
Setelah Vero Arlando Juno berpamitan untuk pergi dari dalam ruangannya, Arsyadi segera melanjutkan apa yang seharusnya sedari tadi ia kerjakan. Kotak bekal makanan yang berwarna merah dengan tutup putih itu dibuka oleh Arsyad.
"Aku harus segera menyuruh anak buahku untuk menjemput Paman Budi Jaya dengan Bibi Hanifah pasti mereka akan sangat bahagia jika mengetahui kalau Tiwi masih hidup."
Arsyad tersenyum bahagia melihat ke dalam kotak itu yang terdapat beberapa jenis makanan yang sedari dulu sering dimasakin oleh Pratiwi Andien Utomo calon istrinya jika mereka ketemuan.
Arsyad menikmati makanan itu dengan hikmahnya tanpa ada gangguan dari siapapun.
"Masakannya semakin lezat, aku tidak pernah bosan nikmati makanan ini," gumamnya Arsyad sambil menyantap makanan itu hingga tandas tak bersisa sedikitpun.
Arsyad tersenyum puas bahagia karena rasa laparnya sudah teratasi dengan baik.
"Nely, tolong hubungi bagian officer girl dan segera perintahkan Priska Oktaviani menghadap ke ruanganku sekarang juga, karena ruanganku masih kotor," perintah Arsyad yang sengaja berkata seperti itu agar tidak ada orang yang curiga dengan pemanggilan Priska ke ruangannya itu.
"Kasihan Priska pasti kena marah kalau seperti ini lagi," gumamnya Nely yang segera menjalankan perintah dari atasannya itu.
Arsyad tersenyum puas karena akhirnya mendapatkan cara yang jitu dan ampuh agar dirinya bisa berdekatan dengan Priska tanpa menimbulkan kecurigaan dari beberapa karyawannya yang bisa berujung pada gosip yang tidak perlu terjadi.
Nely menelpon nomor kantor bagian og, Nely berharap tidak terjadi masalah yang cukup serius yang diakibatkan oleh Priska.
"Halo, tolong infokan pada Priska jika saya mencarinya dan suruh secepatnya menghadap ke ruanganku secepatnya," pintanya Nely.
"Halo Bu, baik saya akan secepatnya sampaikan kepada Priska apa yang ibu Nely sampaikan kepadaku," imbuhnya Nila yang kebetulan mengangkat teleponnya itu.
Nila segera berjalan untuk memanggil Priska dan menyampaikan pesan kepada Priska dari ibu Nelly. Nila berlari tergopoh-gopoh mencari keberadaan sahabatnya itu. Senyumannya terbit dari sudut bibirnya ketika melihat Priska yang sedang membersihkan ruangan meeting.
"Priska!" Teriaknya Nila dengan kecepatan larinya yang luar biasa membuat Priska tercengang melihat tingkah absurb sahabatnya itu.
"Jangan lari!!" Stop!" Jeritnya Priska yang merentangkan kedua tangannya untuk mencegah Nila menambah kecepatan laju larinya.
Tetapi, usaha yang dilakukan oleh Priska sia-sia saja. Nila sudah terpeleset karena lantai yang diinjaknya baru saja selesai dipel oleh Priska.
"Ahhh!!" Teriaknya Priska yang segera berpindah tempat agar tidak menjadi korban dari tabrakan Nila.
__ADS_1
Priska dan yang lainnya tertawa terbahak-bahak melihat kejadian naas yang dialami oleh Nila.
"Ha-ha-ha!" Suara tawa menggema di lantai tersebut.
Priska segera menyudahi tawanya karena membantu Nila untuk berdiri yang seluruh pakaiannya hampir basah semua terkena cipratan air dari ember yang ditabraknya.
"Sini bangun aku bantuin," tawarnya Priska yang masih tersenyum tipis.
Nila menyambut tangannya Priska," maafkan saya yah sudah ngacaukan lantai yang sudah kalian bersihkan," sesalnya Nila.
Rio pria yang diam-diam mencintai Nila segera membantu keduanya.
"Kamu ini gadis atau cowok sih? Kelakuan kamu itu akhir-akhir ini tidak mencerminkan seorang gadis saja," sarkasnya Rio.
"Hehehe maaf,"
"Sudah bertengkarnya, tadi kamu berteriak memanggil namaku emangnya ada apa?" Tanyanya Priska sembari membantu membersihkan bajunya Nila.
"Sampai hampir lupa, itu kamu dipanggil sama Bu Leny,cepeten ke sana entar ibu Leny ngomel-ngomel lagi," dorongnya Nila yang sebenarnya ingin berduaan dengan Rio.
