Perjuangan Cinta Arsyad

Perjuangan Cinta Arsyad
Bab. 36


__ADS_3

Gerakan yang dilakukan oleh Priska Oktaviani di atas ranjangnya membuat Arsyad terbangun dari tidurnya. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah ranjangnya Priska yang sudah kosong.


Priska berusaha untuk menahan sakitnya kepalanya saat itu.


"Saya tidak boleh kalah dengan sakit ini, aku pasti bisa melawannya," cicitnya Priska yang bergerak dengan hati-hati karena tidak ingin menganggu istirahatnya atasannya itu.


"Ini kan Pak Arsyad,kok bisa tertidur disini apa jangan-jangan dia yang terus menjagaku dari kemarin, seingatku terakhir kalinya aku bertemu dengan bapak Lukman dan ibu Salma, apa benar mereka bukan orang tua kandungku, tapi katanya Pak Vero memang bukan, aku harus cari tahu apa yang terjadi sebenarnya, aku tidak ingin hidup seperti ini terus," lirihnya Priska.


Arsyad langsung panik, takut dan khawatir dengan Priska yang tidak ada di atas ranjangnya.


"Tiwi! Kamu dimana?" Teriaknya Arsyad yang langsung bangkit dari duduknya lalu segera mencari keberadaan Priska perempuan yang paling disayanginya setelah mamanya Bu Sania Marwah.


Arsyad mencari ke setiap sudut ruangan kamar rawat inap, hingga kedalam kamar mandi.


"Pratiwi! Kamu ada di mana sayang, apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya Arsyad sembari membuka pintu kamar mandi, tapi tidak ada satupun orang di dalam sana dan ada bekas air yang terpakai di dalam sana hal itu terlihat di atas lantai marmer toilet.


Arsyad segera menghubungi anak buahnya itu, ia segera merogoh sakunya untuk menghubungi Boy anak buahnya yang ditugaskan untuk menjaga keamanan kamar tersebut. Boy yang mendengar nada dering hpnya berbunyi segera mengambil hpnya dari dalam jas hitam yang dipakainya itu.


"Tuan Muda Arsyad," lirihnya.


Boy segera berpindah dari tempatnya semula," iya halo Tuan Muda,"


"Kamu sekarang ada di mana? Apa Nona Muda bersamamu?" Tanyanya Arsyad yang belum hilang kepanikan dari wajahnya itu.


"Iya Bos,saya sedang mengawasi Nona Muda Pratiwi Andien Utomo,dia sedang duduk di salah satu bangku taman rumah sakit Tuan sembari melihat beberapa pasien anak-anak yang juga berada di sini," jawab Boy.

__ADS_1


"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu, tolong jaga dia dengan baik, aku akan segera menyusukmu, tolong kirim sharelo ke lokasi kalian," pintanya Arsyad Shafiyuur Rahmany Yordan.


Boy yang kebelet ingin ke kamar kecil meminta ijin kepada Priska untuk sebentar saja.


"Non, Aku kebelakang dulu, tolong jangan pergi kemana-mana, karena Tuan Arsyad akan segera datang ke sini menjemput nona, beliau sangat khawatir dengan kondisi dari Nona," jelas Boy.


"Silahkan Boy, jangan lama yah!"


"Siap Non,"


Boy segera melanjutkan perjalanannya dengan berjalan terburu-buru. Sedangkan Priska masih duduk ditempatnya semula seraya menatap ke anak-anak yang bermain riang gembira seolah tak ada beban apapun yang menghimpitnya.


Padahal mereka pasien rumah sakit dengan berbagai macam penyakit yang cukup kronis dengan sangat mematikan.


"Masa yang paling indah adalah masa anak-anak yang bisa pergi kemanapun, ke sana kemari tanpa ada yang membebani pikiran mereka," gumamnya Priska hingga tarikan tangan seseorang membuatnya sangat terkejut.


Priska hampir saja terjatuh karena tarikan orang itu sedangkan Priska yang tidak bersiap dengan tarikan orang itu yang berusaha untuk melawan, terpanting ke arah belakang hingga punggungnya siap untuk menerjang pagar besi taman tersebut.


Karena begitu cepatnya kejadian itu hingga Priska tidak sanggup melihat orang yang menariknya itu.


"Ahh tolong!!" Teriaknya Priska yang sudah terlempar tubuhnya.


"Percuma kamu minta tolong, tidak akan ada yang menolongmu!" Geramnya Dion.


Seorang pria yang melihat kejadian itu segera bertindak menolong Priska dengan gesitnya.

__ADS_1


"Pria mana yang tidak punya harga diri yang tega melakukan tindakan kekerasan terhadap seorang perempuan!" Gertaknya seorang pria yang kira-kira berusia 40an ke atas itu.


Priska yang sudah tersadar jika dirinya terselamatkan, segera membuka kedua kelopak matanya itu. Dia terkejut melihat pria yang menarik tangannya tadi yang berniat mencelakainya itu.


"Dion Irwansyah!!" Cicitnya Priska yang masih mampu di dengar oleh pria yang berada di dekatnya itu.


"Apa kamu mengenal pria kurang ajar itu?" Tunjuknya Pria itu.


"Dia adalah…," ucapannya terpotong karena kembali tubuhnya ditarik tapi, kali ini penuh hati-hati dan kasih sayang kedalam dekapan hangatnya pelukannya Arsyad.


Arsyad memeriksa kondisi tubuhnya Priska sambil memutar-mutar tubuhnya Priska untuk menelisik dari atas hingga bawah.


"Pratiwi apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya Arsyad yang sangat ketakutan dengan keadaannya Priska.


Tanpa terduga Priska segera memeluk tubuhnya Arsyad tanpa sepatah katapun. Arsyad yang langsung dipeluk Priska keheranan dengan sikapnya Priska, walaupun, ia sangat bahagia melihat sikapnya Priska yang tergugu dalam pelukannya Arsyad. Boy yang barusan datang segera menjalankan perintah dari kode yang diberikan oleh Arsyad.


Boy mengamankan Dion mantan tunangannya Priska dari kampung.


Arsyad mengelus punggungnya Priska," apa yang terjadi padamu kenapa bisa kamu kerjakan pergi dari kamarmu tanpa memberitahukanku sebelum kamu pergi," tanyanya Arsyad.


"Maafkan aku pak, saya hanya merasa bosan di dalam kamar terus meminta ijin pada Boy untuk diantar ke tempat ini,"


"Ingat besok-besok jangan seperti ini lagi, jika tidak aku akan gila jika kamu pergi lagi dari hidupku,"


Priska terenyuh mendengar perkataan dari mulutnya Arsyad," ya Allah... sampai segitunya pak Arsyad sangat ketakutan, mengkhawatirkan keadaanku," Priska membatin dalam pelukan atasannya di tempat kerjanya itu.

__ADS_1


"Hatiku merasa bahagia mendengar perhatiannya pak Arsyad, apa benar aku adalah tunangannya sejak dulu," Priska membatin.


__ADS_2