
"Abang Richard maukah kau nanti menikahiku jika kita sudah besar?" Perkataan itu yang selalu terngiang di telinganya Richard hingga detik ini.
Richard pernah mengutarakan keinginannya terang-terangan ketika mereka bermain,tapi Arimbi selalu menganggap itu ucapannya tidak pernah terpikirkan olehnya karena, mengingat usianya yang masih kecil.
"Abang Richard maukah kau nanti menikahiku jika kita sudah besar?" Perkataan itu yang selalu terngiang di telinganya Richard hingga detik ini.
Tetapi, Richard menganggap perkataan anak gadis usia sembilan tahun itu dengan serius hingga sekarang.
Tetapi, Richard menganggap perkataan anak gadis usia sembilan tahun itu dengan serius hingga sekarang.
"Baiklah karena ini yang kamu inginkan Abang terpaksa akan menempuh jalan yang sebenarnya sangat tidak ingin Abang lakukan,tapi kamu sendiri yang menginginkannya terjadi," Richard Emir Moeis membatin.
Arsyad tanpa sengaja menatap ke arah samping kiri,ia tanpa sengaja melihat tatapan matanya Arimbi Najwa Ardian Liem putri bungsunya Pak Adam Ardian Liem. Arsyad segera mengalihkan perhatiannya ke arah lain dengan tatapan matanya tajam dan sinis.
"Makasih banyak Pak, saya pamit duluan Pak Arsyad karena masih ada kepentingan lain," imbuhnya Pak Adam Ardian Liem.
"Sama-sama Pak dan hati-hati," pungkasnya Arsyad.
Arimbi terus menatap intens ke arah Arsyad yang sama sekali tak meliriknya . Sedangkan Richard dibakar api cemburu. Ia terus mengepalkan tangannya saking marahnya melihat Arimbi menatap dengan tersenyum bahagia melihat Arsyad.
"Richard tolong antar pulang Arimbi, saya masih punya banyak urusan penting," pintanya Pak Adam.
"Siap Pak," sudut bibirnya Richard terangkat ke atas karena akhirnya rencananya akan dia laksanakan.
"Baik Tuan Besar," ujarnya Richard.
"Tapi, Papa,"
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian," tegasnya Pak Adam.
Arimbi menghentakkan kakinya ke atas lantai keramik saking jengkelnya mendengar keputusan papanya. Pak Adam segera berjalan ingin kembali menemui Arsyad secara pribad.
"Saya harus segera bertemu dengan Arsyad sebelum ia pergi," gumamnya Pak Adam.
"Richard antar saya ke apartemenku, saya tidak mau pulang ke rumah," perintahnya Arimbi.
"Baik," jawabnya Richard Emir Moeis.
Dalam perjalanan, Richard sesekali melihat ke arahnya perempuan yang sangat ia sayangi itu sejak mereka masih kecil dulu. Sesampainya di apartemen, Arimbi segera berjalan ke arah lift untuk naik ke unit apartemennya.
Richard terus mengekor ke manapun perginya Arimbi. Sejak pulang, Arimbi selalu mengomentari apapun yang membuatnya jengkel.
"Aku akan berusaha mendapatkan Arsyad apapun yang terjadi," gumam Arimbi.
Arimbi kemudian berjalan ke arah sofanya itu," Richard ambilkan aku minum!" Perintahnya Arimbi.
Richard segera mengambil air sesuai perintahnya Arimbi Nona mudanya itu.
"Ini saat yang tepat, apa obat ini cocok dengannya dan apa cepat bereaksi,"
Richard menuang beberapa tetes ke dalam minumannya Arimbi melebihi dosis yang dianjurkan.
"Ini Non air putihnya," ucapnya Richard.
"Makasih Richard,"
__ADS_1
Arimbi sama sekali tidak curiga dengan apa yang diminumnya, ia langsung meneguk air putih itu hingga tandas. Richard berjalan ke arah pintu dan mengunci pintu itu dengan rapat. Ia kemudian memungut beberapa barang-barangnya Arimbi seperti tas, sepatu dan juga blezer yang dipakainya tadi tapi, sudah teronggok ke atas lantai.
"Richard kenapa ruangannya panas sekali, apa acnya tidak jalan atau jangan-jangan rusak?" Tanyanya Arimbi yang mengipas-ngipas tubuhnya yang tiba-tiba panas melanda tubuhnya itu.
"Tunggu aku cek dulu, apa acnya berfungsi atau mungkin sudah mau diservis," imbuhnya Richard.
Arimbi semakin merasakan keanehan pada tubuhnya, hingga rasa panas yang tiba-tiba menggerogoti tubuhnya itu.
"Ya Allah… kenapa semakin panas saja," cicitnya Arimbi.
Arimbi segera membuka seluruh pakaiannya luarnya hingga hanya tersisa pakaian underware nya saja. Kepalanya pusing hingga penglihatannya sedikit kabur. Ia kemudian berdiri sembari berjalan sempoyongan. Tapi, apa yang dia alami semakin terasa saja.
Richard yang melihat apa yang dilakukan oleh Arimbi segera berjalan ke arah Arimbi dan tanpa banyak bicara,ia langsung menggendong tubuhnya Arimbi seperti karung goni saja. Richard langsung menurunkan tubuhnya Arimbi dengan melemparnya begitu saja.
Arimbi bangkit dari baringnya langsung menarik tangannya Richard sekuat tenaga hingga tubuhnya terlentang. Arimbi tanpa ragu segera mengungkung tubuhnya Richard.
Richard hendak melakukan apa yang sudah ia rencanakan, tapi nalurinya segera tersadar hingga ia hanya men ciii um bibirnya Arimbi lalu menggendong tubuhnya Arimbi kearah dalam kamar mandi. Ia menurunkan tubuhnya Arimbi kedalam bathub baru ia menyiramkan air dari shower ketubuhnya Arimbi.
Tetapi, Arimbi bukannya mengalah dan menurut, tapi ia menarik dasinya Richard dengan sekuat tenaganya lalu memegang tengkuknya Ricard sekuat tenaga.
"Abang Richard aku mohon penuhi keinginanku hari ini cukup sekali saja," bisiknya Arimbi yang penuh dengan nada sen suu al.
Richard yang awalnya bersikukuh bersikeras untuk menolak keinginannya Arimbi yang dalam pengaruh obat terkutuk dan lucknut itu, terpaksa Ricard turuti juga. Padahal awalnya memang ia berniat, tapi rasa cinta dan hatinya kembali menolak melakukan hal tersebut.
Tapi, dengan bujukan, gelombang rayuannya yang tidak terhenti akhirnya pertahanannya tumbang dan runtuh juga. Hingga teriakan demi teriakan dari mulut Arimbi semakin terdengar saja.
Richard segera menggendong kembali Arimbi ke atas ranjang. Mereka melakukan hubungan yang terlarang, hubungan yang tak seharusnya terjadi begitu saja. Tapi, karena kesalahannya sendiri Richard akhirnya mereka sama-sama jatuh ke dalam kubangan lumpur kesalahan yang terdalam.
__ADS_1
Keesokan harinya, keduanya masih terlelap dalam tidurnya dalam selimut tebalnya yang sama. Mereka terbangun dari tidurnya ketika seorang pria membangunkan mereka yang tidak lain adalah adik bungsu dan papanya sendiri yaitu pak Adam dan putra bungsunya itu Aiden Abimanyu Ardian Liem.