
Sebelum kedatangannya, pak Adam sudah bertemu dengan Sania Marwah mamanya Arsyad terlebih dahulu sebelum menemui Arsyad putra tunggal mereka.
Pak Adam bersyukur karena akhirnya kecurigaannya terhadap Arsyad jika dia adalah putranya terjawab sudah. Ikatan darah lebih kental dari pada air.
Pak Adam Ardian Liem sangat bersyukur karena akhirnya memiliki penerus keluarga besarnya sendiri bukan lagi anak sambung dari istrinya itu.
"Alhamdulillah makasih banyak ya Allah aku sudah menemukan putraku yang selama ini selalu datang menghantui dalam mimpiku dan setelah melihat wajahnya Arsyad pertama kalinya aku sudah menduga jika dia adalah putraku makasih banyak Sania kamu sudah menemukan anak kita yang telah hilang," ujarnya pak Arsyad beberapa jam sebelum bertemu dengan Arsyad dan Tiwi. Di salah satu restauran kesukaan Arsyad.
"Arsyad apa boleh saya berbicara denganmu?" pintanya seorang pria yang cukup berumur tapi masih cukup muda di usianya yang sudah kepala lima itu siapa lagi kalau bukan Adam Ardian Liem mantan kekasihnya Bu Tsania Marwah Daud Ibrahim yang menjalin hubungan terlarang beberapa tahun silam.
Arsyad menatap ke arah Pratiwi Andien Utomo sebelum menjawab pertanyaan dari pria yang menjadi relasi bisnisnya. Sedang Tiwi yang ditatap seperti itu mengerti dan paham dengan arti tatapannya Arsyad.
__ADS_1
"Silahkan saja Abang, saya sama sekali tidak keberatan kok," ucapnya Tiwi yang tersenyum ramah.
"Alhamdulillah makasih banyak sudah berikan waktu kepada bapak untuk berbicara, karena tersisa hari ini dan besok aku ada di Jakarta, insya Allah aku akan berangkat ke Dubai dan rencananya untuk satu tahun kedepannya saya akan menetap di sana, jadi sebelum kepergianku ini aku tidak mungkin membawa rahasia besar ini selamanya yang namanya umur pasti setiap insan manusia tidak akan tahu kapan akan pergi untuk selamanya," ujar pak Ardian Liem.
"Maksudnya Pak saya sungguh tidak mengerti dengan perkataan bapak dan juga rahasia apa?"
Pak Ardian menghela nafasnya dengan cukup panjang sebelum berbicara.
"Kamu adalah putra kandungku bersama dengan mantan kekasihku Sania Marwah, sekitar dua puluh sembilan tahun yang lalu kami melakukan kesalahan yang boleh dikatakan kesalahan terindah sekaligus terbesar dalam kehidupan kami berdua hingga akhirnya tanpa sepengetahuanku kamu lahir ke dunia ini dan itu sudah terlambat aku mengetahui karena papi dan mami ku yaitu kakek nenekmu menikahkan papa dengan perempuan lain sedangkan perempuan itu hingga detik ini mendiang almarhumah Bu Laura tidak pernah aku sentuh sedikitpun karena kami menikah atas dasar kesepakatan hanya diatas kertas saja, kami masing-masing jalani kehidupan pernikahan tanpa atas dasar cinta, hingga istriku Laura meminta ijin sekaligus meminta maaf untuk tetap menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya dan memberikan Laura dua orang anak perempuan dan satu laki-laki, aku tidak mempermasalahkan hal tersebut karena bagiku yang paling penting kami sama-sama bahagia dengan kehidupan kami, tapi sayangnya sampai dua puluh tahun lebih aku mencari keberadaan mamamu tapi, hasilnya nihil karena pria yang menikahinya telah mengganti identitasnya keseluruhan selama menetap di luar negri dan saya sudah bertemu dengan Mama kamu dari mama kamu saya mengetahui jika saya punya seorang putra yaitu Arsyad Hakim Liem yang sungguh ganteng dengan penuh kharismanya," ungkap pak Adam panjang lebar.
"Papa, aku sangat bersyukur karena ternyata di dunia ini aku masih memiliki keluarga lengkap, Alhamdulillah ini anugerah dan rezeki terindah terbesar dalam hidupku pa," imbuhnya Arsyad sembari memeluk erat tubuh papanya itu.
__ADS_1
"Makasih banyak Nak kamu memaafkan papa dan menerima kekhilafan papa dan mama kamu selama ini, aku berharap kamu bahagia dengan calon istrimu untuk selamanya hingga akhir waktu kalian berdua, ini ada amanah yang papa berikan untukmu tolong terima beberapa saham dari papa perusahaan milik papa dan kakek kamu semua yang ada di Indonesia dan Eropa papa mohon dan harap kamu bisa menjaga dan mengelolanya dengan baik," tuturnya Pak Adams sambil menyodorkan sebuah map besar di dalam tertera beberapa surat penting pengalihan perusahaan atas namanya Arsyad Hakim Liem.
"Mulai detik ini kamu adalah penerus dan ceo perusahaan AL Tbk, karena papa akan mengurus yang ada di daerah timur tengah, papa mohon padamu jangan menolak kalau belum siap tidak apa-apa yang jelasnya hakmu sebagai putraku sudah aku serahkan kedalam genggaman tanganmu itu sudah cukup bagiku perusahaan papa akan selalu menunggumu,"
Arsyad kembali memeluk tubuhnya pak Adam kembali dan menititkan air matanya," jika papa rindu dengan saya baiklah ke Indonesia saya akan selalu menunggu kepulangannya papa," ucapnya Arsyad sebelum mereka serah terima jabatan dan Tiwi menangis terharu dan bahagia melihat kedekatan dan mendengar perbincangan kedua ayah dan anak itu.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka pun berpisah dengan tujuan masing-masing selanjutnya. Arsyad dan Tiwi akan ke rumahnya Veri Ahmad Ali Winata sedangkan Pak Adam bersiap untuk mengurus semua urusan dan pekerjaannya sebelum berangkat ke luar negeri.
Veri yang diobati oleh bundanya dengan luka lebam di bagian pipi kanannya itu.
"Calon adik iparmu memang benar adanya, kamu memang pantas ditampar nak sayapun jika putriku yang diperawanin oleh anak muda tanpa menikah pasti akan marah juga, aku hanya heran kenapa kalian melakukannya tanpa cinta padahal kalian ini bukan sepasang kekasih," ketusnya Bu Dewi Sandra Bundanya Veri.
__ADS_1
"Hahaha pantesan kamu suruh saya datang ternyata seperti itu ceritanya," Arsyad terkekeh mendengar perkataan dari Bu Sandra Dewi ketika mengobati putranya itu.
"Kalau hanya datang untuk menertawaiku kamu pulang saja," sarkasnya Veri yang melihat sahabatnya dan juga kekasihnya datang bersamaan.