Perjuangan Cinta Arsyad

Perjuangan Cinta Arsyad
Bab. 73


__ADS_3

"Jadi gimana perkembangannya, apa kedua orang tuanya, adik kakak nya juga memukuli kamu yang sudah kurang ajar hamili anaknya orang?" Tanyanya Arsyad yang masih tersenyum tipis melihat reaksinya Veri yang wajahnya memar memerah.


"Aku tidak mau lagi dipukuli untung hanya adik laki-laki satunya yang menamparku jika tidak wajah ganteng ku bisa bonyok," ketusnya Veri Ahmed Ali.


"Itu konsekuensi dari kesalahanmu sendiri makanya halalil dengan menikah baru buat anaknya kamu sih main nyosor saja jadi wajar saja kamu dipukul, jadi gimana kapan nikahnya?" Tanyanya Arsyad Hakimi Daud Liem sambil menyandarkan kepalanya o arah belakang headboard sofa ruang tamu rumahnya Veri.


"Insya Allah mereka akan menikah nak satu minggu dari sekarang, semoga lancar dan sukses pernikahannya, ingat kamu harus datang dengan calon istrimu itu yah," pintanya Bu Sandra Dewi Winata.


"Insya Allah Tante kami pasti datang kok, saya sendiri Abang Arsyad kalau tidak ada halangan pasti datang," ucapnya Pratiwi Andien Utomo dengan ramah.


Berselang beberapa menit kemudian mereka sudah balik ke rumah karena sudah cukup larut malam dan keduanya sudah capek dan kelelahan berkeliling hari ini dan juga bekerja.


Satu minggu kemudian ijab kabul pernikahan Veri dan Najwa pun berlangsung cukup meriah dan mewah dengan dihadiri banyak tamu undangan dari berbagai kalangan.


Pak Rizaldy dan Veri sudah saling berjabat tangan," Veri Alfiansyah Winata saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri pertamaku yang bernama Najwa Ayuna Ariesta Rizaldi bin Lubis dengan mas kawin emas murni 24 seberat 12 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!" Ucap Pak Rizaldi.


"Saya terima nikah dan kawinnya Najwa Ayuna Ariesta Risaldi bin Lubis dengan Mas kawin tersebut dibayar tunai!" Ucap tegas dan penuh keyakinan Veri di depan calon ayah mertuanya dan juga di hadapan banyak tamu undangan yang sudah berdatangan meramaikan acara tersebut.


"Bagaimana para saksi apakah sah!?" Tanyanya Pak Penghulu.


"Sah!!" Jawab mereka serentak hingga suara mereka semua membahana di dalam ruangan rumahnya Bu Annisah yang cukup besar itu.


Semua orang bersyukur dan bahagia atas pernikahan kedua. Ucapan selamat dan doa restu mengalir dan berdatangan ke arah kedua pengantin baru itu yang sudah duduk saling berdampingan satu sama lainnya.


"Alhamdulillah putriku sudah menikah semoga mereka bahagia sakinah mawadah warahmah hingga kakek nenek,"


"Selamat menempuh hidup baru semoga pernikahannya langgeng hingga kakek nenek,"


"Amin ya rabbal alamin," ucapnya beberapa orang yang berada di sekitar pengantin itu.

__ADS_1


Acara selesai setelah tengah malam dengan resepsi pernikahan yang begitu megah dan mewah. Tidak ada komentar negatif dari akad nikah,ijab kabul dan resepsi malam itu.


Arsyad terharu melihat sahabatnya satu persatu menikah sedangkan dia belum menikah. Pratiwi pun sudah mulai kuliahnya di semester lima stelah sempat tertunda beberapa bulan sebelumnya. Dengan koneksi dari kenalannya yang ada di kampus sehingga semuanya berjalan lancar.


Tiwi memperhatikan raut wajah dari tunangannya itu dan ia mengerti kenapa kekasihnya bermuram durja melihat temannya mengakhiri masa lajangnya.


Pratiwi Andien Utomo memegangi punggung tangan pacarnya itu," Abang besok pagi kita berangkat ke kampung untuk bertemu dengan kedua orang tuaku dan menyampaikan kepada semua orang jika saya masih hidup dan selamat ketika kapal tenggelam di tengah lautan," imbuhnya Tiwi dengan senyuman tulusnya.


"Serius kamu mau pulang kampung dan menemui kedua orang tuamu sekalian Abang melamarmu?" Tanyanya Arsyad sembari mengecup punggung tangannya Tiwi gadis berhijab cantik nan ayu itu.


Tiwi menganggukkan kepalanya tanda setuju dan mengiyakan perkataan dari mulut kekasihnya itu.


"Alhamdulillah kalau begitu Abang akan meminta ijin kepada Mama Sania Marwah dan juga sudah menginformasikan kepada pengacara dan asisten Papa untuk datang besok pagi sebelum kita berangkat ke kota B," ujar Arsyad.


Keesokan harinya, Arsyad bersama dengan asisten pribadinya yang bernama Vero sudah memasuki lobi perusahaan papanya kedatangannya disambut hangat oleh semua petinggi perusahaan karena sudah mengenal Arsyad Hakim Daud Liem di dunia bisnis sehingga mereka tidak ragu dan takut mempercayakan puncak pada pimpinan kepada Arsyad pengusaha muda yang sukses di usianya yang belum genap tiga puluh tahun itu.


