
Lamaran dadakan yang terjadi di dalam keluarga besar Daud Yordan hari itu berlangsung cukup meriah. Walaupun hanya ada anggota inti keluarga saja.
"Kalau papa sudah lama meninggal dunia Bu, yang tinggal hanya mamaku saja," imbuhnya Vero setelah menyematkan cincin yang begitu indah dijari manisnya Arsyila.
"Tidak masalah Nak yang paling penting saya bertemu dengan orang tuamu itu sudah cukup,andai putraku Arsyad Shafiyyur Rahmany juga sudah melamar kekasihnya Pratiwi Andien Utomo langsung di depan kedua orangtuanya di kampung pasti kebahagiaan ku akan semakin berlipat ganda," tuturnya Bu Sania.
Suasana semakin ramai karena, adanya dua orang bocil bocah cilik kembar anaknya Vero Arlando Juno Ali yang semakin membuat suasana sore itu menjadi penuh canda tawa dan sukacita.
Priska Oktaviani pun bergabung dengan kehangatan dan kebahagiaan keluarga besar itu. Dia merasa tidak seperti tamu di sana, tapi seperti anak kandung dari pemilik kediaman yang cukup besar dan megah itu.
"Seperti ini rasanya disayangi oleh orang-orang dengan tulus, aku beruntung bisa mengenal Pak Arsyad yang katanya dia adalah tunangangku, tapi kenapa aku kesulitan untuk mengingatnya," batinnya Priska atau nama aslinya Pratiwi Andien Utomo.
Kebahagiaan disore dirasakan oleh semua orang yang berada di dalam ruangan itu. Bu Sania Marwah sangat bahagia karena, akhirnya putrinya menemukan pria yang benar-benar mencintainya dan Arsyila Ardila pun mencintai pria itu.
"Cukup aku yang mengalami kisah cinta yang kelam dan suram yang harus menikah dan hidup dengan pria pilihan kedua orang tuaku, hal itu aku tidak ingin terjadi pada anak-anaku biarkan mereka sendiri yang memilih dengan siapa dia melabuhkan hatinya dan pilihannya jatuh pada siapa saja yang akan dia nikahi, aku memberikan kebebasan penuh pada anakku karena, yang paling penting dan utama adalah kebahagiaan mereka itu sudah cukup," bathinnya Bu Sania yang menitikkan air mata bahagiaannya melihat putrinya tersenyum sumringah.
"Jadi kemungkinannya besok malam mama dan keluargaku baru bisa hadir memenuhi panggilan Ibu Sania," ujarnya Bu Sania.
__ADS_1
By Sania tersenyum tipis," mulai detik ini kamu dan Tiwi harus memanggil aku dengan sebutan Mama karena, kalian tidak akan lama lagi menjadi anggota keluargaku anak-anakku juga," jelasnya Bu Sania.
"Nyonya Sania sangat mirip dengan almarhumah neneknya mendiang Bu Tahira, kebijaksanaan, kebaikan, keramahan serta tidak pernah membeda-bedakan status seseorang, baginya mereka semua orang itu sama kedudukannya yang membedakan hanyalah amal kebaikan mereka," batinnya Pak Budi Jaya bapak angkatnya Arsyad Shafiyyur Rahmany.
"Semoga rencana pernikahan Non Arsyila berjalan lancar dan kelak menjadi keluarga yang harmonis bahagia sakinah mawadah warahmah selalu," ujarnya Bu Hanifah istrinya Pak Budijaya.
"Amin ya rabbal alamin," ucapnya semua orang.
Sedangkan di tempat lain, Arsyad mengadakan pertemuan dengan tuan Adam Ardian Liem. Pria yang sebelumnya bertemu dengan mamanya Sarah Helen Daud Yordan.
"Selamat datang Pak Arsyad," sapanya Pak Adam.
"Kamu memang putraku dari wajahmu saja sangat mirip denganku diwaktuku muda," batinnya Pak Adam.
Mereka pun berbincang-bincang santai sambil membahas tentang rencana proposal kerjasama mereka.
"Semoga kerjasama kita ini saling menguntungkan dan bukan hanya beberapa tahun saja saya menginginkan hubungan kerja sama kita ini berlangsung lama hingga sepuluh tahun kedepan," harapnya Pak Adam.
__ADS_1
"Amin… insha Allah… Pak kami tidak akan mengecewakan Bapak dengan kerjasama ini,"
"Siap Pak Arsyad,"
Mereka menyantap makanan siang yang baru saja tersaji di depan mereka semua.
Bu Sania berpamitan kepada anak-anaknya dan orang-orang karena, ingin ke dalam kamarnya untuk menenangkan diri. Perasaan dan pikirannya masih kacau tapi, ia mampu untuk menutupi kenyataan yang terjadi pada dirinya sendiri.
"Sayang Mama pamit duluan yah, soalnya Mama sepertinya kurang enak badan," pamitnya Bu Sania.
"Iya Ma, enggak apa-apa kok, bibi Hanifah sama Mbak Tiwi saja yang temanin Arsyila," imbuhnya Arsyila yang tersenyum tipis menanggapi perkataan dari mulutnya mamanya itu.
Beberapa orang itu kembali bercengkrama di siang menjelang sore itu sembari menyantap beberapa kudapan buatan Bu Haifa.
"Bu kue buatannya ibu sangat enak, seperti sebelumnya saya sudah makan sebelumnya,tapi lupa cicipin kuenya itu dimana," Tuturnya Tiwi yang berusaha mengingat beberapa kejadian yang telah lalu.
"Sukur alhamdulillah kalau kamu suka, karena ini kue buatan Ibu yang dulu sering kamu minta dibuatkan kalau datang berkunjung ke rumah," ungkap Bu Hanifah sebagai Ibu angkatnya Arsyad yang merasa bahagia dengan Tiwi yang perlahan mengingat beberapa penggalan masa lalunya.
__ADS_1
"Bibi ngomong-ngomong apa boleh Arsyila minta diajarin buat kuenya karena aku lihat calon suamiku sangat menyukai kue buatan ibu," pintanya Arsyila yang tersenyum melihat Vero yang mencicipi kue itu sudah menghabiskan beberapa potong kue.
Semua pandangan terarah dan tertuju pada Vero yang menikmati kuenya dengan penuh penghayatan dan serius itu. Vero Arlamdo Juno jadi malu karena, perhatian semua orang termasuk beberapa asisten rumah tangganya mengarahkan penglihatannya ke pria yang lumayan ganteng dengan kulitnya yang putih mulus seperti anak perempuan,hidung mancung dan matanya yang sipit seperti orang keturunan Korea Selatan saja.