
"Lepaskan tanganku, apa yang kalian lakukan padaku, saya tidak mengenal kalian berdua," kesalnya Dion Irwansyah mantan tunangannya Priska Oktaviani yang dari kampungnya yang terus memberontak meloloskan dirinya dari pegangan dan kawalan beberapa security.
"Diam! kamu tidak perlu kenal kami karena, kami tidak kenal juga kamu tukang rusuh," sarkasnya pihak keamanan.
Tanpa terduga Priska segera memeluk tubuhnya Arsyad tanpa sepatah katapun. Arsyad yang langsung dipeluk Priska keheranan dengan sikapnya Priska, walaupun, ia sangat bahagia melihat sikapnya Priska yang tergugu dalam pelukannya Arsyad. Boy yang barusan datang segera menjalankan perintah dari kode yang diberikan oleh Arsyad. Boy mengamankan Dion mantan tunangannya Priska dari kampung.
"Kami tidak akan melepaskan Anda pak karena sudah mengganggu kenyamanan salah satu pasien di rumah sakit kami ini, bahkan kami bakal menjebloskan Anda ke dalam penjara jika, tidak ingin mendengarkan apa yang kami katakan dengan terpaksa kami tidak akan segan melakukan hal itu," gertaknya security yang barusan didatangkan oleh Boy.
"Apa yang aku lakukan sama sekali tidak melanggar aturan mana pun apalagi melanggar hukum, aku hanya menarik tangannya kekasihku itu, tapi karena dia memberontak sehingga ia terdorong ke belakang," sanggahnya Dion.
"Apapun yang akan Anda katakan sebaiknya Anda sampaikan setelah sampai di kantor polisi saja semua yang ingin Anda katakan,seret cepat pria ini ke dalam mobil!" Perintahnya.
"Siap pak,"
"Sudah jangan menangis lagi, pria itu sudah diamankan di kantor polisi, Please tenanglah sayang kamu akan baik-baik saja kok," bujuknya Arsyad yang terus mengelus punggungnya Priska agar segera tenang.
"Apa benar Dion sudah pergi Pak?" Tanyanya Priska sambil membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya itu.
"Mulai sekarang kamu tidak boleh keluar atau kemanapun perginya harus ada yang jagain kamu, karena tidak menutup kemungkinan jika Dion akan kembali lagi mengulangi perbuatannya padamu dan bisa saja dia akan bertindak lebih bahaya lagi yang takutnya akan mengancam keselamatanmu," ujarnya Arsyad.
Priska menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari Arsyad pria yang katanya mencintainya itu sedangkan dia belum mengerti dengan apa yang dialaminya beberapa hari terakhir ini.
Arsyad melupakan keberadaan pria yang sudah membantunya dan juga menolongnya dari kekerasan sikap kasarnya Dion sang mantan.
"Makasih banyak Tuan Adam atas bantuannya, berkat bantuannya Anda calon istriku dalam keadaan yang baik-baik saja," imbuhnya Arsyad sembari mengayunkan tangannya ke arah depan untuk berjabat tangan.
__ADS_1
Pria yang disapa dengan panggilan Pak Adam Ardian Mohede itu tersenyum tipis seraya meraih tangannya Arsyad.
"Sama-sama Pak Arsyad Shafiyyur Rahmany Daud Yordan, itu tidak masalah lagian saya tidak melakukan apapun Pak, hanya saja saya kebetulan melewati tempat ini, naluri saya sebagai seorang Papa segera bertindak seolah-olah perempuan yang sedang butuh pertolongan adalah anakku sendiri," balesnya panjang lebar Pak Adam.
"Alhamdulillah ternyata pria yang garang dan selalu bengis menghadapi pesaing bisnisnya ternyata sosok pria yang sangat baik hati, bijaksana dan berjiwa besar," pujinya Arsyad yang memeluk tubuhnya Priska dari samping.
"Tuan Arsyad terlalu memuji, bagiku itu sudah seharusnya saya lakukan, bagaimana kalau kapan-kapan ada waktu luang mungkin kita bisa bersantai bersama, gimana menurut Anda Pak Arsyad?"
