Perjuangan Cinta Arsyad

Perjuangan Cinta Arsyad
Bab. 35


__ADS_3

Arsyad berjalan terburu-buru ke arah lift, dia tidak ingin terlambat sampai di ruangan perawatannya Pratiwi Andien.


Arsyad menatap ke arah Vero," benar sekali apa yang kamu katakan aku harus secepatnya ke sana supaya apa yang barusan kamu katakan tidak terlewatkan," ucapnya Arsyad.


Mereka bertiga meninggalkan ruangan ICU menuju kamar perawatan Tiwi. Sedangkan di tempat itu, Tiwi masih terbaring lemah dan tidak sadarkan diri karena pengaruh obat penenang yang diberikan oleh dokter.


"Makasih banyak ya Allah… Tidak terjadi sesuatu padanya," batinnya Arsyad.


Pintu itu terbuka lebar dan masuklah, Arsyad, Arsyila dan Vero. Arsyila diam-diam mencuri pandang ke arahnya Vero Arlando Juno. Sedangkan Vero juga melakukan hal yang sama dengan gadis pujaannya.


Bu Sania Marwah Daud Yordan menatap ke arah orang-orang yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut.


"Kamu sudah datang, Tiwi sepertinya sudah lama belum pernah tidur seenak ini jadi hingga detik ini belum bangun juga," candanya Bu Sania Marwah.


Arsyad segera mendekati ranjangnya Tiwi,"Mama pulang saja dulu istirahat , biarkan aku yang jagain disini, kamu juga Arsyila besok kamu boleh gantiin Abang untuk jagain Tiwi karena besok ada meeting yang sangat penting harus aku ikuti,"


"Siap Abang, kalau gitu yuk Ma kita pulang biarkan Abang bersama dengan calon kakak ipar, mungkin kalau kakak ipar bangun akan banyak cerita yang akan mereka ceritakan selama beberapa tahun ini," imbuhnya Arsyila sambil menggandeng tangan mamanya itu tapi lirikan matanya sesekali ke arahnya Vero.


"Kalau gitu kami pulang duluan Nak, kalau ada apa-apanya dengan Tiwi kamu jangan segan untuk telpon Mama Nak," ujarnya Bu Sania.


"Thanks Mama," cicitnya Arsyad.


Kedua perempuan yang paling disayangi oleh Arsyad berpamitan kepadanya untuk pulang karena sudah larut malam juga. Vero pun ikut berpamitan kepada Arsyad,tapi sebelum pulang Arsyad meminta kepada Vero sahabatnya untuk menyiapkan beberapa pakaian yang cocok untuk Tiwi dan juga untuknya.


"Mungkin bukan aku yang antarin pakaiannya karena, anakku Nanda agak rewel ga apa-apa kan?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok, priotitaskan putrimu masalah pekerjaan urusan belakangan,"


"Kalau gitu aku pamit, assalamualaikum,"


"Waalaikum salam,"


Arsyad tak bosan-bosannya memandangi wajahnya Pratiwi Andien Utomo yang tertidur lelap dalam tidurnya yang cukup panjang. Arsyad mengecup punggung tangannya Tiwi.


"Sayang bangun dong, maafkan Abang, ini semua gara-gara Abang yang tidak memperhatikan dan mempertimbangkan masalah kesehatanmu," lirihnya Arsyad yang menititkan air matanya.


Air matanya membasahi telapak tangannya Tiwi, hatinya terenyuh melihat Tiwi yang masih terbaring lemah.


"Tiwi bangun dong sayang, apa kamu belum puas menghukum Abang seperti ini, Abang sudah nyerah dan tidak akan melakukannya lagi, Abang tidak akan membuat kamu sedih dan sakit lagi," gumam Arsyad.


Pria yang berusia sekitar dua puluh delapan tahun lebih itu mendengkur halus dalam tidurnya. Sedangkan perempuan yang sebelumnya tertidur pulas, sudah mengerjapkan kedua bulu matanya yang lentik itu.


Ia melihat seorang pria yang tertidur dan berusaha untuk melihat pria itu dengan baik. Sehingga ia harus bangun dari tidurnya,tapi ia kembali mengeluh dan mengerang kesakitan.


"Aahh!" keluhnya Priska sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing karena ingin menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


Priska teringat dengan sebuah kertas yang terdapat tulisan yang entah siapa yang menulisnya,kertas itu terdapat di loker kerjanya yang berwarna pink, Ku kumpulkan kepingan hati


Yang kau hancurkan jadi serpihan


Kali ini kamu terlalu

__ADS_1


Hingga harga diriku terinjak.


Menancapkan di hati


Perihnya meradang tak sembuh sembuh


Walau aku s'lalu bertahan


Tapi kali ini aku runtuh.


Kamu terlalu tau lemah aku


Mencintaimu dan mudah memaafkan


Hanya bila nanti kamu terluka


Seperti yang kurasa


Anggaplah ini karmamu, hingga detik ini masih bertanya-tanya siapa yang punya kertas itu dan ditujukan untuk siapa.


Priska berusaha untuk menahan sakitnya kepalanya saat itu.


"Saya tidak boleh kalah dengan sakit ini, aku pasti bisa melawannya," cicitnya Priska yang bergerak dengan hati-hati karena tidak ingin menganggu istirahatnya atasannya itu.


"Ini kan Pak Arsyad,kok bisa tertidur disini apa jangan-jangan dia yang terus menjagaku dari kemarin, seingatku terakhir kalinya aku bertemu dengan bapak Lukman dan ibu Salma, apa benar mereka bukan orang tua kandungku, tapi katanya Pak Vero memang bukan, aku harus cari tahu apa yang terjadi sebenarnya, aku tidak ingin hidup seperti ini terus," lirihnya Priska.

__ADS_1


__ADS_2