Perjuangan Cinta Arsyad

Perjuangan Cinta Arsyad
Bab. 49


__ADS_3

Arimbi Najwa Ardian Liem mulai hari itu dilarang pergi kemanapun tanpa pengawalan dan pengawasan dari anak buahnya Pak Adam. Richard pun diwanti-wanti untuk tidak bertemu dengan kekasihnya sekaligus calon istrinya itu.


Arimbi hanya bisa berkomunikasi dengan Richard melalui hp saja, kecuali Richard datang ke rumahnya dengan alasan yang berkedok ada urusan pekerjaan sehingga barulah ia bisa melihat langsung Arimbi walaupun dari jauh saja, itu sudah cukup bagi keduanya.


Arimbi duduk di balkon kamarnya sambil memandangi pemandangan langit malam itu yang dipenuhi oleh banyak taburan bintang-bintang dan diterangi oleh sinar rembulan malam.


"Abang andai kamu hadir disini bersamaku mungkin hati ini akan sangat bahagia," cicitnya Arimbi dengan raut wajahnya yang sendu.


Hingga ia begitu terkejut ketika ada tangan seseorang yang langsung melingkar memeluk tubuhnya dari arah belakang.


"Abang sudah datang untuk mengobati kerinduanmu itu sayangku," imbuhnya Richard.


Betapa bahagianya melihat kedatangan Richard, senyuman langsung merekah di sudut bibirnya itu. Arimbi langsung membaik tubuhnya agar keduanya saling bertatapan dan berhadapan satu sama lainnya.


Arimbi menatap ke arah kanan kiri dan memeriksa bagaimana Richard bisa sampai di atas kamarnya itu.


"Abang apa manjat dari bawah hingga bisa sampai naik ke atas sini?" Tanyanya penuh selidik dengan celingak-celinguk mencari alat yang dipakai oleh Richard untuk sampai ke atas padahal jarak dari tanah dengan balkonnya sangat tinggi.


"Haha, Abang tidak manjat gimana kalau Abang jatuh bisa-bisa kamu sedih, Abang pakai ini," ujarnya Richard sambil menunjuk sebuah kunci kamar yang berada dalam genggaman tangannya itu.


"Kok Abang punya kunci cadangan kamarku?" tanyanya Arimbi yang penuh keheranan.


"Kamu tidak perlu tahu yang jelasnya, lagian apa yang tidak bisa aku lakukan untuk kamu seorang untuk wanitaku menggapai bintang pun akan aku lakukan untuk kamu seorang," imbuh Richard.


Arimbi tanpa segan menarik tangannya Richard untuk masuk ke dalam kamarnya, ia menutup dan mengunci rapat pintu jendela kamarnya. Ia pun tak lupa menutup tirai gorden jendela kamarnya.


Kegiatan yang sudah sering mereka lakukan kembali terjadi dan berulang-ulang hingga keduanya merasa bahagia yang tak terkira. Keduanya walaupun sudah dilarang, tapi mereka tidak mungkin bisa melakukan hal itu, harus terpisah lama.


Apalagi, Richard semakin terbuai dengan kelembutan yang sering diberikan oleh Arimbi diatas tubuhnya itu. Bahkan kadang kala Ricard yang harus bertekuk lutut dihadapan calon istrinya itu.


Dua minggu kemudian, pernikahan yang cukup megah dan besar itu sudah dipenuhi oleh beberapa tamu undangan yang datang silih berganti.

__ADS_1


Richard sudah berada di depan altar pernikahan mereka, Richard sudah menjabat tangannya Pak Penghulu yang sudah siap sedia untuk mengucapkan dan melafalkan lafas ijab qobul.


"Bagaimana Pak Richard apa Anda sudah siap untuk menikah?" Tanyanya Pak Anwar Zahid selaku penghulu perwakilan dari kua setempat.


"Siap Pak," balasnya Richard dengan tegas dan mantap.


"Baiklah kalau gitu ikuti saya Pak, saya nikahkan dan kawinkan engkau Richard Emir Moeis dengan anak dari Pak Adam Ardian Liem dengan mas kawin uang sebesar 20 juta 22 ribu rupiah dan emas murni 24 karat sebesar 19 gram,"


"Saya terima nikah dan kawinnya Arimbi Najwa Ardian dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ujarnya Ricardo dengan sekali tarikan nafas dan cukup lantang.


"Bagaimana para saksi, apa kah sah?"


Pak penghulu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu.


"Sah!!" Jawab mereka serentak.


"Syukur Alhamdulillah, Anita anakmu sudah menikah tersisa Alfian Aiden Liem yang belum menikah tanggung jawabku padamu sudah hampir usai aku tidak ingin hidup dalam beban ini untuk selamanya karena Papa kandungnya itu harus mengetahui kenyataan yang sebenarnya," batinnya Pak Adam.


Pak penghulu membaca banyak doa dan memberikan nasehat kepada kedua pasangan pengantin baru itu. Richard langsung mengecup sekilas keningnya Arimbi yang sudah menjadi resmi istrinya itu.


"Alhamdulillah, makasih banyak ya Allah pernikahanku berjalan lancar sesuai dengan apa yang telah kami cita-citakan," Lirihnya Richard.


Arsyad Shafiyyur Rahmani Daud Yordan dan Pratiwi Andien Utomo juga hadir di tempat itu untuk menyaksikan langsung akad nikah tersebut.


"Tiwi suatu saat nanti kita akan berada di tempat itu juga, apakah kamu bersedia untuk menikah denganku," tanyanya Arsyad sambil menggenggam erat kepalan tangannya Tiwi.


Tiwi menolehkan wajahnya ke arah Arsyad," Abang jadi ceritanya aku sedang dilamar nih," tanyanya Tiwi yang tersenyum simpul.


"Kalau kamu anggap seperti itu,ya begitulah kejadian sebenarnya, karena jujur aku juga ingin seperti Pak Richard menikahi perempuan yang sangat mencintainya dengan tulus tanpa pamrih,"


"Kalau gitu aku juga serius, saya Pratiwi Andien Utomo siap menikah dengan Abang kapanpun yang Abang inginkan," balasnya Tiwi.

__ADS_1


Betapa bahagianya mendengar hal itu, Arsyad tak segan-segan dan bosannya mengecup punggung tangannya Tiwi. Tuan Besar Adam diam-diam memperhatikan kemesraan dan kebersamaan putra tunggalnya itu.


"Semoga kalian bahagia dan tidak mengalami nasib percintaan yang begitu memilukan itu seperti apa yang dialami oleh Mama dan Papa Nak, suatu saat Papa akan jujur padamu siapa Papa sebenarnya tapi belum saatnya,"


"Kamu mau sembunyi dimana


Aku bisa mengendus baumu


Jangan pernah lari dariku


Karena kita telah berjanji


Biar matahari bohong pada siang


Pura-pura tak mau panas


Tak perlu menyiksa diri sendiri


Sembunyikan cinta yang ada


Aku tak perlu bahasa apapun


Untuk mengungkap aku cinta kamu


Aku tak pernah beristirahat


Untuk mencintai Kamu sesuai janjiku, promise


Seribu wajah menggoda aku


Yang ku ingat hanya wajah kamu

__ADS_1


janjiku tak pernah main-main


Sekali kamu tetap kamu, "semoga Abang Richard tidak mengkhianatiku kedepannya hingga maut memisahkan kami,"


__ADS_2