
Arsyad mempercepat langkah kakinya karena akan berangkat ke kantornya," aku harus segera menghubungi Vero untuk bertanya langsung bagaimana perkembangan pekerjaan yang aku berikan padanya."
Arsyad berjanji kepada Pak Haji Mudin dengan ibu Hajah Maimunah, jika dia akan membantu kesulitan yang dialami oleh Priska Oktaviani.
"Aku berjanji akan membebaskanmu dari jeratan ancaman Juragan itu Pratiwi Andien Utomo karena kamu adalah calon istriku, apa Vero juga sudah balik dari sana?"
Arsyad menekan tombol lift yang akan mengantarnya ke garasi mobilnya itu. Dengan langkah yang pasti dan panjang ia berjalan menapaki setiap lantai keramik. Bu Sania Marwah Daud Yordan tanpa sengaja melihat putra tunggalnya itu berjalan dengan terburu-buru.
"Apa yang terjadi padanya, kenapa baru jam enam sudah berangkat tapi, pakaian yang dipakainya cukup santai?" gumamnya Bu Sania Marwah.
Arsyad tidak sempat berpamitan kepada mamanya karena, terburu-buru untuk pergi. Arsyad tidak ingin terlambat sampai di depan rumahnya Priska karena, pagi ini rencananya dia ingin menjemput Priska.
Arsyad melakukan pendekatan dengan Priska karena menurut petunjuk dari Pak Muhidin harus lebih dekat dan bersedia melakukan apapun untuk Priska.
Arsyad memakai motor matic kesayangannya yang ada di kampungnya. Hal itu sengaja ia suruh bawa ke Jakarta bertujuan, agar kenangan demi kenangan yang tak selama ini dilupakan oleh Pratiwi segera diingat kembali oleh Tiwi.
"Ya Allah… semoga caraku yang bergaya seperti ini membuat Tiwi bisa mengingat memory kenangan kami berdua yang sempat ia lupakan," cicitnya Arsyad.
Arsyad segera mengendarai tunggangannya menuju jalan protokol ibu kota. Sekitar kurang lebih setengah jam perjalanan dari perumahan elit rumahnya menuju kontrakan Priska.
__ADS_1
Mesin motornya sampai di depan pintu rumahnya Priska bersamaan dengan Priska yang baru keluar dari rumahnya. Priska menolehkan kepalanya ke arah belakang, karena telinganya mendengar ada deru mesin motor matic yang tiba-tiba berhenti di depan rumahnya.
"Itukan Pak Arsyad Shafiyyur Armany," Lirihnya Priska yang menautkan kedua alisnya melihat kedatangan Arsyad pria yang menjadi pemilik perusahaan yang ditempatinya mencari nafkah.
Priska segera mengunci pintu rumahnya dengan rapat dan baik. Dia tidak menyangka jika atasannya akan datang ke rumahnya dengan memakai motor biasa seperti seorang driver ojek online saja.
"Pak Arsyad, kok bisa datang ke sini?" Tanyanya Priska yang sekedar berbasa-basi.
Priska menutup pagar rumahnya, lalu segera berjalan ke Arsyad.
"Apa kamu akan berangkat kerja?" Tanyanya Arsyad lagi.
"Kalau boleh, aku ingin mengantar kamu berangkat ke kantor kebetulan aku lewat sini dan lihat kamu yang berpakaian seragam kerja, boncengan aku juga kosong kalau kamu mau silahkan naik," ujarnya Arsyad sambil memukul-mukul jok motornya bagian belakang yang kebetulan kosong.
"Tidak perlu repot-repot kok pak, saya naik kendaraan umum saja," tolaknya Priska dengan sopan.
"Tidak repot kok, aku hanya ingin membantu kamu untuk memudahkan kau cepat sampai ke kantor karena aku lihat tadi di depan jalan perempatan sedang ada perbaikan jalan sehingga beberapa kendaraan umum tidak akan melewati jalan ini," jelasnya Arsyad yang untung mengingat jika hari ini akan ada perbaikan jalan sehingga jika akan menunggu kendaraan umum lewat itu tidak mungkin ada.
"Makasih banyak Pak, saya akan berjalan beberapa meter dari sini di jalan xx ada kok pangkalan ojek," elaknya Priska lagi.
__ADS_1
"Kalau kamu menolak terus kamu akan terlambat, lihatlah jam tanganmu apa kamu punya banyak waktu luang untuk berjalan kaki,"
Sebenarnya Arsyad bisa saja memaksakan kehendaknya dan mengatas namakan statusnya di perusahaan. Pasti Priska akan menuruti semua perkataannya,tapi Ia tidak mau melakukan hal itu agar Priska lebih santai, terbuka dan sabar menghadapi Priska sehingga hubungan mereka akan lebih dekat. Sehingga kesempatan untuk dekat lebih akrab akan terbuka lebar.
Priska cukup terkejut melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya sendiri," ya Allah… ternyata sudah jam hampir jam delapan," cicit Priska dengan kagetnya.
Mau tidak mau ia pun mengalah dan menerima tawaran pertolongan dari Arsyad pemimpin tertinggi di perusahaan kedua orang tuanya.
Priska dengan perlahan menaiki motor matic injeksi milik Arsyad. Sang pemilik motor tersenyum bahagia karena berhasil melakukan apa yang diinginkannya.
"Syukur Alhamdulillah, wanitaku ini cukup patuh dan tunduk juga walupun harus dibohongi sedikit," Arsyad tersenyum penuh maksud.
Arsyad menyodorkan helm yang berwarna pink itu ke tangannya Priska. Helm itu juga adalah helm kesayangannya ketika berada di kampung.
"Kenapa helm ini aku seolah seperti pernah melihatnya," batinnya Priska sambil memperhatikan dengan seksama helm tersebut dengan baik.
"Cepat pakai, saya kasih kamu helm untuk kamu pakai bukan untuk di pelototin saja,"
Priska spontan memakai helm itu dikepalainya yang tertutup hijab senada dengan pakaian kerja yang dipakainya itu. Priska duduk di belakangnya Arsyad dan sedikit menjaga jarak agar tubuh mereka tidak bersentuhan langsung.
__ADS_1
"Pegangan apa kamu engga takut jatuh karena aku akan sedikit mengencangkan laju motorku supaya kita tidak terlambat," pintanya Arsyad yang langsung menuruti perkataan Arsyad tanpa ragu lagi.