
"Kalau gitu aku juga serius, saya Pratiwi Andien Utomo siap menikah dengan Abang kapanpun yang Abang inginkan," balasnya Tiwi.
Betapa bahagianya mendengar hal itu, Arsyad tak segan-segan dan bosannya mengecup punggung tangannya Tiwi. Tuan Besar Adam diam-diam memperhatikan kemesraan dan kebersamaan putra tunggalnya itu.
"Semoga kalian bahagia dan tidak mengalami nasib percintaan yang begitu memilukan itu seperti apa yang dialami oleh Mama dan Papa Nak, suatu saat Papa akan jujur padamu siapa Papa sebenarnya tapi belum saatnya,"
Hari ini adalah rencananya Vero Arlando Juno akan mengajak Arsyila untuk melihat undangan yang telah mereka pesan sebelumnya. Arsyila begitu bahagianya hingga setiap saat senyuman selalu menghiasi wajahnya yang cantik itu.
"Kalau kamu anggap seperti itu,ya begitulah kejadian sebenarnya, karena jujur aku juga ingin seperti Pak Richard menikahi perempuan yang sangat mencintainya dengan tulus tanpa pamrih,"
"Kalau gitu aku juga serius, saya Pratiwi Andien Utomo siap menikah dengan Abang kapanpun yang Abang inginkan," balasnya Tiwi.
Betapa bahagianya mendengar hal itu, Arsyad tak segan-segan dan bosannya mengecup punggung tangannya Tiwi. Tuan Besar Adam diam-diam memperhatikan kemesraan dan kebersamaan putra tunggalnya itu.
"Mama, saya minta ijin yah," ucapnya Arsyila putri semata wayangnya Bu Sania Marwah dengan suaminya Daud Yordan.
Bu Sania yang sedang menikmati sarapannya segera menghentikan suapannya lalu melihat ke arah Arsyila putrinya itu.
"Emangnya putri cantiknya Mama mau kemana sayang?" Tanyanya Bu Sania dengan nada suaranya yang penuh kelembutan.
"Insya Allah… rencananya saya sama Mas Vero mau ke tempat cetakan undangan pernikahan kami karena mau cek dan lihat langsung apa sudah jadi dan sesuai dengan keinginan kami," jawabnya Arsyila Ardila Daud Yordan yang sangat antusias jika menceritakan rencana pernikahannya itu.
"Hati-hati sayang, sampaikan salam mama sama bundanya Vero Bu Lidia Natalia dengan kedua cucunya yang lucu itu." Imbuhnya Bu Sania.
"Siap Mama," balasnya Arsyila yang segera menyelesaikan makannya dan buru-buru menghabiskan sisa makanannya yang tersisa diatas piringnya itu.
Arsyad Shafiyyur Rahmany hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap dari adik satu-satunya itu. Pratiwi Andien Utomo yang pagi itu khusus memasak makanan kesukaan calon Ibu mertuanya pun ikut tersenyum manis melihat aura kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya Arsyila adik dari kekasih sekaligus calon imamnya itu.
Setelah selesai berpamitan dengan kakak dan mamanya, Arsyila berjalan terburu-buru menuju lift carport mobilnya itu. Arsyila mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang saja, hingga sesekali terdengar senandung lagu cinta yang terdengar begitu merdu dari bibir imutnya itu.
Arsyila berencana akan menemui kekasihnya itu di apartemennya Vero, biasanya mereka bertemu di rumah bundanya Bu Lidia, tapi untuk kali ini Arsyila berniat untuk memberikan kejutan kepada calon suaminya sekaligus kekasihnya itu.
__ADS_1
"Semoga saja Abang Vero bahagia melihat kedatanganku dengan pakaian seperti ini," gumamnya Arsyila.
Tapi, tersisa beberapa meter saja jarak yang akan ditempuhnya menuju apartemennya Vero, seekor kucing berwarna kuning kecoklatan melompat ke atas kap mobilnya hingga ia ngerem mendadak mobilnya.
Ciiiittt….
Suara decitan ban mobilnya dengan aspal di pagi menjelang siang itu sungguh memekakkan telinga. Ia segera menghentikan laju mobilnya dan mematikan mesin mobilnya itu secepatnya karena tidak ingin terjadi sesuatu pada kucing tersebut.
"Ya Allah… semoga kucingnya baik-baik saja," cicitnya Arsyil.
Arsyila hendak keluar dari mobilnya, tapi karena tidak hati-hati lengannya keserempet motor yang kebetulan lewat jalan tersebut hingga tubuhnya yang tidak siap oleng ke samping karena berputar beberapa kali gara-gara pergerakan refleks untuk mengindari pengendara motor tersebut.
