Perjuangan Cinta Arsyad

Perjuangan Cinta Arsyad
Bab. 22


__ADS_3

"Kamu! Kok bisa pagi-pagi begini sudah gangguin yang punya rumah?" Tanyanya Arsyila Ardilla Yordan.


Pria itu mengerutkan keningnya, karena keheranan dengan perempuan cantik yang beberapa hari terakhir ini selalu ia pikirkan ternyata berdiri di depannya.


Pintu berdaun dua itu terbuka lebar dan Arsyil melihat ada punggung lebar seseorang yang membelakanginya.


"Maaf Pak kalau mencet belnya cukup sekali saja tak perlu juga berulang kali!" ketus Arsyila sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya itu.


Orang itu kemudian berbalik badan dan betapa terkejutnya kedua orang tersebut.


"Kamu!" Teriak keduanya.


"Saya yang seharusnya bertanya untuk apa kamu datang ke sini? Apa kamu berkepentingan untuk datang ke sini!?" Ketusnya Vero Arlando.


"Kamu kan yang pagi-pagi datang bertamu ke sini berarti aku yang harus bertanya seperti itu!? Lagian aku heran cara kamu nekan belnya jangan-jangan kamu baru pertama kali lihat bel yah!?" Ketusnya Arsyila.


Vero sedari tadi tersenyum bahagia, karena hari ini rasa lelah dan capeknya terobati setelah melihat wajah cantiknya Arsyila.


"Aku semakin suka melihatnya ketika dia ngomel-ngomel seperti emak-emak saja," bathin Vero.


"Iih ditanyain malah nyengir sedari tadi, pagi-pagi sudah bikin puyeng untungnya ganteng kalau tidak aku sudah pukul pakai sepatu," ujarnya Arsyila.


Vero yang mendengar perkataan dari Arsyila yang memujinya semakin bangga dan percaya diri saja.


"Aku pasti bisa mendapatkanmu gadisku,"


Vero sedikit mendorong tubuhnya Arsyila dari depan pintu. Kemudian ia berjalan melenggang ke arah dalam rumahnya.

__ADS_1


"Hey!! Tunggu ada tidak boleh masuk, kenapa main nyelonong saja apa Anda kira ini rumah yang bebas Anda datangi dengan seenaknya?" Kesalnya Arsyila lagi.


Vero sama sekali tidak menghiraukan teriakannya Arsyila. Ia tetap saja berjalan ke arah lantai atas. Arsyila pun berinisiatif untuk menghentikan pergerakan pria itu. Arsyila tersenyum penuh arti ketika menyadari kakinya memakai sendal rumahan.


Arsyila melepas sendalnya," sepertinya ini bisa menghentikan langkahnya pria tidak tahu diri itu," gumam Arsyla.


Arsyila bersiap sudah dan mengambil ancang-ancang untuk melempar apa yang berada di bawah alas kakinya itu. Hingga suara teriakan dari dua bocah kembar,mampu memupuskan harapannya Arsyila untuk melempari Vero.


"Ayah Vero!!" Teriak Ninda dan Nanda yang sudah bersiap ke sekolahnya dengan seragamnya sudah dipakainya.


Kedua bocah kembar itu terus berlari ke arahnya Vero yang baru beberapa langkah kakinya menginjak undakan tangga.


"Ayah Vero!" Beonya Arsyila yang tidak percaya dengan apa yang didengar sekaligus dilihatnya itu.


Sandal jepit yang sudah ia ayunkan akan ia lempar Itu hanya menggantung di udara, karena tidak jadi ia lempar.


"Ayah kok pulangnya gak kabarin Ninda?"


"Iya betul sekali apa yang dikatakan oleh kakak Ninda, kami kan merindukan Ayah," timpalnya Nanda yang dua-duanya sudah di dalam gendongan papanya.


"Tapi, sekarang Ayah kan sudah kembali jadi kalian harus berangkat ke sekolah sudah jam tujuh lewat soalnya," imbuhnya Vero.


Ninda dan Nanda segera turun dari gendongan ayahnya keduanya juga tak lupa mengecup sekilas pipi ayahnya.


"Assalamualaikum Ayah," ucapnya kedua anak itu lalu berlari ke arah Neneknya yang sudah menanti mereka di depan pintu.


"Waalaikum salam," balasnya Vero Arlando Juno.

__ADS_1


Arsyila yang masih berdiri mematung sejak tadi, masih tidak percaya, karena saat dia jatuh cinta pada pandangan pertama salah orang. Dia menganggap cintanya tidak sepatutnya ia pertahankan dalam hatinya.


"Saya harus berusaha dan belajar untuk melupakan rasa cinta yang ada di dalam hatiku," Lirihnya Arsyila sambil berjalan ke arah meja untuk mengambil tasnya.


"Ibu tunggu, saya juga mau pamit karena aku harus berangkat kerja, kapan-kapan aku akan berkunjung ke sini lagi kalau ada waktu luang," imbuhnya Arsyila seraya cipika cipiki dengan Nyonya Ratna Sari.


Bu Ratna memegang lengannya Arsyila dengan penuh kelembutan, "Makasih banyak sayang kamu sudah bantuin saya untuk menjaga kedua cucuku itu, maaf kami sudah merepotkanmu Nak," pungkasnya Bu Ratnasari.


Arsyila tersenyum," Insya Allah kalau saya tidak permasalahkan Tante, tapi enggak enak juga sering datang ke sini aku gak enak sama mamanya Nanda Tante," kilahnya Arsyila dengan tatapan matanya tertuju pada Vero yang juga menatapnya.


Apa yang dikatakan oleh Arsyila membuat Vero tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan langsung dari mulutnya Arsyila yang tidak menyangka akan mendengar perkataan tersebut.


Vero segera menghentikan tawanya, "Mamanya kedua putriku sudah meninggal dunia," dengusnya Vero lalu memutar tubuhnya untuk segera kembali melanjutkan perjalanannya menuju lantai dua rumahnya.


"Sudah meninggal dunia," lirihnya Arsyila raut wajahnya kebingungan sekaligus keheranan.


Arsyila diam-diam memperhatikan kepergian Vero yang tersenyum diam-diam.


"Kamu tidak akan bisa lepas dari genggamanku cantik, aku pastikan lambat laun kamu akan menjadi bundanya kedua anakku,"


Sedangkan jauh dari tempat tersebut, Arsyad setelah semalam berbincang-bincang dengan Pak Haji Mudi. Arsyad tidak menyangka jika langkahnya dan tujuannya berjalan mulus dan lancar.


Ternyata Pak Haji Muhidin meminta tolong kepada Arsyad Shafiyyur Rahmany untuk membantunya agar, Priska Oktaviani segera terbebas dari rencana pernikahan yang beberapa bulan lagi akan menikahi anak juragan di kampungnya.


Arsyad berjanji kepada Pak Haji Mudin dengan ibu Hajah Maimunah, jika dia akan membantu kesulitan yang dialami oleh Priska Oktaviani.


"Aku berjanji akan membebaskanmu dari jeratan ancaman Juragan itu Pratiwi Andien Utomo karena kamu adalah calon istriku, apa Vero juga sudah balik dari sana?"

__ADS_1


__ADS_2