Rapat serah terima berjalan alot hingga hampir empat jam rapat dan akhirnya mereka sepakat bahwa Arsyad Hakim sebagai pemegang saham tertinggi di perusahaan AL Tbk bulan ini dan seterusnya menjabat sebagai CEO pengganti papa kandungnya sendiri.


"Abang kita akan naik motor ke kota B?" Tanyanya sambil mengelilingi motor gede yang akan mereka pergunakan sebagai alat transportasi ke kota B.


"Iya karena saya ingin menikmati perjalanan kita dengan baik dan penuh suasana keromantisan hingga kita bisa bersantai bersama tidak perlu terburu-buru, apa kamu sudah siap?" Tanyanya Arsyad sambil menyodorkan sebuah helm perempuan berwarna kuning ke dalam genggaman tangannya Tiwi.


"Bismillahirrahmanirrahim," mesin motor pun menyala keduanya sudah bertolak ke kota b.


Beberapa jam kemudian mereka, masih bersantai menikmati perjalanan yang begitu manisnya. Tiwi berpelukan di pinggangnya Arsyad dengan penuh posesif seolah takut akan hilang. Mereka sesekali singgah beristirahat sejenak sambil makan ataupun membuang rasa capek, lelah dan penatnya.


Keesokan harinya, mereka sudah sampai di desa asal Arsyad yang sudah membesarkannya selama ini. Aroma padi yang menguning tertiup angin berhembus hingga menerpa wajah keduanya itu.


"Akhirnya saya bisa balik ke sini lagi, tujuh tahun lebih saya tinggalkan kampung halamanku, apa kabarnya ayah dan bunda," cicitnya Tiwi yang merentangkan kedua tangannya di atas motor yang terus melaju menuju sebuah rumah yang tidak terlalu banyak mengalami perubahan setelah kepergiannya yang dikira sudah meninggal dunia.

__ADS_1


Tiwi membuka pagar besi itu bercat biru muda dengan perlahan, seorang tukang kebun yang melihat kedatangan keduanya segera berlari ke arah mereka.


"Tuan Besar Utomo Non Muda Pratiwi sudah kembali dari Jakarta!* Teriaknya pak Hasan dengan hebohnya.


Semua orang yang kebetulan berada di dalam rumah segera berlari dan berjalan tergesa-gesa menuju ke arah luar pintu utama untuk melihat apa yang terjadi. Kedua kakaknya Tiwi, yaitu Prayudha dan Prayoga menjatuhkan apa yang sedang berada di dalam genggamannya itu. Mereka segera berlari ke arah Tiwi.


"Tiwi adikku kamu itu kah yang datang?" Teriak keduanya.


Pak Utomo dan juga ibu Laksmi segera berjalan perlahan menuju putri tunggalnya dengan berlinangan air matanya saking terkejutnya, sedih bercampur bahagia melihat dan mengetahui jika isu keselamatan anaknya itu benar adanya. Mereka berdua merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan putri semata wayangnya itu.


"Ibu! Ayah!!" Jeritnya dengan penuh kegembiraan Pratiwi berhamburan memeluk tubuh kedua orang tuanya yang sejak lama dirindukannya itu.


Keempat orang itu bersujud syukur karena Tiwi masih hidup dan selamat dalam kecelakaan tenggelamnya kapal kayu yang mereka tumpangi waktu Tiwi dengan teman kuliahnya mengadakan wisata bahari kala itu.


"Alhamdulillah adikku masih hidup," tuturnya mereka dengan penuh kegembiraan, kebahagiaan dan terlalu senang dengan kepulangannya Tiwi yang membuat mereka menyerah dengan keadaan.


Semuanya berkumpul di ruang tengah sambil melepaskan rasa rindu mereka satu persatu hingga mereka tertawa, menangis dalam waktu yang bersamaan.


Hingga masuklah Arsyad Hakim di dalam ruangan tersebut yang membuat mereka kaget melihat penampilan pria yang dulu dihina, direndahkan, dan dicemooh hingga ditolak lamarannya datang dengan penuh kekuatannya sebagai CEO terkuat dan tersukses tahun ini.


Arsyad kemudian duduk di sampingnya Tiwi, "Ibu, ayah dan Mas saya datang ke sini untuk melamar kembali Pratiwi Andien Utomo semoga kalian bisa menerima lamaran ku ini dengan segala kekuranganku," ucapnya Arsyad dengan merendah.


Pak Utomo memeluk tubuhnya Arsyad dan memohon maaf atas semua kesalahannya dan khilafnya beberapa tahun silam kepada Arsyad dan kedua paman dan bibinya.


"Saya mewakili anak-anakku untuk meminta maaf atas kesalahan terbesar yang pernah kami perbuat Nak, kami menerima lamaranmu karena kamu dan Tiwi pantas bahagia dan bersatu sebagai pasangan suami istri," ungkapnya pak Utomo.


Suasana semakin terasa haru, dan penuh suka cita karena kebahagiaan akhirnya datang menyelimuti seluruh anggota keluarga mereka tanpa terkecuali. Paman dan bibinya juga turut hadir di dalam ruangan itu setelah ditelpon oleh Arsyad untuk segera datang sebagai saksi lamarannya itu. Pak Ahmad dan Bu Salma.


Semua saling memaafkan satu sama lainnya dan tidak ada lagi dendam diantara mereka. Yang berlalu biarlah berlalu. Hidup harus berjalan terus hingga maut datang menjemput.

__ADS_1


"Syukur Alhamdulillah kasih banyak ya Allah atas karunia-Nya kepada keluargaku,$


...******** TAMAT ********...


__ADS_2