
Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.
Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.
"Menunggumu dalam kesabaran lebih indah bagiku dari pada mengungkapkannya. Menantimu dalam doa lebih bermakna dari pada menjelaskannya."
Mereka berboncengan hingga ke belakang perusahaan, tempat yang selalu Priska lewati jika sudah sampai di perusahaan tempat ia bekerja. Priska turun dari motor setelah sampai dengan aman.
Priska spontan memakai helm itu dikepalainya yang tertutup hijab senada dengan pakaian kerja yang dipakainya itu. Priska duduk di belakangnya Arsyad dan sedikit menjaga jarak agar tubuh mereka tidak bersentuhan langsung.
"Pegangan apa kamu engga takut jatuh karena aku akan sedikit mengencangkan laju motorku supaya kita tidak terlambat," pintanya Arsyad yang langsung menuruti perkataan Arsyad tanpa ragu lagi.
Priska melepaskan helm yang sejak tadi terpasang di kepalanya yang tertutup hijab itu. Priska tanpa sengaja melihat ada tulisan nama seseorang di atas permukaan helm itu.
"Pratiwi Andien Utomo," cicitnya Priska.
Arsyad berpura-pura tidak mendengar hal tersebut,ia sengaja melakukan hal itu agar Priska bisa memikirkan tentang siapa perempuan yang bernama Tiwi sehingga mampu merangsang ingatan berupa beberapa memory ingatannya yang hilang itu.
"Makasih banyak ya Pak atas bantuannya, sebagai balas budiku kebetulan hari ini saya buat dua bekal kotak makanan," ujarnya Priska dengan tersipu malu seraya membuka tas ranselnya.
__ADS_1
Priska segera menyodorkan kotak bekal makanannya yang berisi beberapa makanan yang dibuatnya oleh tangannya sendiri. Arsyad tanpa ragu segera mengambil kotak bekal itu dengan senyuman tipisnya.
"Makasih banyak, saya pasti akan menghabiskan seluruh isinya jadi kamu jangan khawatir aku pasti sangat menyukai masakan yang kau buat," imbuhnya Arsyad.
"Kalau gitu saya masuk duluan Pak, assalamualaikum," Priska secepat kilat ngacir ke arah dalam karena malu diperhatikan intens oleh Arsyad dan juga takut jika, ada orang yang melihat mereka dan mengenali Arsyad sebagai pimpinan mereka.
Arsyad tersenyum bahagia karena apa yang sudah ia lakukan mengalami kemajuan yang cukup berarti. Arsyad mencium kotak bekal makanannya itu yang dibuatkan khusus oleh Priska.
Apa yang sedang dilakukan oleh keduanya tanpa sengaja dilihat langsung oleh Nia Daniaty dan Nila teman kerjanya satu lantai. Karena setiap lantai ada beberapa karyawan yang ditugaskan untuk membersihkan seluruh ruangan perusahaan tersebut secara bergiliran setiap harinya.
"Itukan Priska,tapi ngomong-ngomong siapa pria berjaket biru yang memboncengnya,apa jangan-jangan itu tunangannya dari kampungnya yah?" Terkanya Nila.
"Kalau menurut saya sih, cowoknya ganteng banget yah, walaupun dari tempat jauh kita masih sanggup untuk melihat wajah dari laki-laki itu dengan jelas, beruntung sekali Priska dapat calon suami yang baik dan juga ganteng," pujinya Nila Anjani Rahman.
"Betul sekali apa yang kamu katakan, saya setuju kalau pacarnya Priska ganteng dan penuh perhatian pada Priska," imbuh Nia.
"Sudah ah entar kita terlambat lagi dan kena omelan,"'
Mereka berdua segera berjalan ke arah dalam lokasi area perusahaan dengan berjalan kaki karena takut jika terlambat. Sedangkan Arsyad segera menghubungi anak buahnya yang sedari tadi diperintahkan olehnya untuk terus mengawasi perjalanannya. Karena dalam mobil tersebut terdapat beberapa pakaian ganti untuk Arsyad.
__ADS_1
Arsyad mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum berangkat ke pintu depan perusahaannya. Pintu dimana hanya orang penting perusahaannya yang bisa masuk ke sana.
Nely yang diperintah oleh Bu Sania Marwah Daud Yordan segera melaporkan hasil pengamatan dan pembuntutannya kepada Nyonya Besar Sania.
"Assalamualaikum Nyonya," sapanya Nely Alina Siyono.
"Waalaikum salam, apa yang kamu dapatkan?" Tanyanya to the points.
"Tuan Muda Arsyad pergi ke suatu tempat dengan memakai mengendarai motornya yang selama ini Tuan Muda sering pakai di kampung untuk menjemput seorang gadis yang ternyata gadis itu bekerja di perusahaan sebagai officer girl," ungkap Nely.
"Teruskan," pintanya Bu Sania Marwah Daud yang sudah berada di dalam mobilnya yang berniat untuk mendatangi perusahaannya sendiri.
Nely agak ragu dan bimbang untuk menjelaskan secara detail dan terperinci takutnya Bu Sania marah, "Mereka bergandengan layaknya sepasang kekasih yang saling berboncengan dengan mesra Nyonya dan mereka berhenti di pintu belakang khusus pekerja kebersihan," jelasnya Nely panjang lebar.
"Oke, tetap awasi dan perhatikan apapun yang mereka berdua lakukan, dan tolong kirim seseorang untuk menjaga keamanannya perempuan itu jangan biarkan terjadi apapun padanya,"
Sambungan telpon pun terputus,Nely cukup terkejut dan keheranan dengan keputusan dan perintah yang diamanahkan untuknya.
"Sepertinya gadis ini spesial dan istimewa dalam kehidupan Tuan Muda Arsyad Shafiyyur Rahmany Yordan."
__ADS_1