
Tak… tak… takk…
Suara hentakan sepatu bersentuhan langsung dengan lantai keramik di malam itu menjadi suara khusus mewarnai lorong rumah sakit yang mereka lalui. Dari raut wajahnya keduanya terlihat dan terpancar kekhwatiran dan kecemasan yang berlebih-lebihan.
"Ahh, aku terlalu gegabah dan bego sampai-sampai Tiwi harus menderita," kesalnya Arsyad.
Vero segera membantu untuk menenangkan diri Arsyad," Ars, kau tidak seperti ini, ini semua sudah kehendak Allah SWT, kita manusia hanya bisa berusaha dan berencana sebaik mungkin,lagian penyakitnya Tiwi ini penyakit yang tiba-tiba sama sekali bukan karena kesalahanmu jadi, saya mohon stop untuk selalu menyalahkan dirimu sendiri, insya Allah… Tiwi akan segera sembuh dari penyakitnya ini dan bisa melewati masa kritisnya," bujuknya Vero yang berusaha untuk memberikan pengertian kepada sahabatnya itu.
"Ya Allah… semoga saja Tiwi calon istrinya putraku baik-baik saja," gumamnya Bu Sania Marwah.
Bu Sania semakin mempercepat langkahnya ketika sudut ekor matanya melihat putranya yang sedang duduk berdampingan dengan salah satu temannya sekaligus pria yang disukai oleh Arsyila putri tunggalnya itu.
"Arsyad putranya Mama apa yang terjadi padamu Nak?" Tanyanya Bu Sania Marwah Daud Yordan yang sudah memeluk tubuh anaknya itu.
Arsyad membalas pelukan hangat dari mamanya itu perempuan yang selalu care dan selalu baik dan memberikan perhatian yang tulus untuk anaknya itu. Bu Sania mengelus punggung putranya itu yang sudah menangis tersedu-sedu.
"Sabarlah, ingat Allah SWT selalu bersama orang-orang yang selalu sabar,kamu adalah anak yang baik dan penurut Mama yakin Allah hanya ingin menguji tingkat kesabaranmu jika kamu kuat dan sabar insya Allah… semuanya akan baik-baik saja oke," bujuknya Bu Sania yang memberikan nasehat kepada anak sulungnya itu.
__ADS_1
"Makasih banyak Ma, Mama selalu mengerti dan selalu saja ada disaat aku seperti ini," timpalnya Bu Sania.
Vero yang melihat Arsyila Ardila yang sejak kedatangannya di tempat itu masih berdiri dengan setia, karena sudah tidak ada kursi besi yang kosong.
"Silahkan duduk, biarkan aku saja yang berdiri lagian bokongku juga sudah hampir rata saking lamanya duduk," candanya Vero yang menawarkan kursi untuk gadis yang ia sukai itu.
Bu Sania diam-diam melirik interaksi ke arah keduanya itu. Ia tersenyum bahagia melihat anaknya bahagia.
"Semoga Mama cepat dapat kabar baik dari kalian berdua," batinnya Bu Sania.
Arsyad merasa lebih tenang setelah kedatangan mamanya itu. Berselang beberapa menit kemudian, Pratiwi Andien sudah dipindahkan ke ruangan perawatan VVIP sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Bu Sania.
Arsyad segera berdiri untuk mendatangi beberapa dokter yang keluar dari ruang ICU yang sudah membantu mengobati dan merawat Priska Oktaviani.
"Dokter,apa yang terjadi sebenarnya dengan calon Istriku Tiwi?" Tanyanya Arsyad yang tidak sabaran menunggu hasil pemeriksaan medis dari Pratiwi.
Dokter tersenyum tipis," kondisi dari Nona Tiwi sudah stabil, Anda tidak perlu merisaukan keadaannya lagi," jawabnya dokter yang bername tag Juan Martin.
__ADS_1
"Tapi, kalau boleh tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan Tiwi kenapa bisa ia mengalami kesakitan yang sangat padahal ia dalam keadaan yang baik-baik saja tidak terjadi apapun sebelumnya," tanyanya Arsyad yang kebingungan dengan hal itu.
"Itu disebabkan karena kerja otaknya dipaksa untuk mengingat kejadian beberapa tahun silam yang telah ia lupakan, Nona Tiwi ini mengalami amnesia sehingga jika, ada kilatan lintasan memory ingatannya yang tiba-tiba muncul akan menyebabkan kejadian seperti ini lagi, tapi Tuan Muda tidak perlu khawatir karena kami segera menanganinya dengan cepat sehingga akibat yang ditimbulkan oleh kejadian ini bisa segera ditangani dengan baik, yang paling penting kedepannya untuk jangan memaksakan untuk mengingatnya kecuali dia sendiri yang mulai mengingat hal itu, insya Allah… dengan terapi dari tim dokter kami insha Allah akan segera sembuh total dan kepingan-kepingan masa lalunya akan mulai ia ingat dengan sendirinya," terangnya Dokter Juan dengan panjang lebar.
"Makasih banyak Dokter atas bantuannya," timpalnya Arsyad.
"Sama-sama Tuan Muda Arsyad, ini sudah menjadi tanggung jawab dan tugas kami, permisi kalau begitu Tuan Muda karena masih banyak pasien yang membutuhkan penanganan dari kami."
Arsyad hanya tersenyum tipis dan sedikit bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan dari dokter tersebut.
"Abang harus kuat jika Abang lemah siapa yang akan jaga dan lindungi Mbak Tiwi," pungkas Arsyila.
"Ayo kita ke ruangan perawatan Tiwi kasihan Nyonya besar kalau harus seorang diri saja menjaga Mbak Tiwi, kau harus selalu berada di sisinya agar disaat dia sadar wajahmu yang dilihat pertama kalinya," imbuhnya Vero.
Arsyad menatap ke arah Vero," benar sekali apa yang kamu katakan aku harus secepatnya ke sana supaya apa yang barusan kamu katakan tidak terlewatkan," ucapnya Arsyad.
Mereka bertiga meninggalkan ruangan ICU menuju kamar perawatan Tiwi. Sedangkan di tempat itu, Tiwi masih terbaring lemah dan tidak sadarkan diri karena pengaruh obat penenang yang diberikan oleh dokter.
__ADS_1
"Kamu memang gadis yang cantik pantas saja putraku tergila-gila padamu, Mama berharap kalian segera bersatu dan menikah hingga memberikan cucu untuk mama," cicitnya Bu Sania yang menyeka keringatnya Tiwi dengan tissue basah.