Perjuangan Cinta Arsyad

Perjuangan Cinta Arsyad
Bab. 28


__ADS_3

Arsyila Ardila Daud Yordan tersipu malu karena, apa yang mereka lakukan ternyata dilihat oleh beberapa anak buahnya Vero Arlando Juno padahal mereka hanya saling beradu pandang.


Arsyila menatap intens ke arah Vero terutama ke dalam kedua bola matanya Vero m ia ingin mencari kebohongan dari dalam sinar cahaya kilatan kornea matanya Vero. Mereka kemudian menjadi saling bertatapan hingga suara intrupsi seseorang mampu memutuskan pandangan keduanya yang saling mengagumi satu sama lainnya dalam diamnya.


Vero tersenyum kikuk melihat beberapa anak buahnya memperhatikan mereka dengan seksama.


"Hemm! Kalian sudah datang," ucapnya Vero yang mengalihkan suasana yang cukup canggung yang terjadi diantara mereka.


"Ini Bos bensinnya kami belinya sepuluh liter terus kami masukkan ke dalam cergen," jelasnya Ruslan anak buahnya itu sambil mengangkat jerigen tersebut.


"Cepat isikan ke dalam mobilnya Nona Muda Arsyila jangan pakai lama!" Perintahnya Vero dengan tegas yang terus berusaha untuk menutupi rasa grogi serta gugupnya di depan perempuan yang disayanginya itu dengan diam-diam.


"Baik Bos,"


Setelah beberapa saat kemudian, mobilnya Arsyila bahan bakarnya sudah terisi dan mobilnya pun sudah bisa dikendarai seperti sedia kala. Vero turun dari mobilnya Arsyila setelah selesai menguji kelayakan jalannya.


"Silahkan kau pakai mobilmu, insya Allah kendala kehabisan bensin tidak akan terjadi lagi," imbuhnya Vero.


Vero menyerahkan sebuah kunci kedalam tangannya Arsyila.


Arsyila meraih kuncinya itu, "Makasih banyak Abang, ngomong-ngomong apa aku boleh ikut bareng Abang jemput Nanda dan Ninda?" Tanyanya Arsyila yang sangat berharap keinginannya itu dipenuhi.


"Kamu boleh ikut kemanapun Abang pergi hingga ke KUA pun Abang siap," candanya Vero yang perkataannya itu mampu membuat Arsyila terdiam dan mematung di tempatnya berdiri saking terkejutnya mendengar perkataan dari mulutnya Vero.


"Kua!" Beonya Arsyila.


"Betul sekali apa yang kamu katakan kalau kamu setuju dan tidak keberatan dengan permintaanku itu," jelasnya Vero.


Vero menatap intens ke arah Arsyila yang sulit untuk terbaca raut wajahnya yang langsung berubah seketika itu.


"Apa Abang serius dengan perkataannya Abang?" Tanyanya Arsyila dengan nada suara lemah lembut.


"Hahaha!! Tawa Vero mengggelar disiang hari bolong itu.


Arsyila hampir saja masuk kedalam jebakan candaannya Vero.

__ADS_1


"Maaf Abang hanya canda tadi, jangan dimasukin dihati mana mungkin aku berani melamar adik dari sahabatku yang masih gadis ini sedangkan usia kami terpaut jauh dan juga statusku yang duda beranak dua mana mungkin ada yang suka," sanggahnya Vero.


Padahal dalam hatinya sangat bahagia karena, percobaan dan spekulasi itu ternyata berhasil dengan baik. Vero meninggalkan Arsyila yang berdiri mematung di tempatnya semula.


"Aku berniat untuk melamarmu dan menjadikan kamu adalah istriku, tapi bukan sekarang aku mau lihat dulu seberapa besar kah kesiapan dan kesanggupanmu untuk menjadi bunda untuk anak-anakku kelak," batinnya Vero dengan senyuman smirknya itu.


Arsyila menggenggam erat kepalan tangannya," ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan, Abang hanya menganggap ku sebagai adiknya Abang Arsyad, padahal aku tulus mencintainya dan siap menjadi ibu dari kedua anak kembarnya itu," Arsyil diam-diam menyeka air matanya yang luruh ketika itu.


"Hey! Apa kamu akan bengong terus disitu,cepat nanti Nanda dan Ninda pulang!" Teriaknya Vero yang menghentikan lamunannya Arsyila.


Arsyila segera berjalan cepat ke arahnya Vero," Abang kita naik mobilku saja motornya Abang sama dia saja yang pakai," imbuh Arsyil sambil menunjuk ke arah Ruslan.


Mereka menuju ke sekolahnya si kembar dengan perasaan hati yang berbeda-beda. Arsyila sejak itu kebanyakan terdiam dan hanya sesekali menimpali perkataannya Vero. Sedang pria yang sudah berhasil mematahkan semangat juangnya Arsyila hanya tersenyum penuh maksud.


Jauh dari tempat tersebut, seorang pria sesekali menatap ke arah perempuan yang memakai seragam officer girl membaca beberapa buku yang harus dis pelajari dalam waktu yang singkat.