"Sudah sana pergi saja, tidak perlu risaukan dengan urusan disini serahkan semua urusan ini kepada kami, iya kan Rio?" Tanyanya Nila yang mengedipkan matanya ke arahnya Rio.
Rio yang mengerti maksud dari kode yang diberikan oleh Nila pacarnya segera mengiyakan perkataan dari kekasihnya.
"Iya Pris, kamu pergi saja dari pada kamu kena marah mendingin tinggalin semuanya yang disini oke," Rio membantu Nila untuk mengusir secara halus Priska.
Priska mengerutkan keningnya,"Sepertinya ada u dibalik b deh tapi, enggak apa-apa lah aku maklumi untuk sekali ini saja, tapi enggak ada belakangan lagi,"
Priska segera pergi dan cabut dari tempat mereka berdua. Rio dan Nila saling bertatapan satu sama lainnya dengan senyuman yang penuh maksud. Setelah bertemu dengan Bu Neli, Priska berjalan ke arah ruangan khusus untuk CEO perusahaan.
Langkahnya sempoyongan, karena terlalu banyak pikiran sehingga langkahnya seperti seseorang pesakitan saja. Raut wajahnya bingung dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi setelah pemanggilan ini.
"Ya Allah… semoga saja makanan yang saya masak khusus untuk pak Arsyad rasanya enak sehingga tidak mengecewakan," gumam Priska.
__ADS_1
Priska baru ingin menekan tombol power di pintu ruangan itu, pintunya sudah terbuka lebar dari arah dalam terlihatlah seorang pria dengan tubuh kekar,tegap, dada bidang yang terlihat jelas karena kemeja biru muda yang dipakainya cukup terlihat dipandang mata.
Kornea mata yang agak biru, hidung yang mancung, kulit yang putih mulus dan bersih, tapi kelopak mata sedikit sipit seperti orang Korea Selatan.
"Silahkan masuk, padahal baru saja aku ingin menjemputmu, kamu sudah datang," imbuh Arsyad Shafiyyur Rahmany.
"Maaf saya terlambat Pak karena ada insiden kecil yang terjadi di tempat kerja," ujarnya Priska.
Mereka berjalan beriringan ke arah meja kerjanya Arsyad, mereka sama-sama duduk di tempat masing-masing. Arsyad memperhatikan jemarinya Priska yang sedikit kasar karena pekerjaan Priska yang cukup kasar itu.
"Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut kalau seperti ini tangannya bisa seperti tukang bangunan saja, ini semua karena kesalahanku yang tidak menjagamu dengan baik," tatapannya Arsyad sendu.
"Maaf Bapak panggil saya ke sini untuk apa yah Pak? Karena setahu saya tidak melakukan kesalahan apapun kok Pak,' sanggahnya Priska.
Arsyad bukannya menjawab malahan sibuk menekan beberapa tombol di telepon.
"Nely, tolong segera ke ruanganku tidak pakai lama," perintah Arsyad.
Nely segera berjalan ke arah dalam ruangan, Priska yang menyadari kedatangan Nely segera berdiri lalu menundukkan sedikit tubuhnya ke arahnya Bu Neli.
"Nely, tolong carikan pekerjaan yang paling cocok untuk Priska, asalkan jangan bekerja sebagai officer girl lagi," tatapnya Arsyad ke arah Priska yang sedari tadi menunduk.
"Ada sih Pak, ta-pi!" Jawabnya Nely agak ragu dan bimbang untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Tapi kenapa?" Tanyanya Arsyad dengan tegas.
"Jadi asisten pribadinya Bapak mungkin, kebetulan Methi sudah cuti untuk beberapa bulan, karena Methi kebetulan cuti hamil Pak, kalau menurut aku itu solusi pekerjaan dan posisi yang cocok untuk bapak," jelas Nely Andayani.
Arsyad memikirkan seksama solusi yang diberikan dan ditawarkan oleh Nely sekretaris sekaligus anak buahnya Bu Sania Marwah mamanya Arsyad.
"Oke, mulai sekarang kamu jadi asisten pribadiku, Nely buatkan surat kerja untuknya sebagai tanda kesepatan kerja kami berdua,"
"Baik Pak,apa masih ada yang bisa aku lakukan untuk bapak?"
__ADS_1
"Silahkan kamu kembali bekerja, Ingat mulai besok tolong kamu ajari Priska masalah pekerjaan apa saja yang harus ia kerjakan sebagai asistenku,"
"Siap pak," timpalnya Nely lalu segera berjalan meninggalkan ruangan pribadi milik CEO perusahaan besar tersebut.