Perjuangan Cinta Arsyad

Perjuangan Cinta Arsyad
Bab. 53


__ADS_3

Di dalam sebuah unit kamar mewah apartemen yang sempat dikunjungi oleh Arsyila, dua pasangan sejoli masih saja dalam keadaan tanpa memakai sehelai dan selembar benang pun yang melindungi dan menutupi tubuh mereka masing-masing.


Mereka seolah tidak terusik dengan kejadian tabrakan maut yang terjadi di jalan sekitar area apartemen mewah tersebut. Vero dan kekasih selingkuhannya masih saja sama-sama memberikan kebahagiaan yang tidak terkira.


Perempuan itu adalah sahabatnya semasa sekolah Arsyila yang tega bermain api di belakangnya, padahal dengan jelas ia mengetahui jika Arsyila dan Vero hanya menghitung hari pernikahannya.


Arsyad segera berlari meninggalkan ruangan rapat tersebut, Pratiwi Andien pun ikut berlari di belakangnya Arsyad. Sekretarisnya Arsyad Farel Hadikusuma menjelaskan kepada ketiga kliennya itu dengan jelas. Apa yang terjadi sebenarnya, untungnya mereka mengerti dengan keadaan yang terjadi pada Arsyad dan anggota keluarganya.


Arsyad terkejut mendengar berita tersebut, tubuhnya terhuyung ke belakang beberapa langkah hingga hp yang sedari tadi dalam genggaman tangannya terjatuh.


Prang…!!


Apa yang terjadi pada Arsyad membuat semua orang terkejut dan saling bertatapan satu sama lainnya.


"Tidak!!" Teriaknya Arsyad.


Tiwi yang melihat kondisi dari calon suaminya sekaligus atasannya segera berjalan ke arah Arsyad.


"Abang apa yang terjadi?" tanyanya Tiwi.


"Ya Allah… apa yang pada adikku, tadi pagi ia berangkat dari rumah dengan wajahnya yang penuh keceriaan dan kebahagiaan, tapi sekarang ia sudah harus berjuang untuk kehidupannya di atas meja operasi," gumamnya Arsyad yang masuk ke dalam mobilnya dengan tergesa-gesa sampai-sampai melupakan Tiwi yang sedari tadi mengekor di belakangnya.


Arsyad mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Tiwi yang melihat hal tersebut sangat mengkhawatirkannya.


"Ya Allah… jaga dan lindungilah Arsyad jangan biarkan terjadi sesuatu padanya, cukup Arsyila yang kecelakaan, saya sangat takut melihat keadaannya yang seperti itu," cicitnya Tiwi.


Farel pun segera menelpon nomor hpnya Bu Sania Marwah Daud Yordan tentang berita duka tersebut.

__ADS_1


Farel menyusul mereka, tapi hanya melihat Tiwi yang berdiri kebingungan," Mbak Tiwi dimana Tuan Muda Arsyad?" Tanyanya Farel yang celingak-celinguk mencari keberadaan Arsyad atasannya itu.


Tiwi menunjuk ke arah jalan," Pak Arsyad sudah pergi," ujarnya Tiwi.


"Kalau gitu tunggu saya Mbak ambil mobil dulu," pintanya Farel.


"Oke, tapi ingat jangan lama," imbuhnya Priska Arsmila Oktaviani yang lebih dikenal dengan panggilan Tiwi yang mengalami hilang ingatan.


Bu Sania yang mendengar informasi tersebut segera meninggalkan tempat pertemuannya dengan ibu-ibu arisan yang kebetulan Bu Sarah Helena itu sedang membagikan beberapa undangan pernikahan putrinya yang tersisa satu minggu itu.


"Farel, apa yang kamu katakan, jangan sekali-kali kamu prang saya dan mengatakan putriku kecelakaan maut sedangkan ketika berangkat dari rumah dalam keadaan yang baik-baik saja," cecarnya By Sania Marwah Daud Ibrahim Yordan yang membuat anggota arisannya yang berjumlah dua puluh 20 lebih orang itu terkejut mendengar teriakan dan bentakan dari Bu Sania yang tidak pernah seperti ini.


"Bu Sania cepetan ke rumah sakit untuk memastikan hal tersebut, karena saya sempat melihat ada kecelakaan sewaktu saya di jalan dan korbannya seorang perempuan muda dengan memakai pakaian berwarna hijau toska tapi, wajahnya saya tidak sempat lihat karena sudah dibawa ke dalam mobil oleh seorang pemuda kalau enggak salah di jalan xx," ungkapnya Bu Nadia Vega salah satu teman sosialita nya itu.