"Boleh juga, Pak Adam atur waktu dan tempat di mana yang paling bagus,"
"Baiklah Pak Arsyad kebetulan cucu pertamaku telah lahir baru saja, jadi aku permisi dulu Pak Arsyad semoga kita kelak masih dipertemukan kembali dalam kesempatan yang lebih baik lagi,"
"Selamat atas kelahiran cucu pertamanya Pak semoga jadi anak yang sholeh sholeha dan berbakti kepada kedua orang tuanya, agama dan negaranya amin ya rabbal,"
"Makasih banyak atas doanya Pak, semoga kalian berdua juga segera menikah dan punya momongan secepatnya,"
Mereka kemudian berpisah di depan koridor rumah sakit, karena tujuan mereka berbeda. Awalnya mereka berjalan berbarengan sambil berbincang-bincang santai.
"Sayang,kamu baik-baik saja?" Tanyanya Arsyad.
"Alhamdulillah, saya baik-baik saja kok Pak,"
Arsyad menangkupkan kedua tangannya di dagunya Priska," mulai detik ini jangan panggil aku Pak atau Tuan lagi panggil dengan namaku saja itu lebih cocok dan bagus, kita kan sudah tunangan dan tidak lama lagi akan menikah," pintanya Arsyad.
"Baik Abang Arsyad," ujarnya Priska dengan malu-malu ia spontan menundukkan kepalanya saking malunya dengan perkataannya Arsyad barusan.
__ADS_1
Mereka berjalan bergandengan tangan hingga kedalam kamar perawatan Priska dengan senyuman bahagia selalu merekah dikedua bibirnya mereka. Sedangkan Boy dengan Aldiansyah berjalan mengekor di belakang mereka. Kewaspadaan mereka semakin diperketat dengan kejadian yang barusan terjadi.
"Saya tidak boleh lalai dalam bekerja lagi, ini bahaya jika Pria gila itu datang lagi," batinnya Boy.
Pak Adam mengehentikan langkahnya menuju kamar tujuannya ketika berada di ujung koridor rumah sakit.
"Aku yakin kau adalah putraku yang disembunyikan oleh Sania Marwah, aku akan segera mencari tahu semua ini, Sania Marwah maafkan Abang bukannya Abang sengaja untuk meninggalkanmu waktu itu, tapi karena mami yang dilarikan ke rumah sakit waktu itu sehingga aku tidak datang memenuhi janjiku padamu, hingga detik ini aku masih sangat mencintaimu Sania," cicitnya Pak Adam.
"Kenapa wajahnya Pak Adam seperti aku pernah melihatnya, ada perasaan aneh yang aku rasakan ketika melihat ke dalam bola matanya Pak Adam," tatapannya tertuju pada Pak Adam Ardian Mohede yang sudah berjalan menjauh.
"Apa kamu keberatan jika Abang panggil kamu dengan panggilan Pratiwi Andien saja? Dan kamu juga panggil saya dengan panggilan Abang tidak boleh Pak atau Tuan kecuali jika kita dalam lokasi area banyak atau ada relasi bisnis, barulah kamu panggil Abang Pak Arsyad," pintanya Arsyad.
Priska segera naik ke atas ranjangnya dan bersandar di sandaran ranjang. Arsyad segera membantu menyelimuti sebagian kakinya Priska Oktaviani.
"Mulai hari ini, apapun yang ingin kamu lakukan di luar kamu harus meminta ijin kepada Abang atau kepada Boy Wilkins ataupun sama yang lain yang kebetulan yang berjaga di sekitar kamarmu ini," ujarnya Arsyad.
"Abang, kapan aku bisa pulang, baru sehari saja aku disini tapi, sudah sangat bosan lagian kondisiku juga Alhamdulillah sudah membaik," rengeknya Priska.
Arsyad tersenyum melihat sikapnya Pratiwi Andien Utomo yang seperti dulu jika menginginkan sesuatu pasti sikapnya akan seperti sekarang ini.
"Baik Abang akan penuhi apa yang kamu minta dan inginkan tapi, ada syaratnya," tuturnya Arsyad.
"Syarat!" Beonya Tiwi.
"Iya syaratnya mudah dan sangat gampang jadi, tidak perlu tampangnya seperti ini juga kali," Arsyad menoel hidung mancung nan bangirnya Tiwi.
__ADS_1
"Iihh Abang sakit tahu digituin mulu, Abang yah kalau gemes denganku pasti akan noel hidungku," ketusnya Tiwi.