
"Iih Abang, saya serius kok malah Abang balasnya canda gitu," dengusnya Pratiwi Andien Utomo.
Arsyad segera menghentikan tawanya setelah pintu kamar perawatan Tiwi terbuka lebar dari luar.
"Assalamualaikum," sapanya Arsyila yang tersenyum ramah ke arah calon kakak iparnya itu.
Arsyad terdiam sesaat dan seolah sedang berfikir berat. Arsyad duduk di hadapan Pratiwi Andien sedang Tiwi duduk di ujung ranjang dengan kakinya berselonjor dengan mengayunkan kedua kakinya sembari menunggu keputusan dari Arsyad.
"Apa mimpi itu tentang kenangan yang pernah kami lalui bersama, tandanya ini adalah kemajuan yang cukup bagus, semoga kedepannya akan lebih mudah untuk mendapatkan kembali kepingan memory ingatannya yang hilang,"
Tiwi mengernyitkan dahinya melihat sikapnya Arsyad yang terdiam seribu bahasa, "Abang jangan bilang Abang punya syarat lagi!" Dengusnya Tiwi sembari mendelikkan matanya.
"Waalaikum salam," jawab keduanya yang membalas salam dan senyuman Arsyila.
"Uncle Arsyad!!" Teriak Ninda dan Nanda anak kembarnya Vero Arlando Juno.
Pratiwi yang melihat dua bocah cilik yang cantik, lucu, imut,comel serta pintar banyak akalnya untuk usulin orang membuat Tiwi tersenyum bahagia.
"Hey the princess twins," sapanya Arsyad yang kemudian menggendong salah satu dari mereka.
"Uncle Ars, kok cuma kakak Ninda yang digendong sih, gimana dengan Nanda ini culang, Nanda malah Uncle!" Kesalnya Nanda yang memang sering cemburu sama kakak kembarnya selalu seperti itu karena, Arsyad sering salah orang yang menduga serta mengira jika Ninda adalah Nanda.
Tiwi yang tidak mau tinggal diam melihat kedua anak kembar itu.
"Kalau gitu, gimana kalau Nanda, Aunty yang gendong, mau engga," tawarnya Tiwi yang sudah membungkukkan sedikit badannya sambil merentangkan kedua tangannya ke hadapannya Nanda putri keduanya Vero.
__ADS_1
Nanda menatap sekilas ke arah Arsyad untuk meminta ijin terlebih dahulu, sedangkan Arsyad yang dimintai ijin menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan Priska Oktaviani. Nanda kemudian berlari ke arah dalam pelukan dekapan hangatnya Tiwi.
Tiwi segera menggendong tubuhnya Nanda," aunty cantik apa aunty adalah calon istrinya Uncle Ars?"tanyanya Nanda seraya memegang hijabnya Tiwi.
Nanda menatap ke arah dalam kedua bola matanya Priska," heemm Aunty enggak jawab berarti Aunty benar adanya kalau aunty calon iparnya Aunty Arsyila pacarnya ayah," ujarnya Nanda yang membuat Arsyila menyemburkan keluar minuman dingin yang baru saja diteguknya beberapa kali tegukan itu.
"Huk… uhuk.. uuhuk..!"
Ninda yang sedang dipangku oleh Arsyila segera turun dari pangkuannya Arsyila kemudian segera menepuk punggungnya Arsyila dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Bunda Arsyila kalau minum tuh harus hati-hati jangan seperti Ayah yang kadang minum terbatuk-batuk," ucapnya Ninda seperti orang tua saja yang menasehati anaknya.
"Arsyila apa Abang boleh minta tolong padamu?" Tanya Arsyad yang bernada permintaannya Arsyad.
"Kamu kemasi barang-barangnya Mbakmu terus kamu pulang ke rumah dulu karena, Abang sudah perintahkan Mbak Yuni untuk mengatur, mengatur, membersihkan kamarnya Tiwi," terang Arsyad.