"Maaf yah Bu saya harus pergi dulu, doakan semoga putriku baik-baik saja," harapnya lalu tergesa-gesa berjalan meninggalkan kumpulan ibu-ibu istri pengusaha kaya itu.


"Betul sekali, kasihan banget dengan Arsyila, semoga saja dia dalam keadaan yang baik-baik saja dan selamat," ucapnya Bu Diah.


"Amin ya rabbal alamin," ucap mereka serentak.


Bu Sania sudah berada dijalan raya menuju rumah sakit sesuai yang diinformasikan oleh sekretaris putranya itu. Raut wajahnya jelas menyiratkan dan memperlihatkan ketakutan, kekhwatiran, kecemasan yang sangat.


"Jika terjadi sesuatu padamu Nak, Mama tidak akan memaafkan diri Mama sendiri," cicitnya Bu Sania seraya menggenggam terus hpnya itu.


Mobil belum berhenti dengan baik,Bu Sania sudah keluar dari dalam mobilnya itu. Ia kemudian berjalan tergesa-gesa ke arah ruang operasi. Di sana ia melihat putra tunggalnya,Tiwi,Farel dan dua orang yang sudah dikenalnya tapi, heran melihat keberadaan keduanya.


Bu Sania memicingkan matanya melihat pakaian dari Afrizal yang terkena dengan kotoran darah bekas lukanya Arsyila. Sehingga ibu Sania mengaggap jika, Afrizal Rayanza Dirgantara adalah pelakunya itu.

__ADS_1


Bu Sania segera berjalan ke arah Afrizal dan tanpa ragu langsung melayangkan tamparannya ke arah wajahnya pipi bagian kanannya Afrizal.


Plak!!!


"Ini semua gara-gara kamu yang sudah menyebabkan putriku kecelakaan hingga harus dioperasi!" Geramnya Bu Sania.


Arsyad dan yang lainnya terkejut melihat hal tersebut. Arsyad segera mencegah mamanya untuk melanjutkan kembali makiannya dan amarahnya it yang sudah meletup-letup hingga ke ujung ubun-ubunnya itu.


"Mama, stop hentikan Ma, bukan Tuan Afrizal yang menabrak Arsyila kita, tapi seorang supir mobil box berbak yang menabrak dengan tidak sengaja adikku, Mama," sanggahnya Arsyad.


Bu Sania merasa malu dengan apa yang sudah ia lakukan itu," maafkan saya Pak karena saya tidak terlalu khawatir dengan kondisi putriku hingga tidak sempat berfikir jernih," kilahnya Bu Sania yang sangat malu dengan sikapnya sendiri itu


"Tidak apa-apa kok Nyonya itu hal yang biasa terjadi dan wajar saja," tukasnya Afrizal.


Veri angkat bicara, "Maaf Nyonya besar, Tuan Muda kami lah yang mengorbankan dirinya untuk menolong dan membawa ke rumah sakit putri Anda, dan juga sudah mendonorkan darahnya untuk putri Nyonya,lagian semua kecelakaan ini murni terjadi karena kesalahan anak Anda sendiri yang menabrak mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dalam keadaan yang berlari kencang dari dalam apartemen yang sedang menangis," terangnya Very yang melihat langsung keadaan tersebut.


"Berlari dalam keadaan menangis!" Beonya Bu Sania.


"Bukannya itu adalah apartementnya Pak Vero Armando Juno Tuan Muda calon suaminya Nona Arsyila," tebaknya Farel.


"Apa dia akan menikah dan punya calon suami," gumamnya Afrizal.


"Apa yang terjadi sebenarnya ini, sepertinya ada yang tidak beres," cicitnya Bu Sania yang keheranan dengan serentetan kejadian tersebut.


"Farel segera cari info dan bukti apa saja sebelum kecelakaan tersebut dan selidiki dengan rinci dan detail, kenapa adikku satu-satunya itu menangis dari dalam unit apartemennya Vero!" Perintah Arsyad yang berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiran negatifnya itu.


Afrizal pun menatap intens ke arah Veri, sedangkan yang ditatap mengerti dengan arti dan maksud dari tatapan mata bos-nya itu.

__ADS_1


__ADS_2