
Arsyad berterima kasih kepada kedua orang tua angkatnya Priska, tapi Arsyad sama sekali tidak ingin melihat Priska Oktaviani bersentuhan langsung dengan adik dan kedua orang tua angkatnya walaupun, mereka sangat berjasa atas keselamatan hidup kekasihnya.
"Aahhh tidak!! Sakit!!" Teriak Priska sebelum terjatuh pingsan dalam dekapan hangat pelukannya Arsyad.
Arsyad segera menggendong tubuh kekasihnya itu dengan sekuat tenaga dan berlari kearah ICU.
"Tolong cepat panggilkan dokter!" Perintahnya Arsyad yang terus berjalan sambil menggendong tubuhnya Tiwi yang sudah tidak sadarkan diri itu.
Arsyad menarik tangannya Priska dari dalam ruangan perawatan Bu Salma da Pak Lukman Sardi, tapi usahanya itu gagal. Priska menghempaskan tangannya Arsyad dengan cukup kuat, lalu memegang kedua sisi kepalanya.
"Ahh tidak?! Sakit!" Teriak histeris Priska.
Baru sepersekian detik Priska berteriak seperti itu, tubuhnya terjatuh ke atas lantai. Untungnya Arsyad sigap menolong Priska hingga tubuhnya Priska tidak terjerembab ke atas lantai keramik yang cukup dingin itu.
"Vero! Tolong hubungi bagian UGD atau ICU persiapkan pelayanan terbaik untuk calon istriku!" Pekiknya Arsyad seraya menggendong tubuhnya Priska yang sudah tidak sadarkan diri lagi.
Vero Arlando Juno secepatnya berlari menjalankan perintah dari bosnya itu. Ia segera mendatangi ruangan perawatan terdekat dari tempatnya sekarang.
Arsyad semakin mempercepat langkahnya menuju tempat ICU, walaupun nafasnya ngos-ngosan, peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya menggendong tubuhnya Priska,tapi tak ia hiraukan yang paling penting Pratiwi Andien segera mendapatkan perawatan dan pertolongan.
__ADS_1
"Ya Allah… selamatkan lah Tiwi jangan biarkan hal jelek menimpa kekasihku, aku rela menggantikan posisinya,biarkan aku saja yang sakit ya Allah… lagian semua ini terjadi gara-gara aku juga kesalahanku," batinnya Arsyad Shafiyyur Rachmany Yordan.
Capek, lelah, itu sudah pasti dirasakan oleh Arsyad tapi semua itu tak ia hiraukan yang paling penting calon istrinya selamat dan mendapat pertolongan pertama.
Dokter dan beberapa perawat sudah bersiaga di depan pintu masuk ruangan ugd untuk menunggu kedatangan dari Arsyad dan Tiwi. Setelah mereka datang, dokter dan perawat sigap untuk segera menangani secepatnya Tiwi.
Kedua adik angkatnya Priska yaituRian dan Rina pun mengekor di belakang Arsyad yang seolah tidak ada rasa capeknya berjalan cepat sambil menggendong tubuh Priska yang tidak berdaya da raut wajahnya semakin pucat pasi.
"Dokter tolong sembuhkan penyakitnya bagaimana pun caranya dan berapapun biayanya akan saya bayar yang paling penting calon Istriku selamat," tegas Arsyad seraya membaringkan tubuhnya Priska di atas bangkar rumah sakit.
Dokter dan timnya segera menangani Priska, mereka bekerja dengan profesional dan cepat tanggap menangani masalah yang dihadapi oleh Tiwi. Arsyad terus menggenggam tangannya Priska,ada seorang suster perempuan yang ingin mencegah dan menyuruh Arsyad untuk keluar dari dalam ruangan, tapi segera dicegah oleh direktur utama rumah sakit tersebut.
"Sus, tidak usah," ucapnya dokter itu sambil menggelengkan kepalanya ke arah perawat.
Arsyad tak bosan-bosannya dan tidak henti-hentinya berdoa demi kesembuhan dari Tiwi. Apa yang terjadi pada Tiwi hari ini sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya, jika dampaknya akan seperti ini.
Arsyad berulang kali menyesali keputusannya dan juga menyiksa dirinya karena merasa dirinya lah yang mengakibatkan hal ini terjadi. Vero yang melihat kejadian tersebut yang semakin mengkhawatirkan, segera menghubungi Nyonya Besar Sania Marwa Daud Yordan.
"Semoga saja Nyonya bisa datang secepatnya ke sini, kasihan Arsyad kalau seperti ini terus," gumamnya Vero yang merogoh saku celananya itu untuk mengambil hpnya.
__ADS_1
Vero tanpa ragu segera menghubungi nomor hpnya Bu Sania dan apa yang dilakukan oleh Vero cukup berhasil juga. Bu Sania segera menyusul mereka, Arsyila Ardila yang kebetulan menuruni tangga melihat dan mendengar Mamanya menelpon segera ikut menuju rumah sakit.
"Pak Supir cepat siapkan mobil!" Teriak Bu Sania yang tergesa-gesa ke arah depan rumahnya itu.
Pak Tedy segera menyiapkan mobil yang diinginkan oleh Nyonya besar Sania. Deru mesin mobil sudah terdengar Arsyila dan Mamanya segera masuk ke dalam mobil tersebut.
"Pak Tedy kita ke rumah sakit!" Perintah Bu Sania.
Sedangkan di rumah sakit, Arsyad akhirnya keluar dari ruangan tindakan karena ada prosedur kesehatan yang mengharuskan Arsyad harus keluar sebelum dokter mengambil tindakan. Dengan berat hati dan terpaksa Arsyad mengalah dan menunggu informasi di ruang tunggu.
Arsyad mengelus wajahnya dengan gusar dan sesekali mengumpat dirinya sendiri yang terlalu ceroboh dalam bertindak tanpa memikirkan dan memperhitungkan segala kemungkinan yang bisa terjadi.
"Ahh, aku terlalu gegabah dan bego sampai-sampai Tiwi harus menderita," kesalnya Arsyad.
Vero segera membantu untuk menenangkan diri Arsyad," Ars, kau tidak seperti ini, ini semua sudah kehendak Allah SWT, kita manusia hanya bisa berusaha dan berencana sebaik mungkin,lagian penyakitnya Tiwi ini penyakit yang tiba-tiba sama sekali bukan karena kesalahanmu jadi, saya mohon stop untuk selalu menyalahkan dirimu sendiri, insya Allah… Tiwi akan segera sembuh dari penyakitnya ini dan bisa melewati masa kritisnya," bujuknya Vero yang berusaha untuk memberikan pengertian kepada sahabatnya itu.
Vero menepuk pundaknya Arsyad yang sudah bergetar dalam tangisnya. Arsyad hanya menatap sekilas ke arah pria yang selalu membantunya dalam menghadapi beberapa kesulitan.
"Thanks, semoga aku bisa sesuai apa yang kamu katakan," tampiknya Arsyad.
__ADS_1