"Baik kak," Arsyil segera menjalankan perintah dari abangnya itu dengan patuh dan telaten.
Priska yang melihat adiknya Arsyad segera membantunya tapi, secepatnya dicegah.
"Mbak Tiwi tidak perlu repot-repot bantuin, saya masih bisa kalau hanya pekerjaan seperti ini kok," cegahnya tangannya Tiwi yang menolak dibantu oleh Tiwi.
"Mbak Tiwi duduk santai, cantik saja Mbak kan baru saja sembuh dari sakitnya, kapan-kapan kalau aku butuh bantuan barulah Mbak bantu, gimana setuju kan?"
Kedua bocil yang sedari tadi merecoki kehidupan kedua pasangan itu duduk sambil memainkan gedjet mereka masing-masing.
__ADS_1
Sedang Arsyad segera berpamitan kepada keduanya karena, harus menghadiri rapat yang tiba-tiba dari perusahaan AA milik pria yang berhasil menyelamatkan nyawanya Pratiwi Andien Utomo ketika diancam oleh mantan tunangannya itu yang bernama Dion Ardiansyah.
Sambungan telpon pun terhubung"Aldi, tolong segera bawa mobil ke rumah sakit Nona Tiwi dan Arsyila mau balik ke rumah, mulai detik ini jika Nona Tiwi ingin keluar kemanapun kamu yang harus bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatannya calon istriku," perintahnya Arsyad.
"Baik Tuan Muda perintah Tuan akan segera saya laksanakan," balasnya Aldi dari balik telpon genggamnya itu.
"Abang pergi dulu, Arsyila telpon abang apapun yang terjadi dengan Mbakmu ini," amanah dari Arsyad.
"Siap Pak Bos," ujarnya Arsyila yang becanda dengan kakak satu-satunya itu walaupun mereka beda bapak.
Pratiwi Andien terus menatap kepergian Arsyad dengan memberikan senyuman yang termanisnya. Tiwi memegangi puncak bibirnya yang masih terasa ada bekas bibirnya Arsyad pria pemaksa, penuh perhatian dan selalu berada digaris terdepan untuk membahagiakannya.
"Ya Allah… lancarkan lah selalu pekerjaannya Pak Arsyad dan semoga besok bisa mengantarku ke pantai Pangandaran," Tiwi membatin.
Aldi sang supir pribadi yang ditugaskan untuk mengantar jemput kemanapun perginya Priska Oktaviani sang asisten pribadinya Arsyad sekaligus mantan officer girl di perusahaan DY coorperation.
Kedatangan di rumah besar keluarga dari Bu Sania Marwah disambut hangat oleh seluruh art yang bekerja di sana dengan suka cita.
Priska terkejut sekaligus bahagia melihat semua orang di rumah itu berjejer menyambut kedatangan calon istrinya dan sekaligus calon mantu anak sulung di dalam kediaman utama keluarga Yordan yang cukup megah dan besar itu. Mereka bersamaan menundukkan kepalanya menyambut Priska atau Pratiwi itu.
"Selamat pagi dan selamat datang di kediaman Daud Nona Pratiwi Andien Utomo," sapanya dari beberapa asisten rumah tangganya yang kebetulan berbaris menyambut kedatangannya sesuai perintah dari Nyonya Besar Sarah atau Sania Marwah.
Dua pasang suami istri yang sudah lanjut usia sangat bahagia setelah melihat dengan kedua pasang mata kepala mereka, perempuan yang disayangi keponakan sekaligus anak angkatnya itu masih hidup dan selamat dari kecelakaan maut tenggelamnya kapal yang dia pakai ketika liburan dengan beberapa teman kuliahnya sekitar kurang lebih enam tahun silam.
"Tiwi!" Panggilnya Bu Hanifah dengan suaminya Pak Budi Jaya.
__ADS_1