
"Kalau seperti ini, berarti Arsyad bukan anak yatim dong, kalau pengusaha berarti apa lagi yang akan pak Utomo tolak Arsyad sebagai anak menantunya karena secara kekayaan dan kekuatan dari Arsyad sangat jauh dibanding dengan kekuatan mereka yang tidak ada apa-apanya itu,"
Pak Budi meraih cangkir kopi yang disodorkan oleh istrinya itu seraya menyeruput dengan perlahan-lahan kopinya yang masih mengepulkan asap.
"Orang tidak tahu diri sekali jika, mereka tidak dapat restu," sarkasnya Pak Budi.
"Maaf Nyonya kita ke perusahaan atau ke kafe duluan?" Tanyanya supir pribadinya Pak Nanang.
"Pak kita ke kafe saja dari kafe baru kita ke perusahaan," jawabnya Bu Sania Marwah yang lebih dikenal di kalangan pebisnis Bu Sarah Helen Daud Yordan.
"Baik Bu," balasnya Pak Mamang sang supir pribadi yang sudah hampir sepuluh tahun bekerja dengannya sebagai supir.
Bu Sarah berjalan ke arah dalam kafe sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
Seorang pelayan menyambut kedatangannya, "selamat datang, maaf Bu apa sudah observasi sebelumnya?" Tanyanya salah satu karyawan kafe tersebut.
"Meja atas nama Bu Sarah Helen Daud Yordan,"
__ADS_1
"Ohh Ibu Sarah silahkan naik ke atas lantai dua, tolong ikuti saya Bu," pintanya karyawan itu.
"Makasih," ujarnya Bu Sarah.
Ibu Sania sudah berada di dalam ruangan khusus yang dipesannya, dia sama sekali tidak mengetahui dengan siapa yang akan dia temui karena, perusahaan yang akan bekerja sama dengannya adalah perusahaan baru berdiri di tanah air Indonesia.
Sania Marwah duduk dengan elegan sambil menikmati kue dan secangkir kopi espreso kesukaannya. Tangannya dengan santai membuka majalah male itu satu persatu. Hingga tanpa disadarinya majalahnya jatuh ke atas lantai ketika pintu itu terbuka dan masuklah seorang pria yang sudah cukup dewasa bisa dibilang sudah memiliki seorang cucu.
"Mas Adam," cicitnya Bu Sania Marwah.
Tatapan matanya terus tertuju pada kedatangan pria yang sempat hadir dalam hidupnya di masa lalu. Laki-laki yang memberikan dia seorang putera satu-satunya yang sangat ganteng, baik hati dan jenius mampu memimpin perusahaannya diusianya yang masih terbilang muda.
"Untuk apa Tuan Adam mencari ku, kita sama sekali tidak punya ikatan dan hubungan apapun itu, jadi saya heran dengan sikapnya Tuan Adam," ketusnya Bu Sania.
Pak Adam yang masih kelihatan awet muda diusianya yang hampir kepala lima itu.
"Maaf sepertinya saya salah masuk ruangan, permisi!" Ucap Bu Sania yang segera meraih tasnya untuk segera pergi dari dalam sana karena tidak ingin berlama-lama berduaan dengan pria yang hingga detik ini masih sangat ia cintai itu.
__ADS_1
Pria yang menjadi cinta pertamanya sekaligus pria yang menorehkan luka yang sangat dalam hingga ia harus merelakan tidak melihat tumbuh kembang putra tunggalnya. Pak Adam langsung menarik pergelangan tangannya Bu Sania lalu memeluknya dengan erat.
"Sania, please jangan tinggalkan aku lagi, Mas sangat bersyukur karena merindukan kehadiranmu, Mas bahagia sekali melihat kamu beberapa hari lalu," imbuhnya Pak Adam Ardian Liem yang masih memeluk tubuh Bu Sania dengan erat.
"Tolong lepaskan saya, karena Anda salah orang saya adalah Sarah Helen Daud Yordan bukan Sania yang seperti Anda katakan sedari tadi," elaknya Bu Sania.
"Saya tidak akan pernah melepaskan kamu lagi, apapun yang kamu lakukan dan katakan saya Adam Ardian Liem mulai detik ini akan menuntut hakku padamu,"
Bu Sania tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari Adam.
"Apa! Hakmu!? Apa aku tidak salah dengar, hak apa yang kamu katakan? Kita itu tidak punya hubungan apapun terus hak apa yang Tuan Adam terhormat maksud?!" Dengusnya Bu Sania.
"Tolong jangan seperti ini, aku sangat mengerti dengan sikapmu Nia, saya sangat memakluminya karena saya pria yang tidak becus, pengecut dan pecundang yang tidak punya sama sekali keberanian untuk mempertahankan dan memperjuangkan hubungan kita dulu, tolong berikan aku waktu untuk memperbaiki semuanya, please Saniaku," ratapnya Pak Adam dalam pelukannya itu.
"Tolong lepaskan saya Pak Adam, niat saya datang kesini bukan untuk berbicara omong kosong belaka tapi, saya datang di tempat ini untuk berbicara masalah bisnis," kesalnya Bu Sania yang mendorong kuat tubuhnya Pak Adam dan segera menetralkan perasaannya agar tidak kembali tertipu dan terperdaya dengan mulut manisnya pria bajingan yang tidak pernah memikirkan kehidupannya itu.
Sania setelah terlepas dari pelukannya Pak Agam segera berjalan cepat untuk pergi, tapi sebelum membuka dan memutar kenop pintu itu, ucapan dari Pak Agam membuatnya harus berhenti.
__ADS_1
"Putraku Arsyad Shafiyyur Rahmany, Saya ingin meminta hakku atasnya dan saya ingin dia mengakuiku sebagai papanya,"
Bu Sania hanya tersenyum sinis," putra! Apa saya tidak salah dengar dia itu bukan putramu atas dasar apa kamu mengklaim kalau dia adalah putramu sedangkan dibelakang namannya bukan nama Anda jadi, tolong dengan sangat buang jauh-jauh perkataan dan harapan Anda itu,"