"Aku yakin kamu bisa menguasai isi dari buku itu hanya dalam waktu sekejap seperti yang terjadi dahulu ketika kamu kuliah," gumam Arsyad Shafiyyur Rahmany Yordan.


"Ternyata melelahkan juga baca buku sebanyak ini," keluhannya Priska Oktaviani Dedy Susanto.


Suara pertanyaan dari Arsyad mampu mengalihkan perhatiannya Priska dari banyaknya tumpukan buku itu.


"Alhamdulillah, aku masih belum menemui kendala yang berarti Pak, insya Allah besok aku sudah siap bekerja sebagai asisten pribadinya bapak," tukasnya Priska.


"Baiklah kita pulang bareng, tapi kamu tunggu aku disini dulu aku mau ganti pakaian kerjaku," pintanya Arsad yang sudah berdiri dari kursi kebesarannya itu.


"Siap Pak," jawabnya Priska.


Berselang beberapa menit kemudian Arsyad sudah mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian biasa saja. Mereka kemudian berjalan ke arah pintu rahasia khusus petinggi perusahaan yang baru dilihat dan diketahui oleh Priska yang selama ini keluar masuk membersihkan ruangan tersebut.


"Pak kita mau ke mana? Seingat aku pintu keluarnya ada di sana," tunjuknya Priska ke arah pintu keluar.


"Kamu ikuti saya saja, tidak perlu banyak protes ataupun komentar,"


Mereka sudah berada di dalam lift, Priska cukup terkejut melihat lift yang cukup megah itu.

__ADS_1


"Ya Allah… apa ini lift rahasia yang hanya Pak Arsyad yang tahu semua ini,"


Hanya dalam sekejap mata mereka sudah sampai di lantai dasar tempat basement parkiran khusus motor.


"Ambil ini, cepatlah pakai," pintanya Arsyad sambil melempar helm kesukaannya Pratiwi Andien Utomo dulu yang selalu dipakainya jika mereka hangout bareng di akhir cerita pekan.


Priska dengan gerakan tubuhnya yang gesit menangkap lemparan helmnya yang berwarna biru itu.


"Ini helm yang bertuliskan nama seorang gadis yang bernama Tiwi, sebenarnya perempuan itu siapa yah, kenapa seolah nama itu akrab dan familiar ditelingaku dan hidupku, aku harus cari tahu sepertinya kalau begini jangan sampai perempuan itu adalah orang yang pernah dekat denganku selama ini tapi aku melupakan semuanya sejak kecelakaan itu,"


Arsyad mengendari sepeda motornya dengan kecepatan sedang saja,ia ingin berlama-lama menikmati suasana sore hari itu.


"Priska, besok buatkan aku makanan lagi yah!" Teriaknya Arsyad yang memang harus berteriak kecil karena adanya dorongan angin yang berhembus membuat suara mereka terdengar kecil.


Priska agak memajukan sedikit tubuhnya hingga tubuh mereka saling berhimpitan satu sama lainnya, "Bisa pak, tapi ngomong-ngomong apa Bapak suka dengan makanan yang tadi pagi aku berikan?"


Arsyad menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari mulutnya Priska," iya aku sangat suka dan rasanya begitu nikmat, aku minta sama kamu besok kamu buatkan aku lagi yah!" Pekiknya Arsyad karena ketika berbicara motornya berbarengan dengan kendaraan lain.


Priska hanya menganggukkan kepalanya, Arsad melihat dari kaca spion motornya. Arsyad kemudian menarik tangannya Priska untuk memeluk pinggangnya itu. Priska yang diperlakukan seperti awalnya menolak karena, hal itu tidak pantas untuk mereka lakukan berdua mengingat mereka hanya atasan dan bawahan semata.


"Maaf pak kenapa tanganku ditarik?" Teriak Priska.


"Kamu harus berpegangan di pinggangku takutnya kamu jatuh lagi gara-gara enggak pegangan," elaknya Arsyad dengan senyuman penuh arti itu.


Priska malah mengeratkan pelukannya itu ketika Arsyad dengan sengaja menambah kecepatan mobilnya itu. Arsyad tersenyum penuh kebahagiaan.


"Mulai detik ini aku akan berjuang untuk merebut kembali hatimu sebagai Priska bukan sebagai Tiwi," gumam Arsyad.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di parkiran khusus motor salah satu mall terbesar di Jakarta pusat. Priska terkejut karena ternyata ia diajak oleh atasannya itu ke salah satu mall. Arsyad segera menarik tangannya Priska yang hanya melongok tak percaya dengan tujuan mereka.


"Saya kira kita akan langsung pulang ke rumah Pak,"


"Kau tidak perlu banyak tanya ataupun protes ikuti saja kemanapun aku pergi dan cukup menurut dan patuh," dengusnya Arsyad.


"Tapi, Abang pakaianku masih pakaian kerja,mana mungkin aku masuk ke Mall pakai pakaian seperti ini," tolaknya Priska.

__ADS_1


__ADS_2