya.


"Tetapi besok jika Vero Arlando Juno puteraku itu sudah kembali aku akan bertanya padanya tentang pernikahan,"


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali bel kediamannya Bu Ratna berbunyi dengan cukup lama. Bu Ratna tidak sempat membukakan pintu, karena dia sedang membantu memandikan kedua cucunya itu yang akan berangkat ke sekolah.


"Ya Allah... kayak orang yang baru lihat bel saja sampai-sampai tekan beonya tanpa henti," kesalnya Arsyila yang menghentakkan kakinya menuju pintu yang baru saja menyantap makanannya itu.


Pintu berdaun dua itu terbuka lebar dan Arsyil melihat ada punggung lebar seseorang yang membelakanginya.


"Maaf Pak kalau mencet belnya cukup sekali saja tak perlu juga berulang kali!" ketus Arsyila sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya itu.

__ADS_1


Orang itu kemudian berbalik badan dan betapa terkejutnya kedua orang tersebut.


"Kamu!" Teriak keduanya.


__ADS_2