Perjuangan Cinta Arsyad

Perjuangan Cinta Arsyad
Bab. 27


__ADS_3

Arsyad tak bosan-bosannya menatap wajahnya Priska,"Coba kamu baca buku-buku ini agar kamu bisa paham tentang tugas dan kewajiban serta wewenang kamu sebagai asisten pribadiku, setelah jam pulang nanti kita akan ke mall," ujarnya Arsyad.


"Silahkan kamu kembali bekerja, Ingat mulai besok tolong kamu ajari Priska masalah pekerjaan apa saja yang harus ia kerjakan sebagai asistenku,"


"Siap pak," timpalnya Nely lalu segera berjalan meninggalkan ruangan pribadi milik CEO perusahaan besar tersebut.


"Ke Mall, mo ngapain kita mall Pak?"


"Kamu tidak perlu banyak tanya yang perlu kamu ketahui kamu akan menjadi asisten pribadiku jadi kamu cukup nurut saja, tidak perlu banyak protes ataupun bertanya."


Priska segera mengambil beberapa buku tersebut, kemudian ia membacanya. Arsyad selalu mencuri pandang ke arah Priska. Ia tidak ingin ada yang tahu dan juga ketahuan dengan sikapnya Arsyad.


"Jika ada yang kamu tidak mengerti dan pahami kamu silahkan bertanya kepadaku," ujarnya Arsyad tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari arah tabnya karena baru saja ada email yang masuk yang dikirim oleh sahabatnya sang detektif duren siapa lagi kalau bukan Vero Arlando Juno.


Arsyad dengan seksama memperhatikan dan membaca email itu.


"Alhamdulillah mamanya sudah dioperasi dan kondisi kesehatannya berangsur-angsur pulih dan membaik," batinnya Arsyad.


Jauh dari hiruk pikuk dunia perkantoran, seseorang perempuan yang sedang kesal karena, mobil kesayangannya tiba-tiba mati. Hal tersebut dikarenakan bensinnya kosong.


"Ini nih kalau make mobil saja tahunya, kalau seperti ini jadi masalah yang cukup rumit, dimanak disekitar sini juga enggak ada SPBU sama penjual bensin botolan," kesalnya Arsyila yang menendang ban mobilnya saking jengkelnya menghadapi situasi yang seperti sekarang ini.


"Auhh! Sakit!" Keluhnya Arsyila Ardilla Yordan.


Arsyila sudah mondar mandir ke sana kemari mencari pertolongan. Arsyila mengayunkan tangannya untuk memberhentikan beberapa motor yang kebetulan lewat di sekitar jalan yang dilaluinya.


Tetapi, satupun pengendara mobil atau pun motor tidak ada yang sudi singgah untuk membantunya. Dia juga kesal dan jengkel karena, baru ingin meminta bantuan pada anak buah abangnya, tapi hpnya lowbet total.


Arsyil menengadahkan kepalanya ke arah atas, "Ya Allah… lengkap sudah cobaan yang Engkau berikan pada hambaMu ini," Lirihnya sembari mengangkat ke dua tangannya ke atas setinggi dadanya itu.


"Ya Allah… apa mereka mengira aku tidak akan membalas budi baik mereka!?" Dengusnya Arsyila yang berjalan sembari menghentakkan kakinya ke atas aspal yang cukup panas siang hari itu yang terkena dengan paparan sinar matahari langsung yang cukup menyengat.

__ADS_1


Hingga sebuah motor matic injeksi berwarna putih menghentikan laju kendaraannya. Arsyila tersenyum penuh kebahagiaan karena setelah beberapa jam lamanya menunggu akhirnya ada seseorang yang akan membantunya terlepas dari kesusahan dan kesulitan.


Pengendara motor itu sudah pasti seorang pria sesuai dengan dari cara berpakaian dan postur tubuhnya yang menggambarkan dengan secara jelas.


Arsyila segera berjalan ke pria itu," Pak apa saya bisa minta tolong?" Tanyanya Arsyila dengan penuh harap dengan memperlihatkan wajah sedihnya dan tidak berdayanya itu.


Pria itu segera membuka helmnya, hingga terlihatlah keseluruhan wajahnya pria itu. Arsyila terkejut sekaligus bahagia melihat siapa pemilik wajah dibalik helm itu.


"Mas Vero!" Pekiknya Arsyla sambil menepuk pelan lengannya Vero ayahnya si kembar Nanda dan Ninda.


