
Bu Sania menghentakkan kakinya dengan kuat dan membanting pintu sekeras-kerasnya karena sangat kesal dengan papa biologisnya Arsyad putra kebanggaannya itu.
Sania berusaha untuk menahan amarahnya dan tangisannya agar tidak ada orang lain yang mengetahui apa yang terjadi padanya beberapa detik yang lalu.
Sania setelah terlepas dari pelukannya Pak Agam segera berjalan cepat untuk pergi, tapi sebelum membuka dan memutar kenop pintu itu, ucapan dari Pak Agam membuatnya harus berhenti.
"Putraku Arsyad Shafiyyur Rahmany, Saya ingin meminta hakku atasnya dan saya ingin dia mengakuiku sebagai papanya,"
Bu Sania hanya tersenyum sinis," putra! Apa saya tidak salah dengar dia itu bukan putramu atas dasar apa kamu mengklaim kalau dia adalah putramu sedangkan dibelakang namannya bukan nama Anda jadi, tolong dengan sangat buang jauh-jauh perkataan dan harapan Anda itu,"
"Sania Marwah Dirgantara kamu masih seperti dulu tetap cantik dan seksi, aku pasti memastikan agar kamu kembali ke dalam pelukanku apapun yang terjadi dan aku akan melakukan berbagai cara untuk membuatmu berada dalam pelukanku seperti dahulu saat kita masih muda dan aku pastikan Arsyad akan memanggilku Papa, itu janjiku padamu," cicitnya Pak Adam Ardian Liem.
Bu Sania berjalan cepat masuk ke dalam mobilnya, ia langsung menumpahkan kekesalannya dan kesedihannya. Air matanya luruh tak terbendung lagi. Air mata yang sejak beberapa puluh tahun lalu sudah ia simpan untuk tidak menangis lagi, karena jika ia menangis itu sama saja dia sangat lemah dan tak berdaya.
Oa Maman terkejut melihat Nyonya besarnya dalam keadaan kacau. Ia tidak ingin bertanya apapun itu. Ini pertama kalinya melihat Ibu Sania dalam kekalutan dan kesedihan yang sangat. Dia mengenal sosok Nyonya besar Sarah Helen Daud Yordan adalah wanita yang tangguh, baik hati dan penyayang tidak seperti sekarang ini yang seperti hancur berkeping-keping perasaannya.
Bu Sania sangatlah berjasa dalam kehidupan rumah tangganya Pak Maman, karena berkat kebaikan dan uluran tangannya Bu Sania dan mendiang suaminya itu,kedua anaknya bisa melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang perkuliahan. Jadi sepatutnya dan wajarlah jika, sampai detik ini Pak Maman mengabdikan hidupnya sebagai supir pribadinya Bu Sania Marwah.
__ADS_1
"Kasihan sekali Bu Sania, tapi apa sebenarnya yang telah terjadi padanya kenapa kelihatan sangat terluka dan kecewa?" Gumamnya Pak Maman.
"Pak Maman kita pulang ke rumah saja, karena calon mantuku hari ini sudah pulang dari rumah sakit," pintanya Bu Sania sambil menyeka air matanya itu yang membasahi pipinya sejak tadi hingga membuat wajahnya berantakan untung saja make up yang dipakainya makeup dengan kualitas nomor wahid dan paling terbaik yang pastinya sangat mahal.
"Baik Nyonya," balasnya Mamang yang mula menyalakan stok kunci mesin mobilnya untuk mengemudikan ke arah rumah majikannya itu.
Bh Sania menatap ke arah luar jendela mobilnya,ia sengaja membuka kaca jendela mobilnya untuk melihat pemandangan jalan ibu kota Jakarta yang dilaluinya berharap perasaan dan pikirannya bisa tenang dengan melihat hal tersebut.
"Ya Allah… kenapa masa laluku datang kembali mengusik ketenangan hidupku, saya sudah bisa berdamai dengan masa lalu itu tapi, dengan mudahnya ia kembali ke dalam hidupku dan seolah mengingatkan aku kembali pada kenangan yang sudah aku kubur dalam-dalam semua kenangan manis dan pahit itu," batinnya Bu Sania Marwah Daud Yordan.
"Mas Adam Ardian Liem entah apa kamu masih sama seperti dulu setelah kamu berkhianat padaku dan mencampakkan aku setelah kamu berhasil merenggut apa yang sangat penting dari hidupku dan mengingkari janji-janji manismu," cicitnya Bu Sarah Helen Daud Yordan nama panggilannya yang dikenal oleh seluruh masyarakat pada umumnya dan juga beberapa rekan bisnisnya itu terutama di lingkup perusahaannya di DY cooperation yang bergerak diberbagai bidang terutama pengembangan IT dan penyediaan bahan mentah industri.
Pintu berdaun dua itu terbuka lebar, ia masuk ke dalam rumahnya hanya menatap sekilas putri semata wayangnya itu tanpa menegur sedikit pun. Arsyila Ardila hanya keheranan dan kebingungan melihat sikap dan tingkah lakunya mamanya itu yang tidak seperti biasanya.
"Mama sudah pulang," sapanya Arsyila yang kecewa karena namanya tidak menggubris sedikitpun sapaannya itu.
Arsyila hanya mampu mencium punggung tangan mamanya itu tanpa ada balasan dari perkataan perempuan yang sangat berjasa dalam hidupnya dan juga perempuan yang sangat ia sayangi.
__ADS_1
"Ya Allah… apa yang telah terjadi pada mama ku? Semoga saja Mama dalam keadaan yang baik-baik saja," lirihnya Arsyila.
Arsyila kemudian berjalan ke arah kamar dari bocah kecil calon anak sambungnya itu. Yaitu anak kembar dari Vero Arlando Juno.
"Kok Mas Vero belum datang juga yah, apa dia diberikan pekerjaan yang banyak dan sulit oleh Abang yah?!" Cicit Arsyila.
Dia pun berbalik dari depan pintu hendak menutup pintu itu,tapi tiba-tiba ada sebuket bunga mawar merah yang sangat besar berdiri di depannya itu. Betapa terkejutnya melihat bunga itu.
"Ya ampun bunganya gede amat, tapi ngomong-ngomong siapa yang bawa bunga ini dan untuk siapa? Apa bunga itu untuk Mbak Pratiwi Andien yah?" Gumam Arsyila.
Hingga seorang pria berlutut di hadapannya dengan sebuah kotak buludru berwarna biru tua dalam genggaman tangan kanannya sedangkan bunga besar raksasa itu berada di sampingnya.
"Arsyila Ardilla Daud Yordan apakah kau bersedia untuk menikah denganku, menjadi bunda dari kedua anak kembarku Nanda dan Ninda dan hingga menua bersamaku dan hanya maut yang akan memisahkan kita berdua," pintanya Vero yang melamar dengan romantis perempuan yang ia cintai pada pandangan pertamanya itu.
"Woo so sweet banget deh kekasihnya Non Arsyila," imbuhnya Mbak Yuni
"Iya kalau aku diposisinya pasti sudah langsung ngomong yes saja," celetuk bibi Yuyun.
__ADS_1
"Ayo bilang yeess Nona Muda!" Teriaknya Yani.
Arsyila terkejut ketika membalikkan tubuhnya ke arah belakang punggungnya hingga matanya melihat sudah banyak asisten rumah tangganya yang berdiri di ujung tangga.