Perjuangan Cinta Arsyad

Perjuangan Cinta Arsyad
Bab. 40


__ADS_3

"Apa ibu sama bapak mengenaliku?" Tanyanya Pratiwi Andien Utomo seraya menunjuk ke arah dirinya sendiri.


"Selamat pagi dan selamat datang di kediaman Daud Nona Pratiwi Andien Utomo," sapanya dari beberapa asisten rumah tangganya yang kebetulan berbaris menyambut kedatangannya sesuai perintah dari Nyonya Besar Sarah atau Sania Marwah.


Dua pasang suami istri yang sudah lanjut usia sangat bahagia setelah melihat dengan kedua pasang mata kepala mereka, perempuan yang disayangi keponakan sekaligus anak angkatnya itu masih hidup dan selamat dari kecelakaan maut tenggelamnya kapal yang dia pakai ketika liburan dengan beberapa teman kuliahnya sekitar kurang lebih enam tahun silam.


"Iya, kami berdua sangat mengenalmu nak, kamu adalah Tiwi anaknya juragan Utomo yang terkaya di kampung, sekaligus calon istri dari anak angkat kami Arsyad Shafiyyur Rahmany Daud Yordan," jawab Pak BudiJaya.


Bu Hanifah sudah memeluk tubuhnya Priska Oktaviani itu dengan penuh kasih sayang.


"Alhamdulillah kalau ada yang mengenali saya di sini, berarti saya tidak akan kesepian di rumah besar dan mewah ini karena ada ibu sama Bapak," timpalnya Priska.


"Tante Hanifah,kok mama enggak kelihatan, Mama kemana?" Tanyanya Arsyil yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu.


"Nyonya Besar Sania Marwah barusan pergi dari sini Non katanya ada meeting penting yang harus ia datangi," ungkap Bu Hanifa.

__ADS_1


"Ohh gitu, Mbak Yani tolong antarkan Nona Pratiwi ke dalam kamarnya, dia baru saja keluar dari rumah sakit kasihan butuh istirahat yang cukup, kalau dua anak kembar ini, seperti biasa gendong mereka ke dalam kamarnya, tapi Mbak Yuni apa semua barang-barangnya Mbak Tiwi sudah siap semuanya sesuai dengan petunjuk dari Abang Arsyad?"


"Semuanya sudah beres Non, kami sudah membersihkan, mengatur semuanya sesuai dengan keinginannya Aden Arsyad insha Allah… Calon istrinya Tuan Muda pasti tidak akan kecewa dengan kinerja kami," imbuhnya Mbak Yuni.


Arsyila tersenyum," Alhamdulillah kalau seperti itu, makasih banyak atas kerjasamanya, insya Allah kalian yang membersihkan dan mengatur kamarnya Nona Tiwi akan dapat bonus akhir bulan ini,"


"Syukur Alhamdulillah, makasih banyak Non," jawab mereka semua dengan raut wajahnya yang bersuka cita saking bahagianya mendengar hal itu.


Arsyila segera menarik tangannya Tiwi," bi Hanifa saya antar Mbak Tiwi ke dalam kamarnya dulu, bincang-bincangnya nanti dilanjut lagi yah,"


Tiwi tersenyum ke arah beberapa orang yang masih setia berdiri di tempat masing-masing.


"Nona Pratiwi calon istrinya Tuan Arsyad sangat cantik yah," pujinya Mbak Yun.


"Iya benar apa yang kamu katakan, selain cantik dia juga baik hati dan ramah pakai hijab lagi," timpal Mbak Yuyun.

__ADS_1


"Seperti paket komplit lah,iya gak?!" Celetuk Mbak Yani.


Mereka segera bubar dan kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing sesuai dengan tugas mereka seperti biasanya. Kedua pasangan suami istri keduanya orang tua angkatnya Arsyad yang sangat berjasa dalam hidupnya Arsyad yang sejak mamanya hamil hingga saat ini masih menjadi orang tua angkat.


"Mas, entah apa yang akan dilakukan dan dikatakan oleh Tuan Utomo dan kedua anaknya, jika Pratiwi putrinya masih hidup dan hilang ingatan," tuturnya Bu Hanifah.


"Kalau menurut Bapak, pastinya mereka akan bahagia, heboh dan akan semakin gempar jika mereka mengetahui Arsyad adalah pewaris tahta kerajaan bisnis Tuan Besar Daud Yordan dan juga Papanya Arsyad masih hidup loh Bu, kalau enggak salah tadi bapak lihat ada beberapa majalah bisnis yang tanpa sengaja bapak baca dan bapak yakin itu adalah Pak Adam, karena bapak sewaktu Nyonya Besar Sania masih muda Bapak pernah dan sering mereka bertemu di belakang beberapa tahun silam," ungkapnya Pak Budi.


By Hanifah duduk di salah satu kursi yang kebetulan ada di dalam kamarnya seraya menuangkan kopi untuk suaminya itu.


"Kalau seperti ini, berarti Arsyad bukan anak yatim dong, kalau pengusaha berarti apa lagi yang akan pak Utomo tolak Arsyad sebagai anak menantunya karena secara kekayaan dan kekuatan dari Arsyad sangat jauh dibanding dengan kekuatan mereka yang tidak ada apa-apanya itu,"


Pak Budi meraih cangkir kopi yang disodorkan oleh istrinya itu seraya menyeruput dengan perlahan-lahan kopinya yang masih mengepulkan asap.


"Orang tidak tahu diri sekali jika, mereka tidak dapat restu," sarkasnya Pak Budi.

__ADS_1


__ADS_2