Perjuangan Cinta Arsyad

Perjuangan Cinta Arsyad
Bab. 43


__ADS_3

Hampir semua asisten rumah tangganya yang bekerja di rumah kedua orang tuanya itu menyaksikan Vero Arlando Juno melamarnya.


"Arsyila Ardilla Daud Yordan apakah kau bersedia untuk menikah denganku, menjadi bunda dari kedua anak kembarku Nanda dan Ninda dan hingga menua bersamaku dan hanya maut yang akan memisahkan kita berdua," pintanya Vero yang melamar dengan romantis perempuan yang ia cintai pada pandangan pertamanya itu.


"Woo so sweet banget deh kekasihnya Non Arsyila," imbuhnya Mbak Yuni


"Iya kalau aku diposisinya pasti sudah langsung ngomong yes saja," celetuk bibi Yuyun.


Arsyila Ardilla sangat terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Vero dengan sebuket bunga mawar merah raksasa yang masih berdiri tegak di depan pintu masuk rumahnya yang berdaun dua itu.


Bu Sania Marwah yang dalam perasaan sedih dan kalut segera menghampirinya keduanya setelah Mbak Yati menginformasikan kepadanya jika Vero ayah dari anak kembar yang sekarang tertidur pulas di dalam salah satu kamar dirumahnya itu.


"Vero jangan berlutut terus seperti itu, sini masuk ke dalam dan sampaikan niat baikmu itu di hadapanku!" Perintahnya Bu Sania yang Vero kira sedang bertemu dengan klien bisnis barunya itu.


Vero salah tingkah dan kebingungan akan berbicara apa di hadapan mama perempuan yang dicintainya itu. Arsyila membantu Vero untuk bangkit dari posisi berlututnya itu.

__ADS_1


Vero dengan menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup keras ia kemudian memberanikan diri untuk berbicara dan menyampaikan maksud kedatangannya tersebut.


"Maaf Bu Sarah, saya ke sini untuk melamar putri tunggalnya Ibu untuk menjadi istriku teman hidupku, Bunda dari kedua anak kembarku dan juga sebagai perempuan yang sangat aku cintai seumur hidupku," ucapnya Vero dengan tegas tak terbantahkan sambil mengulurkan sebuah kotak buludru berwarna biru tua kehadapan calon mertuanya itu.


"Kalau Arsyila setuju dan Nyonya menerima niat baikku ini saya berniat dan berencana akan menikahi putri ibu dua minggu dari sekarang,"


Bu Sania tersenyum tulus dan ramah," Vero saya sangat bahagia dengan maksud kedatanganmu ini, tapi saya tidak bisa mengambil sikap untuk menjawab langsung dan mengambil sikap untuk memutuskan apa kamu diterima atau tidak, karena keputusan itu berada di tangan putriku dialah yang akan menjalani kehidupannya sendiri, pernikahannya saya sebagai mamanya hanya bisa memberikan nasehat dan masukan saja sepenuhnya anakku Arsyila yang akan menentukannya," jelas Bu Sania dengan begitu bijaksananya.


Bu Sania Marwah bukanlah seorang orang tua yang diktator dan otoriter terhadap kehidupan kedua putra putrinya itu. Cukup dia yang menderita dengan kehidupannya yang diatur sepenuhnya oleh mendiang kedua orang tuanya dulu. Ia tidak mau mengatur dan menyetir anak-anaknya dalam hal apapun itu.


"Arsyila apa kamu bersedia menerima lamaran Nak Vero putriku?" Tanyanya Bu Sania sambil memegang kedua genggaman tangannya Arsyila putri dari pernikahannya dengan pria yang dijodohkan dengannya itu.


"Saya setuju menikah dengan Vero Ma," jawabnya Arsyila dengan malu hingga raut wajahnya merona memerah menahan rasa malunya itu karena disaksikan oleh banyak pasang mata dari orang-orang rumahnya.


"Nak Vero pakaikan cincin ini dijari manisnya Arsyila, dan tolong bawa ke-dua orang tuamu besok malam menemuiku untuk berbicara tentang pernikahan kalian lebih lanjut lagi," pintanya yang berharap calon mantunya itu memenuhi keinginannya.

__ADS_1


Vero segera menarik tangan kirinya Arsyila lalu memakaikan cincin emas dengan bertahtakan berlian yang kecil di beberapa sudutnya yang sangat cantik dan indahnya serta pas dijari manisnya Arsyila.


"Kalau papa sudah lama meninggal dunia Bu, yang tinggal hanya mamaku saja," imbuhnya Vero setelah menyematkan cincin yang begitu indah dijari manisnya Arsyila.


"Tidak masalah Nak yang paling penting saya bertemu dengan orang tuamu itu sudah cukup,andai putraku Arsyad Shafiyyur Rahmany juga sudah melamar kekasihnya Pratiwi Andien Utomo langsung di depan kedua orangtuanya di kampung pasti kebahagiaan ku akan semakin berlipat ganda," tuturnya Bu Sania.


Sania berusaha untuk menahan amarahnya dan tangisannya agar tidak ada orang lain yang mengetahui apa yang terjadi padanya beberapa detik yang lalu.


Sania setelah terlepas dari pelukannya Pak Agam segera berjalan cepat untuk pergi, tapi sebelum membuka dan memutar kenop pintu itu, ucapan dari Pak Agam membuatnya harus berhenti.


"Putraku Arsyad Shafiyyur Rahmany, Saya ingin meminta hakku atasnya dan saya ingin dia mengakuiku sebagai papanya,"


Bu Sania hanya tersenyum sinis," putra! Apa saya tidak salah dengar dia itu bukan putramu atas dasar apa kamu mengklaim kalau dia adalah putramu sedangkan dibelakang namannya bukan nama Anda jadi, tolong dengan sangat buang jauh-jauh perkataan dan harapan Anda itu,"


"Sania Marwah Dirgantara kamu masih seperti dulu tetap cantik dan seksi, aku pasti memastikan agar kamu kembali ke dalam pelukanku apapun yang terjadi dan aku akan melakukan berbagai cara untuk membuatmu berada dalam pelukanku seperti dahulu saat kita masih muda dan aku pastikan Arsyad akan memanggilku Papa, itu janjiku padamu," cicitnya Pak Adam Ardian Liem.

__ADS_1


Bu Sania berjalan cepat masuk ke dalam mobilnya, ia langsung menumpahkan kekesalannya dan kesedihannya. Air matanya luruh tak terbendung lagi. Air mata yang sejak beberapa puluh tahun lalu sudah ia simpan untuk tidak menangis lagi, karena jika ia menangis itu sama saja dia sangat lemah dan tak berdaya.


"Nyonya Sania bersabarlah karena saya yakin Tuan Muda Arsyad juga akan segera menyusul untuk menikah dengan Nak Tiwi," timpalnya Bu Hanifah ibu angkatnya Arsyad yang kebetulan satu kampung dengan kedua orang tuanya Tiwi.


__ADS_2