Dewi Fortuna masih berpihak padanya, sehingga anggota tubuhnya yang lain masih bisa terselamatkan karena berkat bantuan dari tarikan tangan seorang pria yang berhasil dengan sigap menolongnya itu.
"Aahh!!" Teriaknya Arsyila ketika sudah berhasil ketarik hingga mengenai dada bidang seorang pria yang cukup kekar.
Arsyila masih dalam posisi yang dipeluk erat oleh pria penolongnya. Mereka berpelukan dalam beberapa saat.
Hingga klakson mobil dari seseorang mampu menyadarkan keduanya. Arsyila buru-buru melepaskan pelukannya dari tubuh penolongnya itu. Ia menunduk karena malu telah memeluk erat tubuh pria asing di depan umum. Suasana keduanya nampak canggung.
"Maafkan atas kelancangan saya Nona yang sudah menarik tangan Anda dengan kuat," ucap Pria itu yang hanya sekedar berbasa-basi saja.
"Tidak apa-apa kok, seharusnya saya yang meminta maaf dan juga mengucapkan terima kasih karena sudah menolongku sehingga tubuhku terselamatkan dari tabrakan pengendara motor ugal-ugalan barusan," sanggahnya Arsyila.
"Tapi kamu enggak apa-apa kan?" Tanyanya pria itu sambil memutar-mutar tubuhnya Arsyila saking takut dan paniknya terjadi sesuatu pada perempuan yang baru saja dikenalnya itu.
Arsyila tertawa dengan sikap pria yang berdiri di depannya itu," saya tidak apa-apa kok pak, saya baik-baik saja berkat pertolongan bapak,," cegahnya Arsyila yang tersenyum menanggapi kepanikan dan ketakutan pria yang sama sekali tidak dikenalnya itu.
Pria itu segera menarik tangannya sendiri dari tubuhnya Arsyila karena malu dengan sikapnya yang spontan itu.
"Maaf saya tidak bermaksud apa-apa kok," imbuhnya Pria itu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kok Pak, saya merasa bersyukur karena ada yang mengkhawatirkan keadaanku sedangkan kita baru kenalan ditempat ini," ujarnya Arsyila agar orang itu tidak berfikiran lain-lain.
"Apa wajahku setua itu yah, sehingga ada gadis cantik yang memanggilku dengan sebutan bapak," candanya orang itu.
"Maaf masalahnya saya sama sekali tidak mengetahui namanya situ," ujarnya Arsyila yang selalu tersenyum dalam keadaan apapun jika berbincang-bincang dengan pria asing itu.
Pria itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan," perkenalkan namaku Afrizal Rayanza Dirgantara," ucap pria itu dengan mantap.
Tanpa ragu sedikitpun Arsyila menyambut tangannya pria itu," Arsyila Ardilla Daud Yordan,"
"Nama yang sungguh cantik seperti pemilik namanya sendiri," pujinya Afrizal Rayanza.
"Maaf pak saya lagi buru-buru jadi aku pamit jalan duluan, assalamualaikum," ucapnya Arsyila pada Pria yang memakai pakaian olahraga itu yang kemungkinannya baru selesai senam atau joging.
Mobil Arsyila kemudian belok kiri di depan karena sudah masuk area apartemen tujuannya.
"Pantesan seperti seolah aku pernah melihatnya ternyata putri tunggal Pak Daud Yordan pengusaha kaya yah cukup disegani di lingkungan pengusaha ternama, menarik," lirih Afrizal Rayanza Dirgantara.
Arsyila semakin mempercepat langkahnya karena sudah banyaknya waktunya yang terbuang.
"Semoga saja Abang Vero belum berangkat ke kantornya," cicit Arsyila yang semakin menambah kecepatan langkah kakinya itu.
Ia tergesa-gesa menekan tombol lift lantai sembilan, raut wajahnya kembali berseri-seri dan sesekali kembali teringat dengan kejadian yang baru sekitar lima menit yang lalu.
"Pria yang baik," gumamnya Arsyila.
Dengan langkah yang pasti Arsyila sudah berdiri di depan pintu unit apartemen tunangannya itu. Dia segera merogoh tas handbag nya itu untuk mencari kunci pintunya.
"Alhamdulillah terbuka juga,"
Arsyila cukup heran dengan suasana keadaan apartemennya Vero yang sedikit berantakan, banyak botol minuman kaleng dingin yang berserakan tidak seperti biasanya itu.
__ADS_1
"Apa petugas kebersihan belum datang apa yang terjadi di dalam sini," tanyanya yang tidak pernah melihat kondisi seperti ini yang biasanya rapi.