"Kamu kok berdiri berpanas-panasan di pinggiran jalan seperti sekarang ini?" Vero masih duduk di atas jok motornya.


"Bensin mobilku habis Mas,mo nelpon Abang Arsyad juga enggak mungkin bisa daya baterai hpku habis total," terangnya Arsyila.


"Tunggu aku telpon seseorang untuk menyelesaikan masalahmu ini," Vero segera menghubungi nomor hp salah satu temannya dan menyuruhnya untuk membelikan beberapa bensin botolan saja.


Setelah menghubungi temannya, Vero menarik tangannya Arsyila gadis yang ia cintai itu pada pandangan pertamanya.


Mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan, mereka sama-sama saling tidak menyadari dengan apa yang dilakukan oleh keduanya. Jarak dari tempat mereka berdiri kira-kira sekitar 200an meter.


"Kamu duduk saja dulu disini, Mas akan ke sana sebentar saja," ujar Vero yang tanpa menunggu balasan dari wanita yang disayanginya itu menjawabnya.


Vero berjalan tergesa-gesa ke salah satu penjual minuman dingin yang kebetulan nangkring di sekitar tempat tersebut.


"Mas es krimnya dua yah," pintanya Vero.


"Yang biasa atau yang super jumbo Tuan?"


"Yang jumbo satu saja," balasnya Vero.


"Rasa apa?"

__ADS_1


"Rasaku padanya saja Mas," ujarnya Vero karena pandangannya terus tertuju pada seorang perempuan yang duduk dengan santai sambil mengipasi wajahnya.


Tukang es itu terdiam dengan mengerutkan keningnya karena tidak mengerti," maksudnya Pak?"


Vero tertawa cengengesan, "Ehh maksud saya rasanya dimix saja cokelat dan stroberi serta vanilla juga," tuturnya Vero.


Berselang beberapa menit kemudian, pesanan ice krim yang diinginkan oleh Vero sudah berada di dalam genggaman tangannya.


"Makasih banyak Mas, ini bayarannya, kembaliannya untuk anak mas saja,"


Vero segera berjalan meninggalkan pedagang kaki lima itu.


"Syukur Alhamdulillah, dapat uang lebih yang cukup banyak untuk hari ini," cicitnya pedagang es krim itu yang sangat bahagia dengan rezeki yang baru ia peroleh.


Vero segera mengarahkan satu cup es krim rasa yang dicampur. Betapa bahagianya dan senang Arsyila karena mendapatkan minuman yang bisa menghilangkan rasa gerah, dahaga dan hausnya.


"Makasih banyak Mas Vero,"


Arsyila tanpa menunggu lama segera menikmati kenikmatan es krim itu dengan suasana hati yang sangat bahagia. Vero mengambil tissue dari atas kursi jati panjang itu lalu membantu menyeka lelehan sisa es krim di wajahnya Arsyila yang makan seperti anak kecil saja.


"Pelan-pelan makannya lihat wajahmu belepotan seperti ini, kamu kayak Nanda dan Ninda ku kedua putri kembarku saja kalau ngemil eskrim kesukaannya," kelakarnya Vero dengan tersenyum simpul.


"Iya baru ingat kedua princesnya Mas Vero, apa mereka sudah balik dari sekolahnya?"


"Belum, rencananya aku mau jemput mereka sih, tapi ternyata ketemu bidadari surgaku yang butuh bantuan sehingga rencana itu meski aku serahkan pada supir pribadiku saja," canda Vero.


"Bidadari surgaku!" beonya Aysila yang segera menghabiskan sisa es krimnya yang tersisa sedikit itu.


"Maksudnya Mas kamu sangat cantik jika tersenyum seperti tadi," kilahnya Vero yang memuji kecantikan alami yang dimiliki oleh adik kandung sahabat terbaiknya itu yang sering memakai jasa detektifnya.


Arsyila menatap intens ke arah Vero terutama ke dalam kedua bola matanya Vero m ia ingin mencari kebohongan dari dalam sinar cahaya kilatan kornea matanya Vero. Mereka kemudian menjadi saling bertatapan hingga suara intrupsi seseorang mampu memutuskan pandangan keduanya yang saling mengagumi satu sama lainnya dalam diamnya.

__ADS_1


Vero tersenyum kikuk melihat beberapa anak buahnya memperhatikan mereka dengan seksama.


__ADS_2