Perjuangan Cinta Arsyad

Perjuangan Cinta Arsyad
Bab. 45


__ADS_3

"Ya Allah… kenapa meski aku harus kembali bertemu dengan Mas Adam Ardian Liem, gimana jika ia mengetahui jika aku punya anak darinya dan dia menuntut haknya,apa yang harus aku lakukan?" Batinnya Bu Sania Marwah.


Pratiwi Andien Utomo yang kebetulan melihat calon mertuanya itu termenung seolah banyak beban pikiran yang dia pikirkan segera menyentuh punggung tangannya Bu Sania.


Tatapannya yang teduh miliknya menatap mamanya," Mama apa yang terjadi padamu, apa Mama baik-baik saja?" Tanyanya Pratiwi Andien Utomo atau orang-orang sekarang dipanggil oleh Priska.


"Sukur alhamdulillah kalau kamu suka, karena ini kue buatan Ibu yang dulu sering kamu minta dibuatkan kalau datang berkunjung ke rumah," ungkap Bu Hanifah sebagai Ibu angkatnya Arsyad yang merasa bahagia dengan Tiwi yang perlahan mengingat beberapa penggalan masa lalunya.


"Saya sedang tidak enak badan Nak, kalau gitu pamit yah mau istirahat," pungkasnya Bu Sania yang menutupi kenyataan yang ada.


"Bibi ngomong-ngomong apa boleh Arsyila minta diajarin buat kuenya karena aku lihat calon suamiku sangat menyukai kue buatan ibu," pintanya Arsyila yang tersenyum melihat Vero yang mencicipi kue itu sudah menghabiskan beberapa potong kue.


Semua pandangan terarah dan tertuju pada Vero yang menikmati kuenya dengan penuh penghayatan dan serius itu. Vero Arlamdo Juno jadi malu karena, perhatian semua orang termasuk beberapa asisten rumah tangganya mengarahkan penglihatannya ke pria yang lumayan ganteng dengan kulitnya yang putih mulus seperti anak perempuan,hidung mancung dan matanya yang sipit seperti orang keturunan Korea Selatan saja.


"Alhamdulillah kalau Nona Muda pengen belajar masak,kalau menurutnya ibu itu ide yang sangat bagus karena semua perempuan itu setinggi-tingginya pendidikannya pasti tetap akan kembali ke kodratnya sebagai seorang perempuan dan sekaligus seorang ibu jangan seperti beberapa perempuan yang menolak menjadi seorang ibu dengan berbagai macam alasan yang menurut ibu tidak masuk akal," jelasnya Bu Hanifah.

__ADS_1


Arsyila menggenggam kedua tangannya Bu Hanifa dengan penuh rasa bahagia dan antusias.


"Serius Ibu berniat akan mengajari saya belajar masak?" Rantang Arsyila yang kegirangan bahagia padahal hanya pengen kursus masak saja.


"Ibu akan ajari kamu sampai bisa kalau mau kamu juga bisa minta kursus kilat sama Mbakmu Tiwi karena dia juga jago masak loh," imbuhnya Bu Hanifah dengan mengalihkan perhatiannya ke arah Tiwi.


Dengan spontan Tiwi menjawab perkataan dari ibu Hanifah tanpa ia pikirkan sebelumnya," ibu bisa saja padahal ibu sendiri juga lah yang ngajarin aku loh masak masakan apapun,apa Ibu lupa," ujarnya Tiwi dengan spontan.


Semua menatap ke arah Tiwi secara bersamaan. Bu Hanifah sangat bahagia sampai-sampai ia terharu melihatnya dan mendengar ucapan spontanitas dari mulutnya Tiwi.


"Amin ya rabbal alamin, semoga saja Bu Arsyila juga ikut bahagia mendengarnya,iya Mbak cepatan ingat kenangan kalian dengan Abang Arsyad, kami kasihan melihat perjuangan Abang Arsyad untuk meraih cintanya Mbak seperti dulu," tuturnya Arsyila yang sangat berharap besar hal itu bisa terkabul dan menjadi kenyataan.


Sedangkan di tempat lain, kafe berbintang lima…


Seorang perempuan muda sedari tadi diam-diam memperhatikan raut wajahnya Arsyad Shafiyyur Rahmany.

__ADS_1


"Kenapa rekan bisnisnya Papa semakin aku lihat dan perhatikan semakin tampan, nanti aku minta nomor hpnya sama Papa saja tapi, kalau bisa saya akan meminta sama papa untuk jodohkan kami berdua," gumam Arimbi Najwa Ardian Liem.


Sedangkan seorang pria yang seumuran dengan Arsyad terus menatap dengan tajam ke arah Arimbi dia adalah asisten pribadinya Pak Adam bernama Richard Emir Moeis.


"Arimbi, aku sangat tulus mencintaimu tapi kenapa kamu selalu menolak cintaku apa kurangnya aku dimatamu, apa saya harus menempuh cara instan yang tidak baik agar kamu jatuh kedalam pelukanku dan bersedia menikahiku," geramnya Richard yang mengepalkan tangannya itu.


Richard dan Arimbi sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar hingga diperguruan tinggi mereka selalu bersama. Sejak kecil Richard sudah jatuh cinta pada Arimbi dan ketika mereka masih kecil sekitar umur mereka sepuluh tahun lalu.


Richard pernah mengutarakan keinginannya terang-terangan ketika mereka bermain,tapi Arimbi selalu menganggap itu ucapannya tidak pernah terpikirkan olehnya karena, mengingat usianya yang masih kecil.


"Abang Richard maukah kau nanti menikahiku jika kita sudah besar?" Perkataan itu yang selalu terngiang di telinganya Richard hingga detik ini.


Tetapi, Richard menganggap perkataan anak gadis usia sembilan tahun itu dengan serius hingga sekarang.


"Baiklah karena ini yang kamu inginkan Abang terpaksa akan menempuh jalan yang sebenarnya sangat tidak ingin Abang lakukan,tapi kamu sendiri yang menginginkannya terjadi," Richard Emir Moeis membatin.

__ADS_1


__ADS_2