
Najwa Ayumi Ariesta Rizaldi segera berjalan ke ICU, karena sudah waktunya untuk memeriksa beberapa pasien yang baru saja datang.
Waktu terus berlalu, hingga tanpa disadari oleh kedua pria dan perempuan dewasa itu ditempat yang berbeda. Veri segera menyelesaikan meetingnya yang harus menggantikan posisi bosnya itu untuk sementara waktu, karena Afrizal Rayanza Dirgantara sedang sibuk mengurus persiapan pernikahannya dengan Arsyila Ardilla Daud Yordan anak kedua dari Bu Sania Marwah atau sering disapa dengan Nyonya Sarah Helen Daud Haliq Yordan.
Kesibukan dari seorang asisten pribadi pemilik perusahaan yang cukup maju dan terbesar di Indonesia itu terlihat jelas dengan aktivitas padatnya Veri Ahmed Ali Winata.
Veri menatap ke arah jam yang terpasang di dinding tembok ruangan kantornya.
"Sudah magrib, aku harus segera ke hotel sebelum dia yang duluan datang mendahuluiku," cicitnya Veri.
Veri berjalan ke meja kerja sekretarisnya itu, "Nia Ardianto, tolong selesaikan pekerjaan ini, paling lambat setor besok pagi dan saya tidak ingin ada kesalahan sedikitpun juga, ingat jam 8 sebelum aku datang ke kantor,
Veri langsung meninggalkan meja sekretarisnya yang berkaca mata tebal itu dengan kuncir rambutnya yang menjadi ciri khasnya itu.
"Tumben Pak Veri tidak menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu baru pulang," gumamnya Nia Ardianto.
__ADS_1
Sedangkan di lokasi rumah sakit elit swasta, Najwa segera masuk ke dalam kamar mandi yang kebetulan terletak di dalam pojok ruangan prakteknya di rumah sakit. Hanya memoles make up minimalis saja, Najwa Ayumi Arista Rizaldi, tetap tidak menghilangkan kadar kecantikan alami dan naturalnya itu.
Najwa segera mengendarai mobilnya menuju jalan hotel yang sudah ditentukan oleh Veri Ahmed Ali. Walaupun banyak keraguan, kebimbangan dan ketakutan yang mendera pikiran dan hatinya itu.
Hanya butuh waktu sebentar saja, mobilnya sudah terparkir khusus di tempat parkir khusus tamu hotel. Najwa berjalan ke arah resepsionis hotel untuk bertanya apa benar atas nama pria yang bernama Veri Ahmed Ali Winata.
"Maaf Mbak,apa disini benar ada pria yang menyewa hotel Mbak bernama Veri Ahmed Ali Winata?" Tanyanya Najwa tanpa ragu sedikitpun.
Kedua resepsionis tersebut saling bertatapan satu dengan yang lainnya seraya mengerutkan keningnya mereka, karena asisten pribadi pemilik hotel tersebut ternyata ada seorang perempuan yang masih awet muda di usianya yang sudah hampir dua puluh sembilan tahun itu.
Kedua resepsionis menelusuri seluruh tubuhnya Najwa hingga ke atas ujung rambutnya itu. Mereka belum menjawab pertanyaan Najwa hingga ia harus menunggu beberapa saat kemudian, barulah mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan.
"Makasih banyak atas informasinya, thanks Mbak,"
"Sama-sama," balasnya mereka.
__ADS_1
Najwa segera beranjak dari meja resepsionis menuju kamar yang sudah disebutkan oleh resepsionis.
"Hey,apa jangan-jangan itu adalah kekasihnya Pak Veri, karena selama saya hampir lima tahun bekerja di sini, baru kali ini ada wanita yang diajak bertemu dengan pak Veri," imbuhnya Naira.
"Betul jigy, saya pun sama, karena Pak Verie selama ini terkenal dengan workaholic dan selalu dilihat bersama dengan Tuan Muda Afrizal Rayanza Dirgantara dengan seorang gadis mana pernah,iya yang gak sih," terkanya Vika.
Najwa masuk ke dalam lift, dengan perasaan bimbang hingga beberapa kali ia bolak balik keluar masuk lift. Ketakutan dan kecemasan jelas terlihat dari mimik wajahnya itu.
"Kamar 213," cicitnya Najwa.
Dia kembali terlihat ragu dan bimbang hal itu terlihat jelas dari sikapnya yang kadang mengangkat tangannya berulang kali untuk mengetuk pintunya tapi,ia kembali mengurungkan dirinya sendiri.
"Sebaiknya aku pulang saja, ini tidak baik untuk kami berdua," Gumamnya seraya berbalik membelakangi pintu itu yang tiba-tiba terbuka lebar.
"Selamat datang, saya kira kamu tidak bakalan datang memenuhi tantanganku, atau kamu hendak pergi lagi karena ketakutan tidak sanggup memenuhi tantanganku ini," ucapnya pria yang berada di belakang punggungnya Najwa.
__ADS_1
Najwa tanpa ragu segera berbalik badan dan langsung main nyelonong masuk ke dalam kamar tersebut tanpa sepatah katapun. Veri menyunggingkan senyumnya penuh maksud itu.
"Saya sudah yakin jika kamu pasti akan datang memenuhi tantangan ini," gumamnya Veri yang kemudian menutup rapat pintu itu kemudian mengunci kenop pintunya.