Perjuangan Cinta Arsyad

Perjuangan Cinta Arsyad
Bab. 52


__ADS_3

"Veri tolong percepat laju mobilnya, saya tidak ingin terjadi sesuatu pada Arsyila!" Perintahnya Afrizal Rayanza Dirgantara kepada asisten pribadinya itu.


"Veri cepat bawa mobil ke sini!" Perintahnya yang menggeser beberapa orang yang menghalangi jalannya tanpa ragu dan aba-aba segera mengangkat tubuhnya Arsyila yang beberapa bagian pakaiannya sudah terkena noda darah segar.


Pria yang disapa Veri itu segera berlari kearah mobilnya yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat kejadian kecelakaan maut itu.


Arsyila sudah dibaringkan di atas pangkuannya Afrizal dan Veri yang menyetir mobilnya. Arsyila dilarikan segera ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan intensif dari tenaga medis.


"Baik Tuan Muda," balasnya Veri.


"Kamu tidak boleh pergi, aku akan melakukan apapun agar kamu selamat," lirihnya Afrizal seraya memangku kepalanya Arsyila.


Veri diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh bosnya itu," baru kali ini saya melihat tuan Muda berdekatan dengan seorang perempuan dan sangat perhatian pada perempuan itu, biasanya tuan muda akan jijik dan risih bersentuhan langsung dengan perempuan manapun kecuali adiknya dan Maminya," batinnya Veri.


"Ya Allah… jaga dan lindungilah Arsyil semoga ia dalam keadaan yang baik-baik saja," gumamnya Afrizal yang sangat khawatir dan ketakutan melihat semakin banyak darah yang menetes membasahi celana treningnya itu.


Gadis yang baru dua kali bertemu dengannya tapi, sudah mampu mengusik ketenangan hati dan pikirannya itu dalam keadaan tak sadarkan diri karena tabrakan maut yang barusan terjadi.


"Cepatlah sedikit, kenapa laju mobilmu seperti keong saja!" Ketusnya Afrizal yang menganggap laju kecepatan mobil yang dikendarai oleh Veri sangat lamban padahal sudah seperti pembalap jalanan saja.


Hingga berselang beberapa menit kemudian, tiada suara apapun yang dikeluarkan oleh Afrizal ia tanpa ragu menggendong tubuhnya Arsyila ke arah dalam ugd, ruangan unit gawat darurat.


Dokter yang melihat kedatangan pemilik rumah sakit itu segera bertindak tanpa diperintah sebelumnya. Beberapa tim dokter dan perawat segera memeriksa kondisi Arsyila.


"Dokter berikan yang terbaik untuk calon istriku, jika terjadi sesuatu padanya pekerjaan kalian yang ada di rumah sakitku ini menjadi taruhannya!" Tegasnya Afrizal.

__ADS_1


Semua dokter dan perawat serta suster bekerja dengan sungguh-sungguh. Mereka sibuk ke sana kemari melakukan pertolongan pertama pada Arsyila.


"Sus! Cepat persiapkan ruang operasi karena pasien harus segera dioperasi," perintah dokter Ayub dokter kepala yang kebetulan datang di hari itu.


Semua bergegas dan bergerak cepat untuk melaksanakan perintah dari dokter Ayyub Sofian. Suster kembali berlari ke arah Dokter Ayyub untuk mengabarkan jika, stok darah dengan golongan darah ab resus baru sekitar lima belas menit yang lalu kehabisan stoknya.


"Maaf Dokter golongan darah pasien stoknya kosong baru saja terpakai oleh pasien lain," ujarnya Perawat itu yang sedikit gemetaran ketakutan.


Afrizal maju ke arah suster itu, sedangkan sang suster terdiam dan menundukkan kepalanya saking takutnya," emangnya golongan darahnya apa?"


"Golongan darah ab resus Tuan Muda," jawab Suster itu.


"Ambil saja darahku sebanyak apapun yang kalian butuhkan," pintanya Afrizal.


"Kalau gitu ikuti saya Tuan Muda," imbuhnya suster Dian Marshanda.


"Baik Tuan Muda perintah Anda akan segera saya laksanakan," pungkasnya Veri Ahmed Ali.


Arsyad yang sedang melakukan meeting dengan pemimpin perusahaan dari Korea Selatan, harus menghentikan kegiatannya karena hpnya yang tiba-tiba berdering. Arsyadi sudah mengsilent telpon genggamnya itu tapi, si penelpon tidak berhenti sampai Arsyad mengangkat hpnya itu.


Dia ragu untuk mengangkatnya karena ia paling tidak suka jika sedang bekerja dalam hal bertemu dengan klien bisnisnya terus ada yang mengganggu aktivitasnya itu tapi, karena penasaran hingga konsentrasi terganggu.


"Pak Arsyad angkat saja dulu telponnya, jangan sampai itu telpon yang penting," usulan dari Pak Park Kim Hyun.


Arsyad biasanya menyimpan hpnya di dalam laci mejanya atau menitipkan hpnya pada asisten pribadinya Pratiwi Andien Utomo.

__ADS_1


Arsyad sedikit tidak enak hati dengan rekan bisnisnya itu yang sudah bertahun-tahun bekerja sama dengan perusahaan Papa sambungnya DY cooperation.


"Kalau gitu saya angkat telponnya dulu Tuan Kim," ucapnya Arsyad yang hati dan pikirannya tidak tenang dengan nomor baru yang menelponnya.


Tiwi memperhatikan gerak geriknya Arsyad yang menurutnya aneh tidak seperti biasanya itu. Arsyad berjalan agak menjauh dari beberapa orang tersebut yang kebetulan ikut bersamanya untuk melakukan pertemuan penting tersebut.


"Assalamualaikum," sapanya Arsyad.


"Waalaikum salam, apa benar Anda Tuan Muda Arsyad?" Tanyanya Veri yang bersyukur karena akhirnya beberapa kali percobaan telponnya pun tersambung.


"Benar sekali, maaf Anda asistennya Tuan Afrizal Rayanza Dirgantara?" Tebaknya Arsyad.


"Maafkan saya Pak sudah menganggu pekerjaannya,saya hanya menyampaikan amanah dari Tuan Muda kami jika adik Anda yang bernama Arsyila Ardila mengalami kecelakaan dan sekarang berada di dalam ruangan operasi, mohon segera datang Tuan Muda," ungkap Veri Ahmed Ali.


Arsyad terkejut mendengar berita tersebut, tubuhnya terhuyung ke belakang beberapa langkah hingga hp yang sedari tadi dalam genggaman tangannya terjatuh.


Prang…!!


Apa yang terjadi pada Arsyad membuat semua orang terkejut dan saling bertatapan satu sama lainnya.


"Tidak!!" Teriaknya Arsyad.


Tiwi yang melihat kondisi dari calon suaminya sekaligus atasannya segera berjalan ke arah Arsyad.


"Abang apa yang terjadi?" tanyanya Tiwi.

__ADS_1


"Arsyila kecelakaan," ucapnya sendu Arsyad.


__ADS_2